who are you?

Disini daerah kekuasaanku. Kalau minat silahkan baca.. kalau nggak ..tinggal klik back aja yang tersedia di ponsel kamu. Oh iya, jangan lupa makan yak...

Selasa, 03 Oktober 2017

Cerpen : I love you....

oleh Herninuria




Musim Penghujan masih terus mengguyur kota, lobang lobang dijalanan penuh dengan air kotor yang menggenang. Sedangkan rumput liar semakin hijau dihalaman rumah. 

Sore ini dihari minggu yang ke empat dibulan ke delapan ,Citra menatap nanar percikan hujan yang mengembun dijendela. Didepannya, secangkir kopi panas masih mengepulkan asap  dan ikut menempel dikaca jendela. Tatapan matanya tertuju pada daun talas yang menjatuhkan butiran air hujan diujung daun dengan earphone terpasang ditelinganya, memutar lagu everytime-nya britny spears.

I make believe that you are here
It's the only way I see clear
what have i done
You seem to move on easy

Lalu, setetes air mata jatuh tepat dilayar ponsel. Membuat layar ponsel itu menyala, menunjukan wallpaper bertemakan after Rain. Sepertinya Citra menyukai elemen Air, segala sesuatu yang berhubungan dengannya tidak jauh dari Air, seperti bandul kalungnya yang berbentuk tetesan air yang menggantung di daun talas.

"Gue gak boleh kayak gini.." gumam citra pelan, Jemarinya begitu lihai menghapus air mata dipipi, seperti sudah berkali kali ia melakukannya.

Tapi hatinya menolak, Ia masih ingin menikmati betapa sakitnya merelakan. Betapa perihnya tak dipedulikan, namun ini sudah menjadi pilihan, otaknya kembali memaksa citra untuk tersenyum mengingat kejadian yang indah indahnya saja.

"Sayang, Ada vaselin didepan tuh, ajak masuk!" Suara mama Shinzui terdengar lantang dari dapur, membuat Citra mau tak mau berdiri dan menemui vaselin yang sedikit basah dan menggigil.

"Cit.. !!" Vaselin menubruknya, memeluk citra dengan cepat. Lalu sesenggukan dibahunya.

Citra hanya diam dipelukan vaselin ,seperti patung ditoko toko baju. keras dan tanpa ekspresi. Mungkin, vaselin lupa kalau citra tau kapan saja vaselin berlaku jujur dan kapan vaselin berlaku bohong.

"ayok masuk!" Citra membuka pintu lebar lebar, mempersilahkan vaselin masuk mendahuluinya.

Sambil menyalakan tv, Citra menarik bantal dibelakangnya,"lo kenapa lin ?" tanya citra basa-basi.

Vaselin sedang terisak,rambutnya basah, eyelinernya mulai luntur disekitar mata cantik miliknya, matanya pun memerah dan sedikit bengkak dibagian pelipis.

Karena vaselin tak kunjung menjawab, akhirnya citra berdiri dari duduknya dan melangkah ke dapur,"sebentar gue buatkan minum..!" 

Mama shinzui sedang membuat biskuit, dikelilingi aroma vanilla disekililingnya ketika citra menyeduh secangkir coklat,"Vaselin kenapa sayang ?"

citra mengangkat bahunya,"biasalah mam..anak muda!!" 

"ooh, tapi kenapa ya anak mama koq biasa biasa saja, kamu sudah punya pacar ?" tanya mama zui, tak tepat waktu. 

citra terdiam ditanya langsung oleh mamanya seperti itu,"apa sih mam.. aku gak terlalu fokus ke hal hal yang diluar jangkauan seperti itu!" 

Setelah menarik seloyang biskuit dari dalam oven, mama zui menghampiri putri satu satunya dengan mata terbelalak, " kamu gak salah, bilang tak terjangkau ? anak mama kan cantik!" ucapnya seraya membelai rambut Citra.

"ah sudahlah mam, gam usah dibahas. Aku bawa coklat panas dulu buat vaselin.." mama zui menggeleng tak mengerti, Anak satu satunya itu berlalu begitu saja. Dengan sikap citra yang seolah tak peduli, justru membuat mama zui menjadi tahu, bahwa anaknya sedang tidak baik-baik saja.

⚜⚜

"Cit, Niv.. Nivea selingkuh" ucap Vaselin, gadis itu tampak kacau, berantakan dan sedikit bau. 

Sudah tidak heran melihat vaselin seperti ini, datang padanya disaat dunianya sedang diambang kehancuran. Citra menghela nafas berat, menyandarkan punggunya dengan nyaman di sofa,"Baru dua minggu pacaran, Nivea sudah selingkuh ?" Tanya citra yang di angguki vaselin dengan lesu, "Berarti, Marina beruntung banget dapetin Dove bukannya Nivea.." Vaselin langsung bertampang sebal, meski begitu dia merasa menyesal saat ini. 

"Yang lalu biarin berlalu lah cit, hari ini hariku isn't about her.."

"okay, i know.. i just remembered.."

"thanks sudah mengingatkan betapa gue sudah jahat saat itu," Serga vaselin, nadanya mulai sedingin es difreezernya mama zui.

Citra menarik nafas,"bukan begitu lin.. sorry, gue gak bermaksud memperburuk suasana hati lo. Gue tau, sebetulnya lo tidak terlalu patah hati saat ini.. karena lo sendiri punya nature yang selalu ada buat lo bukan ?" Vaselin kini menatap citra tajam, bagaimana ia sampai lupa tentang citra ?

"Tapi .. gue, gue merasa dikhianati. gue gak selingkuh sama nature..!" vaselin menggigil. 

"iya gue tau, coba gue mau tanya sama lo..boleh ?"

"boleh, tapi setelah gue bersih bersih dan ganti baju dikamar lo.." citra mengangguk. Lalu vaselin berdiri, berjalan menaiki tangga menuju kamar citra dilantai dua. 

"jangan terlalu dingin, karena bisa menyebabkan rasa sakit, ngilu.." Mama zui datang dengan senampan biskuit ditangannya, celemek bergambar saitama masih terpasang ditubuhnya.

"Mam... "

"anak mama tau bagaimana caranya menghargai orang lain bukan ? bersikaplah bijaksana ya.." Setelah menaruh nampan yang berisi biskuit, mama zui membalikan badannya, kembali ke dapur.


⚜⚜⚜


Dari pertanyaan yang diajukan Citra pada vaselin tadi sore, Ia sudah bisa menyimpulkan bahwa Nivea dan Vaselin tidaklah cocok. Bahkan apa yang dirasakan Vaselin sekarang, airmata, dan segala hal yang membuatnya terluka bukan berasal dari Nivea, tapi dari Nature yang tiba-tiba saja menjauh disaat hatinya sedang rapuh. 

itulah mengapa ada ketakutan didalam vaselin, takut kehilangan.

Vaselin tertidur lelap dikamarnya, citra menatap punggung sobatnya itu dengan iba. Vaselin butuh seseorang yang benar-benar mampu dan sanggup menjaganya, menjaga senyum dibibirnya. 

Citra menarik nafas dalam dalam, 'lantas siapa yang akan menjaga bahagiaku ?'

⚜⚜⚜⚜

Rambut Bob nya sudah terlihat rapi, mengkilap bagai batu Aquamarine, dengan sedikit dibubuhi bedak dan lip blam seadanya, Citra sudah lebih cantik dari sebelum dia mandi tadi.

Hari ini mama zui tidak bisa mengantarnya sekolah, karena itulah ia masih berdiri dipinggir jalan ingin menyebrang untuk mencapai halte yang sudah berada didepan matanya.

Dan pada saat kaki citra melangkah ditepi trotoar, di antara beberapa orang calon penumpang matanya menemukan Gluta bersandar di tiang penyangga halte.

Gluta, teman sekelasnya dulu ketika mereka masih kelas X. Dan kini harus berpisah karena Gluta mengambil kelas Ips bersama Nivea ,Nature dan Kris.

Dia tersenyum tipis melihat citra menghampirinya, dengan senyum canggung citra menyapanya.

"Hai Ta.."

Gluta berdiri tegap dari sandaran,"eh hai cit.. tumben naik angkutan ? bangkrut ya ?"

"Haish sembarangan lo !!" spontan citra menonjok lengan gluta lebih keras dari biasanya.

"nyokap gue lagi ada urusan, lo sendiri ? mana motor lo ?" gluta cengar cengir sendiri, membuat citra curiga.

"gue lagi kepingin naik angkutan aja, nemenin lo!"ucap gluta sekenanya.

citra memutar bola matanya tak menyangka akan di gombali seperti itu oleh gluta,"Alah modus lo, mustika mau dikemanain hah ?"

"just kidding baby, mustika selingkuh lagi..."ucap gluta tanpa beban, anehnya citra tidak menemukan apa-apa dimatanya, hanya pancaran semangat yang kini menular padanya.

"lagi ?"

gluta mengangguk,"iya, dan gue ngebiarin dia begitu aja. bodoh ya ??" 

sebuah mobil bus berhenti didepan mereka, yang akhirnya membawa mereka ke sekolah tanpa ragu-ragu.

didalam mobil, citra terdiam lama begitu juga dengan gluta yang asyik mengemut permen lolipop sprite. 

"kenapa lo begitu santai padahal diselingkuhi mustika berkali kali ?"tanya citra kemudian.

Gluta tampak berpikir sejenak tapi tampang seriusnya malah terlihat konyol dimata citra, alhasil lengan gluta harus menerima satu tonjokan lagi dari citra.

"gue serius ta,"

"Iya gue juga serius!"kata gluta sambil meringis.

"gue lagi mencari alasan yang kuat mengapa gue bisa sesantai ini di selingkuhi cewe gue satu satunya.."katanya.

"mungkin karena terlalu sering kali ya cit..?"

yang ditanya mengangkat bahu, "tidak tau!!" 

"iya kali.."tambah citra ,lalu berteriak ke tukang supir sedikit lebah kencang,"SMA unilev bang !!"

Dan mobil bus berhenti tepat di sebrang bangunan SMA, citra turun diikuti gluta dibelakangnya. Semua siswa menatap kedatangan mereka dengan tampang kepo seperti biasanya, ketika memasuki gerbang sekolah dan berjalan dipelataran yang pavingnya basah dan berembun, citra menangkap sosok Marina turun dari mobilnya bersama.. Dove.

Meski sudah lewat sebulan lalu, entah mengapa Citra belum bisa move on dari lelaki itu, Nasib orang yang jatuh cinta sendirian memang seperti ini, terluka juga sendirian. 

"temen lo tuh, malah bengong.."Gluta menyikut lengan citra, menyadarkan gadis itu dari tatapan kosongnya pada mobil Marina yang sudah ditinggalkan pemiliknya.

"Iya gue tau, gue duluan ya..! bye.."citra berbelok, menaiki undakan kecil menuju kelas XI Ipa, yang harus melewati koridor ruang guru Dan Tata usaha. Gluta sendiri mengambil jalan lurus dan berbelok setelah gedung ruang guru habis di ujung ,lalu melintasi lapangan upacara menyusul Nivea yang berjalan sendirian.

"Pagi Cit.." Sapa Dove ketika Citra datang dan menaruh tas diatas meja.

"pagi dove, pagi mar..." 

Marina mengangguk tampak lebih segar dari biasanya, tatapan matanya pun dipenuhi cinta dan kebahagiaan, citra tersenyum miris. Harusnya ia bahagia karena pengorbanannya tidak sia-sia.

Dove berdiri dari duduknya, mempersilahkan citra duduk,"Kalo gitu gue ke kelas ya Mar, cit.." 

kedua gadis itu mengangguk bersamaan, tapi Marina menambahkan kata-kata lain yang sulit untuk tidak didengar citra.

"semangat Hon.." teriak Marina dari kursinya, ketika Dove sudah berada di ambang pintu. 

Huufffh.

"Seneng ?" tanya citra yang diangguki Marina dengan antusias, senyumnya masih terus mengembang ceria,"syukurlah.."

"Makasih ya cit.. Lo selalu ada buat gue!" Marina merangkul citra penuh rasa senang,"btw.. lo gak ada gitu naksir cowo ?"

Pertanyaan Marina menggantung untuk beberapa saat, Citra bingung harus menjawab apa, Tapi sepertinya Marina begitu penasaran tentang hal ini..

"Nggak.."ucap citra.

Marina menggeleng tak percaya,"gak mungkin, masa dari ratusan cowo SMA gak ada gitu yang nyantol dihati lo..!" Marina menunjuk dada citra.

Marina bahkan tidak tau bahwa sebetulnya didepan telunjuknya itu ada yang berdebar hebat saat melihat kekasihnya,lelaki yang bersamanya. Seandainya suatu saat Marina tahu, kira kira apa yang akan marina katakan pada citra ?

"ehmm.. Ada sih kalo gue mau jujur, tapi gue mau boong aja, biar lo kepo !!"  ucap citra seraya membekap mulutnya supaya tidak tertawa keras-keras. Dan mungkin itulah ciri khas citra, tertawa dibalik telapak tangannya sendiri.

Marina mencubit lengan citra gemas, gadis itu cemberut disampingnya sambil terus menggerutu tak jelas.

Suasana kelas mendadak hening, rupanya guru bahasa indonesia sedang berjalan beberapa meter lagi. Pantas saja Alba pura pura sibuk dengan buku tebal didepannya, cowo nakal nomor satu dikelas XI yang digosipkan naksir bu wardah guru bahasa indonesia SMA Unilev.

"Selamat pagi.." sapa bu wardah, guru muda ini tampak berkilau di antara para murid yang bau amis. Bu wardah luar biasa cantik, bertubuh ideal, dan yang paling penting bu wardah orang yang bijaksana. Tapi tentu saja bukan itu yang membuat Alba ngarep banget bu wardah meliriknya, betis bu wardah bagai biji padi a.k.a sexy.

"pagi buuuuuu..."balas murid, dan tentu Alba berteriak paling lantang.

bu wardah mengambil selembar kertas lalu menaruh setumpuk buku paket dimeja. Ia berdiri dengan anggunnya didepan kelas, sambil sesekali membetulkan letak kacamatanya yang sering turun ke hidung,"Hari ini ibu tidak akan mengajarkan apa apa pada kalian, jadi simpan dulu saja buku bukunya..."katanya mengintrupsi.

"Laahh terus mau ngapain dong ,bu ?" itu adalah Alba, yang mendadak imigrasi dari kursi belakang menjadi paling depan.

bu wardah sudah mengerti tabi'at muridnya yang satu ini,"Ibu ingin mencari pemeran untuk drama minggu depan.."katanya. 

"Drama ? dalam rangka apa bu ?" Tanya Marina penasaran.

"iya bu, dalam rangka apa ? koq tumben sekali bukan Mrs. Zinc ?" Kali ini mustika yang bertanya, sambil berbisik bisik dengan teman sebangkunya joice.

Bu wardah tersenyum tipis,"Mrs. Zinc kan cuti melahirkan, jadi untuk sementara ibu yang membimbing Drama. Untuk berpartisipasi konser amal yang di adakan pihak sekolah, selain band dan penyanyi luar, kepala sekolah meminta ibu untuk membuat drama juga.."

Semua murid ber-O ria, termasuk Alba yang sedari tadi menganga.

"Wah asyik dong.. koq gak ada berita konser amal ya ? dadakan atau bagaimana ya bu ,kalo boleh tau ?" tanya joice. 

"bukan dadakan, memang sudah direncanakan dari jauh hari. Tapi, tenang aja.. ibu sudah mengkondisikan Tema apa yang bagus untuk drama nanti.." kata bu wardah.

"nah sekarang, yang ibu panggil namanya  maju ke depan ya !" titah bu wardah. Semua orang berharap-harap cemas, termasuk citra dan marina. 

Citra mungkin lebih berdebar-debar, karena dia menyelipkan satu harapan yang tidak pernah dia semogakan sebelumnya. 

"Baik, semua diam dan dengarkan baik-baik.. ibu tidak akan mengulang dua kali !" 

Hening.

"ehmmm.. Alba !" Alba langsung berdiri tegap sambil memukul mukul dadanya ala kingkong kesenengan.

"Citra !!" 

Citra tersenyum tipis, lalu berdiri dari duduknya mengikuti Alba. 

"joice !! eh joice kamu jago nyanyi kan ?" 

Joice mengangguk,"iya bu..!" katanya, dan langsung di acungi jempol oleh bu wardah. 

"dan.. oh, dari kelas ini hanya alba ,citra dan joice.. yang lain nanti nyusul kalo masih ada lowongan !" 

Sisa murid yang tidak terpilih langsung berisik protes dan mengeluh, citra dan marina saling pandang ada kekecewaan dimata Marina yang ditunjukan pada Citra.

"ko si alba sih, mentang mentang dia paling depan"

"iya gue juga gak di ajak, citra kan dia pemalu. ya gak sih ?!"

"tau ih, joice juga gak jago jago banget nyanyi nya.."

Mendengar semua keluhan itu bu wardah   mengangkat tangannya tinggi-tinggi.

"Tenang semuanya !" Tegas Bu wardah, kelas langsung sunyi senyap,"ibu tidak pilih kasih.. hanya saja, ibu sudah berunding dengan beberapa guru dan ibu membutuhkan karakter seperti yang ada pada Alba, citra dan joice. Supaya acting mereka lebih alami.." tutur bu wardah.

"Nah untuk hari ini, ibu hanya akan memberi kalian tugas. Membaca novel klasik di perpustakaan, dan buat resuminya.. ibu tunggu nanti jam istrihat pertama dikantor. Dan kalian bertiga..ikuti ibu..!"katanya.

Setelah itu, Alba ,citra dan joice digiring keluar. Bu wardah membawa mereka ke Aula yang sudah diisi beberapa siswa dari kelas lain.

ketika dia masuk paling akhir, Citra menemukan Gluta yang melambaikan tangan padanya sambil tersenyum lebar, Dove juga ada disana dia tampak cuek dengan kedatangan citra yang bisa dikatakan citra adalah teman dari kekasih dove, mungkin Dove berharap yang datang adalah Marina. Juga beberapa orang lainnya yang ia kenal, Nivea ,dan Kris. Mereka duduk melingkar diatas kursi, memegangi kertas.

"semuanya sudah kumpul kan ?" tanya bu wardah, Guru cantik itu mengambil kursi paling tengah diantara para murid. 

citra duduk ditengah tengah bu wardah dan joice, berhadapan dengan Dove dan gluta disebelahnya.

"Ini untuk kalian !" Bu wardah memberi beberapa lembar kertas hasil photocopy-an.

citra hampir tersedak membaca judul Naskahnya, Drama ini berjudul Raja Lapuk. 

yang isinya menceritakan tentang seorang Raja bernama Bawela disuatu daerah yang tidak kunjung menikah. Sehingga membuat Keluarga kerajaan cemas, dan akhirnya berinisiatif untuk mencarikan permaisuri melalui sayembara yang disebarkan oleh sang patih. 

"Baiklah.. Kalian sudah membaca sinopsisnya kan ?" 

"Sudah bu..." seru murid bersamaan.

"Baiklah ibu akan pilih siapa disini yang akan berperan sebagai Raja Lapuk.. Gluta, kamu siap ?" 

Gluta langsung berdiri senang,"Tentu saja ibu.." katanya seraya menghormat ala kerajaan, membungkuk sedemikian bungkuk dengan tangan kiri dilipat kebelakang sedangkan tangan kanannya didepan perut.

"bagus. Dove kamu sebagai maharaja, ayah dari Raja bawela yaitu gluta.." Dove mengangguk.

"Mmm.. Kris, kamu sebagai ibu suri, ibu dari raja bawela..!" 

Kris berdiri dari duduknya, bertukar tempat dengan Alba.

"Dan Alba kamu sebagai patih !" kata bu wardah, Alba mengangguk setuju saja.

"Citra kamu sebagai Caroline springbed.."

"joice sebagai Shopia la jubek.."

"dan Nivea.. Kamu sebagai ayah dari Caroline.."

Semua sudah setuju dengan pembagian perannya bu wardah, Dan citra sendiri menelan ludah susah payah membaca dialog carolline springbed, ternyata perannya jauh dari karakter asli citra.

Citra kira, bu wardah akan membuat drama tentang romeo and juliet ,cinderella, atau beauty and the beast jika perlu, Drama yang memiliki unsur romantismenya. Ternyata jauh sekali dari bayangan.

"jadi, setiap Hari kita latihan ya.. sepulang sekolah. Ingat ,hafalkan dialognya.. Tapi kalo menurut kalian ada yang tidak sesuai , kalian bisa ganti atau improv saja.. ! Nah, ada yang ingin kalian tanyakan ?" bu wardah mengedarkan pandangannya pada semua murid di aula itu.

"hmm bu.. Ini aku gak salah ya, peran carolline ?!" Tanya citra.

bu wardah membaca langsung kertas ditangannya sekilas," nggak cit.. berusaha saja ya !" 

akhirnya citra mengangguk saja. Ia tidak mau banyak protes, masalahnya sedari tadi Kris menatap tak suka pada citra.

⚜⚜⚜


Sepulang dari latihan sore ini, Citra di antar pulang gluta. Bukan hanya hari ini saja, tapi lima hari kebelakang mereka sering pulang bersama. Tadinya, Citra berharap Dove-lah yang akan menawarkan tumpangan padanya, namun Marina tidak pernah absen dari sisi Dove, setiap sepulang sekolah Marina akan duduk manis menonton mereka latihan.

Citra menarik nafas panjang, kapan dia bisa pulang dengan seseorang yang special baginya. Biarpun gluta selalu bersikap baik dan perhatian padanya, tetap saja dia pacar orang lain. Terlebih, kemarin sore mustika menghampirinya, menanyai berbagai pertanyaan dan menuduhnya selingkuh dengan gluta. Rupanya, Joice teman setia mustika dan bermulut ember.

Gluta mendadak menghentikan motornya, membuat tubuh Citra tidak seimbang dan mendorong tubuh gluta kedepan,"Aduh, sorry ta.. gak sengaja!" 

"santai aja, gue seneng malah..!" ucap gluta sambil cengar cengir, dan cubitan paling menyakitkan lagi-lagi harus dia rasakan.

"Awwwww.. galak banget si non, orang becanda juga serius banget!" 

"Lo sih becandanya gak lucu.."

"iya deh sorry, sorry... lo mau makan dulu gak ?" Citra menggeleng, lalu menepuk pundak gluta untuk melajukan kembali motornya.

"kenapa ?" tanya gluta.

"gak apa apa, gue gak laper!" balas citra, padahal dari tadi sudah lapar sekali. Itulah kenapa mood citra jadi jelek, ditambah hari ini latihannya kacau sekali.

"turun !" Citra menurut, lalu mengedarkan pandangannya ke sekitar. Mereka berhenti didepan pintu masuk sebuah taman bermain. 

"koq kita berenti disini ? udah sore tau gue pengen pulang!"

"Ayolah kesini dulu sebentar, kita makan ketoprak noh .. enak loh!" Gluta menarik lengan citra dan mengajaknya duduk, dikursi panjang penjual ketoprak.

"bang ,2 !"

citra memutar bola matanya," so tau banget sih, gimana kalo gak gue makan coba. kan mubazir.."

"pasti lo makan, keliatan banget muka lo laper parah!" kata gluta, meyakinkan.

citra hanya mendengus sebal membalasnya, gluta selalu mengerti yang tidak bisa dijelaskan oleh lisannya. Anehnya , kenapa lelaki sebaik gluta harus di selingkuhi ?

"cit, lo suka ya sama dove ?" 

Citra tertawa hambar mendengarnya,"hufffh.. mulai deh! ya nggak lah, dove kan pacar temen gue.."jawab citra enteng. Selama ini dia bisa dikatakan berhasil menyembunyikan perasaannya dari orang lain.

Gluta mengacak puncak kepala citra,"dasar tukang boong!" katanya sambil tertawa miris.

"eh, apa sih ? gue gak bohong kali, emang Dove pacarnya Marina.." kata citra sewot.

"kalo itu gue juga tau kali cit..yang pengen gue pastikan adalah, lo suka sama dove kan ?" lagi, gluta bertanya, menegaskan, menatap mata citra lekat lekat begitu pun dengan citra yang balik menatapnya. 

"Jangan Kepo !" 

"aduh please deh, gue kan temen lo. masa lo gak mau jujur sama gue ..!!" citra mendecih sebal, dan ketika ketoprak pesanannya sudah didepan mata ia tidak mendengar pertanyaan tolol gluta lagi.

Tidak mungkin, persembunyian citra selama ini malah diketahui orang lain, gluta pula. Apa karena selama lima hari ini ia sering melihat dove jadi kebablasan. sampai sampai gluta saja tau apa yang dia rasakan ?

"cit...?!"

"hmm.."

"suka kan ?"

pertanyaan gluta tidak mendapatkan jawaban, malah sebuah jitakan keras di ubun-ubunnya.

"duh galak banget si.."


⚜⚜⚜


"sejak kapan lo suka sama dove cit ?" pertanyaan itu lagi, ditengah malam seperti ini. Citra menghela nafas berat, vaselin untuk kesekian kalinya menginap dirumah citra. 

"please. Jangan lo bilang pada marina. gue gak mau persahabatan kita hancur gara gara perasaan gue yang gak tau diri ini.." vaselin tertawa ,sambil terus membolak balik buku diary milik citra. 

"Hmm, Jadi lo rela gitu aja orang yang lo sayang jadian sama temen deket lo ?" 

"pada saat itu, Marina juga merelakan Nivea jadian sama lo kan ?" citra tak mau disudutkan. Terlebih jika itu menyangkut tentang marina.

Vaselin menarik nafas panjang, sadar jika apa yang di alami Marina di alami juga oleh citra.

"oke, Intinya lo lebih sayang sama sahabat lo dari pada sama dove.." citra terdiam. 

"rasa sayang gue buat marina sama dove itu hampir sama besarnya. Tapi, Dove menyayangi Marina yang pada saat itu dia sangat membutuhkan kehadiran dove. Lagian, siapa sih gue ? gue bahkan tidak pernah ada dalam pikiran dove, gue hanya figuran dalam kisah hidupnya. Dan gue juga sudah memutuskan untuk membiarkan perasaan ini hilang.." citra menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi belajar. 

"Tapi, sepertinya keputusan itu justru membuat gue malah semakin genit. apalagi setiap hari selama seminggu ini kami bertatap muka, gue bahkan tidak bisa fokus latihan jika dove berada diruangan.."

"terus ? mau lo gimana sekarang ? apa gue harus putus sama dove ?" Tanya sebuah suara, di ambang pintu kamarnya. 

Citra terperanjat ,kaget luar biasa. Begitu juga dengan vaselin yang sedang tiduran dikasur citra, mereka berdua terlonjak kaget. 

"Ma..marina.. lo sejak kapan disitu ?"citra bergegas menghampiri Marina, yangsudah berkaca kaca menatapnya. 

"Mar, gue, gue gak bermaksud seperti itu.. please jangan marah" 

Marina menepiskan tangan citra yang menjulur ingin memeluknya,"Gue kira, gak akan ada masalah lagi antara kita .." isak marina ,"sorry, gue gak tau kalo lo suka sama dove..sorry cit.." 

"kenapa lo gak bilang sejak awal ? kenapa lo baru ngomong setelah gue menyayangi dove lebih dari apa yang gue rasakan sebelumnya, kenapa gak lo biarkan gue patah hati saat itu ? "cecar Marina, citra terdiam malu pada sahabatnya. 

"Mar, gue.. sorry Mar.."

"Gue akan melepas dove buat lo cit.. kalo lo mau !" kata Marina disela isak tangisnya.

Citra menggeleng lemah,"tidak perlu.. Kalian saling menyayangi, kalian sudah saling memiliki. Memang sudah saatnya buat gue, untuk melepaskan apa yang sejak awal tidak pernah gue miliki ! gue yang harus minta maaf sama lo Mar, karena sisi gue yang lain selalu mengharapkan hal lebih pada tuhan.."

"Cit.. gue sayang sama lo. gue gak bisa ngebayangin ,hati lo patah setiap hari.."

"Gue baik baik aja mar.. udah jangan sedih! gue baik baik aja.." 

Pipi marina sudah basah air mata, tapi citra dengan sekuat tenaga menahannya untuk tidak menangis didepan marina, yang lebih parah Vaselin terisak isak dibelakangnya, memeluk buku diary milik citra yang sedari tadi belum selesei dibaca.

"Asli, drama kalian lebih menyayat hati dari pada drama korea, njir..!!" ucap vaselin, seraya mengusap airmatanya.

Citra dan Marina tersenyum geli, "lo maafin gue ?" tanya Marina.

citra mengangguk. Ia memang harus merelakan, membicarakannya dengan Marina agar ia tenang. 

"jadi lo ada apa datang kesini malem-malem ?"

Marina menepuk dahinya,"gue lupa ! ini stocking yang mau lo pinjem, takutnya besok gue telat datang..."

"makasih ya Mar.. lo pulang sama siapa ?" tanya citra lagi.

Marina tidak menjawab, ia hanya tersenyum lalu membalikan badannya keluar kamar. 

Lalu, citra berlari ke balkon. Melihat Dove bersandar pada mobilnya menunggu Marina dengan sabar, dan ketika Gadisnya datang ia tersenyum lebar, membukakan pintu untuk Marina.

setelah setiap hari terjadi retakan setiap sudut ,Malam ini hati citra sudah hancur berkeping keping. Di atas sini, dibalkon kamarnya, citra menumpahkan rasa sakit hatinya dengan deraian air mata yang tumpah ruah dikedua pipinya. Menangis tanpa suara ,tangannya memegangi dada yang serasa semakin sesak. 

Lalu, butiran butiran bening berjatuhan dari langit. Perlahan lahan, saling susul menyusul, berlomba lomba untuk jatuh ke tanah.

vaselin mengelus dada,"ternyata citra bisa nangis juga.. !"


⚜⚜⚜


Ketika jam menunjukan pukul 6 pagi, Citra sudah siap berangkat ke sekolah. Saat ini dia tengah menunggu vaselin yang belum selesai mandi sambil menyantap nasi goreng buatan mama zui. 

"LIIIIIINNNNNN !!! CEPETAN DONG .." teriak citra, yang juga dibalas teriakan dari lantai dua.

"IYAAAAA BENTAAAARR LAGIIII KOQ...!!!"

"LAAAMAAA NIIIH..."

Mama zui datang dari dapur membawa sepoci susu panas,"aduuh..! kalian ini berisik sekali sih.."

"itu tuh mam, vaselin bikin lama aja deh.."

Mama zui rupanya bingung juga harus berbuat apa, karena itu ia diam saja, menarik kursi lalu ikut sarapan bersama citra.

Lalu tak lama, suara deru motor berhenti didepan rumah citra. Seorang lelaki bertampang ceria, dengan jaket baseballnya melangkah pasti dan mengetuk pintu,"Permisiiiii.. citraa.. hellooow...!!"

Citra tersedak nasi goreng yang baru saja  masuk ke mulutnya.

"siapa itu ?" mama zui berdiri untuk membukakan pintu, namun citra sudah tau suara milik siapa yang meneriakinya dipagi buta seperti ini.

"biar citra aja yang buka mam..!!" mama zui mengangguk, kembali menikmati sarapannya.

Didepannya kini citra disuguhi sederetan gigi berpagar yang nyengir lebar selebar-lebarnya, "Good morning princess carolline springbed..!" sapanya sambil terkikik geli, gluta membungkuk layaknya seorang pengeran menghormati tuan putri.

"Good morning too Raja Lapuk.. selamat datang dikediaman Kami !" Balas Citra tak mau kalah, yang disusul gelak tawa gluta didepannya.

"ayok berangkat !" ucap gluta kemudian, Lelaki itu menarik lengan citra sembarangan.

"eeeh , aku lagi nungguin vaselin lagi siap-siap!" pekik citra seraya melepas pegangan gluta dilengannya.

Gluta mengeluh,"yaaahh gue berangkat sendiri dong. ayolah berangkat tar telat lo ! biar aja vaselin berangkat sendiri.."pinta gluta maksa.

"enak aja. dia kan temen gue.."

"terus gue bukan temen lo gitu ?" tanya gluta kecewa.

citra jadi gelagapan sendiri,"ya temen guelah, cuma kan vaselin ada dirumah gue sejak kemaren.."

"oh jadi gue harus nginep dulu nih biar bisa berangkat bareng lo ?!" goda gluta, yang langsung dihadiahi cubitan dilengannya.

"duh ,hobby banget si cubit-cubit gue.. gemes ya ?"  citra semakin memutar cubitannya.

"berenti gak lo godain gue,"ancam citra. 

di ancam seperti itu gluta semakin jadi menggoda citra sambil cekakak cekikik dan mengadaw kesakitan.


⚜⚜⚜

Setelah tawar menawar sengit antara gluta dan vaselin yang sama-sama ingin berangkat bersama Citra, akhirnya dimenangkan oleh gluta. Karena pada saat Citra akan memilih diantara gluta dan vaselin, mama zui datang membawa kunci mobil keluarga.

"vaselin biar mama yang antar.. kamu berangkat sama gluta saja sana..!!"katanya.

walhasil, saat ini citra sudah nangkring dimotor gluta dengan helmet terpasang dikepalanya. Motor besar yang hampir sama dengan milik Nivea ini, melaju sedang diantara ribuan pengendara lain. bermavet macetan.

Lalu ,ketika membelok di area yang sudah jauh dari jalan raya gluta memelankan laju motornya.

"cit.. ?" 

citra yang sedang fokus mengingat dialognya buyar oleh panggilan gluta,"apa ?" 

"gue udah putus loh sama mustika !" ucap gluta tak tau malu.

citra berpikir sejenak,"loh kenapa ?"

"ternyata selama ini, mustika selingkuh sama Nivea. Dan gue sadar, gue emang gak berharga buat dia.."

citra mengelus pundak gluta lembut,"sabar ya..!"

"biasa aja sih, lagi pula gue udah seneng bisa boncengin princess carolline springbed.."celetuk gluta sekenanya.

"Apaan sih lo..! cepetan ah, tar kita telat lagi.." 

iya, gluta dengan sengaja melajukan motornya sangat sangat pelan, kalau saja ada bebek dijalan raya sudah pasti keduluan para bebek bebek itu.

"jadi, lo mau kan tiap hari diboncengin gue ?" 

"apaan sih lo ta, lo mau jadi supir gue maksudnya ?" tanya citra basa-basi. 

gluta menggeleng ,"ya bukanlah, emang gue tukang ojek..?" katanya, tak tau bahwa gadis yang dibelakangnya kini sedang tersenyum, berdebar debar, menunggu...

"I love you cit.. !" 

kalimat itu bukan pertanyaan yang membutuhkan jawaban. Tapi sebuah perintah, tangan kirinya ia lepas dari stang, menarik lengan kiri citra agar gadis itu mau memeluknya.

"eh, gue kan belom jawab!"

"gue gak minta jawaban dari lo cit..udah jadi pacar gue aja ! gue lope lope sama lo.."katanya maksa, dan entah kenapa citra merasa senang. 

citra tidak tau harus berkata apa, untung saja gluta mengerti. Ia tidak bertanya ,tapi langsung memutuskan. sehingga citra tidak perlu berpikir, setelah menangis semalam bersama vaselin, menumpahkan sesak dihatinya, citra lumayan plong! 

jadi ,ketika gluta datang dan menggodanya, selalu menciptakan keceriaan setiap harinya, citra tau bahwa gluta lah yang dia butuhkan. Meski tidak bisa dipungkiri, hingga saat ini hati citra masih suka berdebar ketika melihat dove.      Namun, kali ini debaran yang sama dan jauh lebah besar ia rasakan untuk gluta. 

kini citra percaya, jika Obat yang paling manjur untuk orang yang patah hati itu memang jatuh cinta lagi. 


⚜⚜⚜

vaselin melamun di jok belakang, ketika ia mengetahui bahwa Nivea selingkuh dengan Mustika teman sekelasnya, vaselin sengaja datang ke rumah citra untuk menginap. Ingin menceritakan hal ini pada sahabatnya itu, namun apa yang ia temukan jauh lebih penting. 

sebuah buku diary menyembul dari bawah bantal yang sering dipakai citra tidur, ia tau bahwa ada hal yang tidak ingin citra ceritakan pada orang lain selain memindahkan beban pikirannya pada buku ini. 

jadi, vaselin mengambilnya.. 

membacanya halaman demi halaman, sampai akhirnya ia tahu apa yang terjadi pada sahabatnya. 

vaselin melupakan masalahnya.. 

Dan kini, ia hanya bisa melamun. Tentang bagaimana kelanjutan kisahnya bersama Nivea... 

Karena vaselin sejujurnya masih menyayanginya, mengharapakan Nivea datang.. 

Lalu, ponselnya berdering. Sebuah panggilan dari nature, teman yang menghilang semenjak beberapa hari lalu...





Selesai.

























Tidak ada komentar:

Posting Komentar