who are you?

Disini daerah kekuasaanku. Kalau minat silahkan baca.. kalau nggak ..tinggal klik back aja yang tersedia di ponsel kamu. Oh iya, jangan lupa makan yak...

Senin, 02 Oktober 2017

Cerpen : Jadian Yuk...!!!

oleh Herninuria


Tepat dimusim kemarau terakhir tahun ini, Marina menginjakan kakinya dipelataran sekolah, di paving kering yang tertutupi daun-daun mahoni kemerahan ia melangkah. Memasuki pelataran sekolah dengan perasaan senang, walau begitu ia hanya bisa mengekspresikannya lewat sebuah senyuman tipis.

Setelah libur panjang selama dua minggu ke belakang, rasanya rindu sekali pada sekolah ini, pada teman temannya dan juga pada guru-gurunya yang harus Marina katakan terpaksa dia rindukan. Namun, ada yang lebih ia rindukan, si murid model iklan shampo. 

Entah sejak kapan Marina menjadi hobby sekali menatapnya lama-lama. Padahal, sering kali citra mengomelinya tentang hal ini. bahwasannya, menatap lawan jenis lebih dari lima menit itu haram,apalagi jika disengaja plus membayangkan hal hal yang tidak tidak.

Tapi, Marina hanya ingin menatapnya itupun dari jarak pandang lima meter. Yah, sejauh itulah dirinya bagi dia.

Marina tersenyum miris jika mengingat hal itu.

Lalu, sebuah motor besar melintas didepannya, membelok didekat pohon mangga dan parkir disana. Marina mengambil langkah sepelan mungkin, menikmati aroma parfum milik si pengendara. 

Lagi-lagi Marina tersenyum, kali ini dalam hatinya. ia perhatikan lelaki itu dari jarak sejauh ini, rasanya sudah hafal sekali gerak geriknya.

Marina berbisik dalam hati, 'sebentar lagi Dia akan menaiki tangga',

dan benar saja, lelaki itu berjalan menaiki tangga sambil memainkan ponselnya ditangan.

'Lalu melintasi lapangan upacara', bisiknya lagi pada dirinya sendiri. 

lelaki itu melintasi lapangan upacara, sedikit berlari, menggoyangkan rambutnya yang panjang dan hitam. Kemudian tersenyum pada seorang gadis  yang menyongsongnya datang.

"Udah puas liatinnya ?" Sebuah suara menyadarkan Marina dari lamunannya.

Citra menepuk pundaknya lembut,"jangan lama-lama!" katanya, membuat Marina kikuk sendiri.

"apa sih!?"

Citra adalah satu satunya orang yang bisa dengan mudah mengetahui tingkah laku Marina. Dia bahkan tahu segala hal yang sengaja Marina sembunyikan dari dunia. Entahlah, mungkin mata Marina memancarkan segala Hal yang tersembunyi didalam hatinya.

"masuk yuk! lama lama disini pegel tau,"

Marina nyengir lebar, padahal dalam hatinya dia malu setengah mati pada Citra..

"Lo serius suka sama dia ?" Kali ini vaselin yang bertanya, mereka sedang berada dikelas. Rupanya citra telah mendeklarasikan perasaan Marina untuk si cowo tadi pada vaselin juga.

Gadis cantik itu tampak membulatkan matanya setengah tidak percaya, seraya duduk diatas meja tepat didepan Marina yang sedang balik memandangnya.

Marina mengangguk pelan, dikelas ini bukan hanya mereka bertiga, ada beberapa gelintir murid yang sedang menyalin tugas fisika. 

biarpun keadaannya tampak tenang, tapi suara vaselin yang nyaring membuat mereka menengadah ,menatap mereka bertiga dengan tampang kepo.

"O my lord!!" pekik Vaselin tak percaya,"Dia itu jelek!" bisik vaselin yang tetap saja terdengar seisi kelas ini. 

Demi bintang bintang dilangit, Marina malu sekali. 

"apa sih lin, jangan ngaco deh!" Marina akhirnya terpancing juga, berani sekali vaselin mengatai pujaan hatinya ,jelek.

Citra sekuat tenaga menahan senyum, pasalnya ia-lah yang menyemangati Marina untuk memperjuangkan perasaannya. Yah, meskipun tidak terlalu mencolok. Tapi Citra berhasil membuat Marina percaya diri. 

"Lagi pula ini kan hanya sekedar mengagumi saja koq,"ucap Marina, sadar semua mata para pencuri tugas memandangnya.

"ampun marinaa, mending juga nature yang udah ketauan suka sama lo, udah baik ,ganteng, pinter lagi! kurang dia apa coba ?"

"tapi gue gak suka lin !"

"udah deh lin, biarin aja sih marina sama perasaannya. lagian kan dia bilang menganggumi aja, toh nature pun gak ada kejelasannya kan?" Citra ikut bersuara, yang langsung dipelototi vaselin. Rupanya, Citra sudah salah menceritakan hal ini pada vaselin.

"pokoknya gue gak mau lo suka sama dia ! Titik" vaselin mengakhiri pembicaraan, karena setelahnya dia langsung turun dari meja dan keluar kelas dengan langkah cepat.

Marina dan Citra saling pandang, vaselin memang sering bertingkah menyebalkan dalam hal apapun. Tapi sikapnya kali ini lebih mendominasi, Marina jadi berasumsi sendiri tentang vaselin, apa mungkin vaselin juga menyukai Nivea ? 

Lelaki yang Marina sukai, kagumi, adalah Nivea.


⚜⚜⚜⚜


Sejak dua hari yang lalu, vaselin tidak menyambangi kelas Marina lagi, gadis itu tiba-tiba menjauh. Dan Marina mendapatinya di kelas Nivea, hari ini Marina kebagian tugas menarik infak dari  setiap kelas. 

Nivea tengah duduk di bangkunya sembari menulis dibuku catatan--entah apa. Sedangkan vaselin mengobrol dengan Kris, yang ia tahu cewe yang tengah dekat dengan Nivea akhir-akhir ini. 

"Selamat pagi semuanya!" Olay si ketua Rohis berucap lantang disisinya,"Mohon perhatiannya sebentar !"Sambung Olay, Barulah kelas XI Ips ini menatap mereka berdua, seperti yang telah mereka ketahui, uang recehan bolehlah mereka sisihkan untuk infak seminggu sekali.

"Seperti yang sudah kita ketahui, setiap hari jum'at kita rutin menarik infak dari teman teman semua ,sesuai kemampuan masing masing! " Olay bercuap-cuap seperti hari jum'at lainnya, yang Marina yakini kalimatnya ini Olay copy pasti setiap minggunya.

"Mar, Kamu ke sebelah sana !" tunjuk Olay ke arah pojok kanan, vaselin dan kris langsung berbisik bisik satu sama lain.

sambil membawa kardus kecil, Marina menadahkannya pada setiap orang yang dilewatinya. Dan sampailah di bangku yang vaselin duduki, Marina berbisik pelan.

"Lo kenapa?" Vaselin mengernyit, bibirnya terangkat ke atas sebelah.

"seperti yang lo liat" balas vaselin seraya menyikut kris, Marina dibuat tidak mengerti oleh vaselin. Apa maksudnya mendekati kris seperti ini ?

Lalu, kris menarik lengan Marina kasar hingga tubuh Marina sejajar dengannya,"Pasti lo ngarep banget ya ke sebelah sana !" Kris mengisyaratkan tunjukannya dengan mata. Menunjuk Nivea yang anteng dengan buku catatannya.

Pipi Marina merona merah, malu, kesal. Marina mendelik pada vaselin yang sedang tertawa hambar dibangkunya.

"Baiklah teman-teman, terimakasih untuk pagi ini. Selamat belajar !" Ucap Olay, kemudian gadis mungil itu menggiringnya keluar, dengan bisikan bisikan yang tidak Marina hiraukan.

Di ruang osis, Marina melamun sendirian.  Rasanya malas sekali mengikuti pelajaran hari ini, Citra beberapa kali mengirim pesan, menanyakan keberadaannya. Ponsel itu tergeletak begitu saja didepannya, dimeja panjang khusus rapat osis.

Hening.

Namun, dari kejauhan terdengar teriakan para murid didalam kelas mereka. Sebetulnya Marina sendiri tidak begitu yakin dengan perasaannya yang ia yakini hanya sekedar mengagumi, seperti yang ia katakan pada Vaselin beberapa hari lalu. 

Namun, jika memang hanya kekaguman semata. Mengapa melihat vaselin berusaha menyemangati kris justru membuatnya nelangsa ? Apa ia takut kris justru semakin dekat dengan Nive setelah kris tau ,bahwa ada orang lain yang sedang merangkak menuju pujaan hatinya ?

Padahal sebelum Citra tau, Marina biasa biasa saja. Karena ia pikir, perasaan semacam itu akan hilang seiring berjalannya waktu. Hingga tiba-tiba citra membaca curhatan hatinya ,semua terbongkar begitu saja. Lalu semua berubah ,perasaan itu tidak lagi dibiarkan ditempat gelap. Ia membawanya keluar, tertimpa sinar matahari hingga muncul pucuk kecil nan hijau muda, segar. Padahal Marina tidak begitu berusaha memupuknya, hanya dibiarkan ditempat terbuka begitu saja. Tumbuh dengan sendirinya.

⚜⚜

Pintu terbuka ,seorang lelaki jangkung masuk dan langsung terduduk didepan Marina, "capek banget hari ini, ya lord!" umpatnya. Menarik nafas dalam, lalu menelungkupkan wajahnya dimeja.

"Btw, lo disini dari kapan ?" tanyanya.

Marina gelagapan, pasalnya hanya mereka berdua diruangan ini. Bagaimana jika ada yang melihat, bagaimana jika yang melihat itu berpikir aneh-aneh ? 

"Mar, lo kenapa malah bengong ?" Kali ini Marina dibuat terkejut oleh sebuah tangan yang menempel di keningnya.

"Aih, gu.. gue gak apa apa koq" 

"yah, habisnya ditanya gak jawab. malah bengong..!" ucap Dove, nyengir lebar. Sambil mengedipkan sebelah matanya, Dove mengeluarkan dua permen kiss dari sakunya. 

"gue dari pagi disini.." kata Marina malas, matanya menangkap permen yang disorongkan padanya dimeja,"thanks!!"

"ngapain disini ? gak takut apa ?"

"diem aja, nggak tuh.." Marina melihat jam ditangannya, pukul sembilan lewat delapan belas menit.

"lo sendiri ,capek abis ngapain ?" tanya Marina, Yang ditanya menghembuskan nafasnya berat. 

"Nih, abis keliling ke semua kelas!" katanya, menunjukan setumpukan kertas yang berisi nama-nama murid.

Marina mengambil kertas kertas itu dan membacanya,"Rekapan peserta porseni ?"

Dove mengangguk lesu,"yup, bantuin gue ya mar !"

"emang lo sendirian ngurusin ini ?"

"sebenernya sih ada temen gue, cuma dia lagi sibuk pagi ini ada ulangan katanya.." Dove menarik selembar kertas lagi dan memberikannya pada Marina.

"Kalo gue gak salah denger, lo jago berenang ya mar ?" tanya Dove.

"Udah lama gue gak latihan. Mungkin sekarang udah gak bisa lagi !!"

"Please. ikutan ya, dari sekolah kita masa cuma cowo doang yang ikut !?"

Marina mengeluh panjang pendek, sudah hampir tiga tahun lalu marina dilarang untuk berenang lagi. 

"siapa ?" tanya Marina, akhirnya.

"Nive, dari kelas XI Ips," ucap Dove.

Perut Marina langsung terasa geli,"ha..hah ?"

"mm.. maksud gue, Nivea ?" Dove mengangguk, "Dia bisa renang ?"

Dove rupanya tak curiga sama sekali, justru Dove terlihat senang melihat Marina tiba-tiba antusias.

"Iyalah, masa gak bisa, badan ceking begitu udah pasti bisa," 

"Mm , kalo gitu formulirnya gue bawa dulu ya ,boleh ?" pinta Marina.

Dove mengangguk ceria, wajah lesunya langsung pudar ,tergantikan dengan senyum sumringah.

"Tentu dong sayang, bawa aja. kalo ada yang mau lo tanyain, telpon gue aja ok!" Balas Dove tak kalah senang.

"Siap!!" Pekik Marina.

⚜⚜⚜

Citra menelan ludah, matanya tidak berhenti menatap kedatangan Marina yang tersenyum lebar.

"Lo kemana aja sih mar ?" tanya Citra kesal, "pesan gue gak lo balas, gue khawatir tau gak. untung aja gue ketemu olay tadi," omel citra.

Marina cengar cengir mendengarnya,"Makasih sudah khawatir, tapi gue baik baik aja koq cit.." 

"itu apa ?" tanya citra lagi.

"ini formulir, tadi gue ketemu dove di ruang osis. terus dia kasih formulir lomba renang gitu cit, katanya butuh perwakilan cewe.." citra mengernyitkan dahinya.

"Dove ?" 

"iya, dua hari lagi kan ada porseni" Ucap Marina antusias. Citra manggut-manggut mengerti.

"Terus ?"

"Tadi gue liat vaselin bareng kris dikelas Nive, mereka keliatan akrab gitu!" ucap Marina. 

"ya, gue tau. Gue sering liat dia bareng kris udah dari lama kali," citra meyakinkan, sambil terus membenahi dirinya dimeja.

"berarti lo juga tau dong, kalo kris tau tentang gue yang... yang.."

"suka sama ni...pffft" citra mendelikan matanya pada marina, yang membekap mulutnya sambil memutar bola matanya celingak celinguk.

"duuuh jangan keras keras dong, lo mah gitu ah"

"iya,iya sorry.. " 

"kalo soal itu gue gak yakin. habisnya, vaselin orangnya susah ditebak" ucap citra.

"kris tau, tadi aja dia ..huffh. begitulah pokoknya! gue malu banget kalo nive sampe tau gue suka sama dia!" Marina cemberut. 

"sorry lagi mar, gue kira dia gak bakalan kayak gini sama lo"

Marina menghela nafas,"gue maunya secara alami. dan gue udah punya momen itu !" kali ini marina tersenyum penuh harap.


⚜⚜⚜


"gimana mar ? lo udah ready ikutan ?" Dove bertanya lagi pada marina, yang diangguki gadis manis itu dengan semangat.

"iya, gue ikut dove!" katanya,berusaha tenang.

"asyik, ya udah lo bisa berlatih sendiri atau mengajak Nivea aja biar berlatih bareng ya mar, gue gak bisa bimbing. Karena jujur aja gue sibuk banget urus cabang lain.." ujar Dove dengan tampang menyesal.

Tentu saja Marina ingin sekali berlatih bersama Nivea, Tapi itu bukan ide bagus. Salah-salah Ia malah fokus pada Nivea bukan pada latihannya. Lagi pula, waktu latihan hanya sisa tiga hari. Bisa kalah mereka karena Marina gagal fokus.

"Gak apa apa dove, santai. Gue berlatih sendiri aja, mungkin di antar bokap gue. Semalem gue sama bokap udah ngobrol banyak sih.." 

Dove menghela nafas lega, "syukurlah kalo begitu, gue khawatir banget orang tua lo masih ngelarang lo Renang!" 

"Tapi by the way, Lo tau dari mana gue bisa renang ?" 

Dove terdiam lama. 

"dove ?" 

"eh, gue keluar dulu ya mar!" Dove bergerak cepat tak karuan, membereskan kertas kertas, mendorong kursi, "tadi.. gue lupa ini.. apa ..itu .. ini anak anak..iyaa anak anak"

Marina menatap heran Dove dengan dahi berkerut.

⚜⚜⚜

Siang ini, harusnya matahari sudah berada dipuncak kepala, seperti bulan lalu. Setiap kali keluar ruangan, harus memicingkan mata karena silau dan panas. Tapi kali ini, tampak mendung. Awan bergelayut hitam, siap menumpahkan tangisnya. Angin berhembus kencang membawa daun daun kering berterbangan, membuka harapan bagi paving yang kehausan untuk menadah air hujan.

Marina merapatkan sweaternya, Berdiri di halte sendirian sepeninggal citra beberapa menit lalu. Ada rasa sesal karena ia tak ikut saja tadi bersama Citra, ada senang juga karena besok adalah hari perlombaan. Dimana Marina akan menghabiskan waktu seharian bersama Nivea, meskipun tidak berdua. 

yah, setidaknya mereka bisa bekerja sama. 

Hujan mulai turun, satu persatu jatuh ke aspal, meresap dengan cepat, disusul dengan yang lainnya yang juga menghilang begitu saja, meninggalkan setitik basah diantara ribuan titik di sekitar Marina.

"Aduh.. Ni bis mana sih!" Marina mulai khawatir.

Hujan mulai turun deras, menimbulkan bau tanah dan aspal yang menyengat. Lalu bau basah yang begitu khas. Angin berhembus bersama percikan air yang sudah membasahi sepatu dan sebagian rok sekolah Marina. 

Lalu, sebuah motor besar diantara ribuan rintikan air menghujaninya dengan kejam, seorang gadis turun dan berlari cepat, mentup kepalanya sia-sia, disusul si pengendara yang sedikit berlari dibelakangnya. Hati Marina berdebar hebat sekaligus lemas melihat pemandangan didepannya.

"Eh Marina, belum pulang ?" Kris yang bertanya, gadis itu sudah basah kuyup. Rambutnya yang panjang membuatnya terlihat cantik, bahkan disaat ia terlihat berantakan.

Marina menggeleng,"Belum.."katanya singkat.

"Niv, ini marina!" kata Kris pada Nivea yang sedang membuka helmet.

"oh jadi , elo yang namanya Marina!" 

Marina serasa ditampar tiba-tiba, 'kenapa  nivea berkata seperti itu ?' pikirnya. Wajahnya terasa panas, dia malu melihat Nivea. Marina memandang kris penuh tanya, gadis itu hanya tersenyum miring.

Lalu, Nivea menyodorkan tangannya, mengajak Marina bersalaman,"gue nivea. mungkin dove udah kasih tau lo kalo gue jadi perwakilan cowo dari SMA kita.." jelas Nivea ,lelaki tersenyum pada Marina. 

"a..ah, begitu ya. I ..iya sih, Dove udah cerita koq.." 

Bodoh sekali, sudah berpikir sejauh itu. Marina merutuki dirinya sendiri dalam hati, "salam kenal! gue marina.."

Setelah itu Nivea duduk disampingnya,  belum melepaskan tangan Marina masih digenggamnya. Membuat Marina dan Kris terbengong bengong ditempatnya,"Gimana, besok udah siap?" tanya Nivea kemudian.

Kris menghentakan kakinya dan duduk dengan keras disebelah Nivea yang lain, jadi posisi saat ini Nivea dihapit dua gadis yang sama sama menyukainya, bedanya Yang satu terang terangan, yang satu sembunyi sembunyi.

"hmm.. Ya, aku sudah siap. Lagi pula, aku sudah berlatih, aku harus percaya diri.."ucap Marina panjang lebar, membuat Nivea tersenyum mendengarnya.

Hujan masih sangat deras, malah sebagian tubuh Marina sudah basah kuyup. 

"ehm, sorry Niv.. tangan gue!" Marina menarik pelan jemarinya.

Nivea nyengir malu-malu,"ehehe ..sorry, gue lupa. Tangan lo anget!"

"huffh plis deh Niv, disini ada gue juga loh. Tapi lo malah ngadep sana mulu..!" Gumam Kris gusar, Marina tersenyum senang dalam hati. 

"hujan udah lumayan reda, lo pulang sama siapa mar ?"tanya Nivea.

Marina celingak celinguk, bingung. 'ya ampun, jangan jangan mobilnya udah lewat!' batin Marina.

"emh.. gue, dijemput kayaknya. kalian duluan aja!"

Kris berdiri ,membelakangi Nivea dan Marina, memandang jauh kedalam gerimis,"ya iyalah, masa mau bonceng tiga..!" katanya ketus.

"ya udah kalo gitu gue duluan mar..yuk kris!" ajak Nivea, memakai helmet kembali dan menaiki motornya. Di susul Kris yang memasang tampang bete, menempel dipunggung Nivea.

Marina tersenyum getir, iri melihat kris bisa nemplok dibelakang Nivea didalam hujan seperti ini pula. Nasib Nasib.


⚜⚜⚜


"Lintasan keempat, Marina Tanuwirdja. Perwakilan SMA Unilev..silahkan bersiap!"

Marina menaiki undakan, mensejajarkan diri dengan peserta lain. Hingga lintasan ke delapan diisi oleh peserta dari perwakilan sekolah lain. 

"God, i'm worry something huge. And i hope its going to be fine...." Marina membatin, diantara bunyi pistol yang ditembakan ke langit, sebagai pertanda bahwa ia harus meluncur ke dalam air. 

sekilas, ketika ia menengadahkan wajah, matanya menangkap Nivea dan Dove berdiri paling depan meneriaki namanya dengan lantang, dan ayahnya.. lelaki paruh baya itu melipat kedua tangannya didada dengan muka tegang.

Marina menarik nafas dalam dalam sebelum air kolam melenyapkan seluruh tubuhnya, kaki marina bergerak cepat mendorong tubuhnya muncul ke permukaan, berkecipakan didalam air. Seirama dengan tangannya yang menarik diri bergantian.

"Tenang Marina..Tenang!!" batinnya terus membisiki. 

Tidak memperdulikan apapun, tak melihat ke arah manapun, hanya bisa mendengar teriakan teriakan para penonton yang mendukung jagoan mereka.

Terus seperti itu, kaki Marina mulai kelelahan. Yang tadinya begerak cepat sekarang sudah terlihat lemah, begitupun dengan tangannya.

Lalu, Sebuah tembakan terdengar keras sekali lagi. Pertanda ada peserta yang sudah mencapai finish. Tangan marina berkecipak lebih cepat dan menghantam tembok didepannya.

Dia berhasil sampai.

Sebelum membuka mata, kedua tangannya ditarik kuat-kuat keluar dari kolam. Lutut Marina melemas, tenaganya hilang. Namun telinganya masih berfungsi, Teriakan yang memanggil namanya bersahut sahutan. Hingga hanya satu suara yang memanggilnya.


⚜⚜


"hei..dia sudah sadar!" kata satu suara, suara berat yang ia yakini milik ayahnya.

"Hei, Marina.. Lo hebat!!" Lelaki itu tersenyum lebar, disisi blangkar dimana Marina tebaring.

Marina ingin tersenyum juga, namun entah kenapa yang keluar dari mulutnya malah isakan, "Gu..gue gagal dov!"

"sorry!" ucap Marina disela isak tangisnya. 

Dibelakang sana seorang lelaki baru saja masuk, menenteng kacamata renang dengan handuk melingkar dipundaknya.

"Lo menang mar, lo juara 1!!" ucap Dove girang.

"iya marina, lo yang menang. justru gue yang nggak..!" Nivea terduduk lesu dikursi. 

Marina menatap ayahnya, yang berdiri kaku disampingnya yang lain, mengangguk padanya dan tersenyum bangga.

"Kita berhasil !" 


⚜⚜⚜


Diperjalan pulang dalam mobil ,Marina tertidur pulas dijok belakang bersama Dove disampingnya. 

"makasih om, sudah mengijinkan Marina ikut lomba!" Ucap Dove, menahan kantuk.

Nivea sudah pulang sejak tadi memakai motor besarnya dan Dove ditinggal begitu saja. Mungkin, itu bentuk dari kekecewaan Nivea pada dirinya sendiri, yang tidak bisa meraih medali emas dilomba kali ini.

"Sama sama, Dove! om juga berterimakasih sama kamu, om kira Marina tidak akan sesemangat ini mengikuti lomba renang lagi!"

Dove tersenyum miris,"Marina punya motivasi tersendiri, dan itu bukan dove om.."

Pak Tanu, melirik dove dari kaca spion yang berada diatas kepalanya,"Om tetap berterimakasih padamu!" katanya.

Dove mengusap puncak kepala Marina dengan sayang,"Dove sayang sama Marina om, Tapi Marina menyukai orang lain!" 

"Marina tidak punya pacar setau om," 

"iya, Tapi hatinya mengharapkan seseorang..Dove takut, Marina jadi ilfeel. kalau Dove.. kalau.."

"berusahalah, om percaya padamu!" 

Dove hampir berkaca-kaca mendengarnya, Sudah lama sekali Dove memendam perasaannya pada Marina. Sejak bertahun tahun yang lalu, jauh sebelum Marina mengenal Nivea. Ia hanya bisa memandangnya dari jauh, sama seperti Marina menatap Nivea. 

Kebetulan saat di ruang osis, dan formulir itu memang sudah disiapkan untuk Marina jauh jauh hari. Tidak mungkin dari ratusan murid SMA unilev hanya ada Marina dan Nivea yang jago olahraga Renang. Moment ini memang sengaja untuk Marina dari Dove.


⚜⚜⚜


Semalaman, Marina tidak bisa tidur nyenyak. Kemarin Ia tidak benar benar tertidur,Perkataan Dove dimobil kemarin sukses membuatnya melamun berjam jam, Mengingat momentnya bersama Dove, tidak ada yang special. 

Hanya saja, ketika Dove didekatnya Dunia serasa ceria, penuh tawa, berwarna. Tidak ada special, Namun ketika Dove ada semua menjadi lebih mudah. Lebih ringan....

"bukannya lo libur aja Mar, lo keliatan ngantuk banget kayaknya.."

"Gue, kepikiran cit.." Marina menatap papan tulis tak semangat, entah kenapa kali ini papan tulis terlihat sangat luas dan kosong.

"hmmm. sebenernya gue udah tau dari lama kalo dove.." Citra nyengir lebar, saat Marina balik menatapnya sedemikan rupa.

"sorry.." sambungnya cepat, menangkupkan kedua tangannya memohon.

"apalagi yang lo tau cit.. " Marina mendesak,"bilang sama gue, Niv akan suka sama gue atau nggak ?" 

citra terdiam, berpikir. Lalu menggeleng,"iya.. dia suka, tapi hanya sekedar suka Mar.." 

Kali ini Marina yang terdiam, menunduk, memandangi lantai, dan sepatunya yang mulai belel.

"Tatapan Nivea sama Dove ke elo sangat berbeda.. Dove itu tulus"

Marina menelan ludah susah payah,"Tapi.. gue .."

"Nivea, sukanya sama Vaselin.." ungkap citra lebih tahu banyak,"itulah kenapa dia dekat dengan kris, sebetulnya bukan kris yang menyukai Nivea.. tapi vaselin"

"mereka saling menyukai ya cit..?" citra mengangguk. 

"Lalu apa yang lo liat dimata gue sekarang ?"tanya Marina lebih intens. Citra balik menatap marina, Lalu memeluknya erat erat. 

"Patah hati, takut, bingung, dan... kecewa!"  

Anehnya,tidak ada setetespun air mata yang jatuh. Marina hanya terdiam sangat lama didekapan citra. Marina serasa kedinginan saat ini, "gue baik baik aja cit.."

Dibalik pintu kelas, Citra menangkap bayangan Dove bersandar disana. Memandangi punggung Marina,"Dove disana tuh..kayaknya dia mau nemuin lo!"

Marina menghela nafas, Mencoba tersenyum, berusaha tenang. Lalu berdiri dan berjalan menghampiri Dove yang sudah tersenyum lebar seperti hari-hari sebelumnya," Ini buat lo.." 

Dove meraih jemari Marina, membuka telapak tangannya dan menaruh permen kiss dan membantu marina mengepalkan tangannya, menggengam permen yang diberikannya.

"Gue balik kelas dulu ya! see you.." ucap dove.

Marina menatap Dove pergi, padahal Ia belum mengatakan apapun pada lelaki itu. Marina melihat kepalan tangannya dan membuka permen kiss yang diberikan Dove tadi, lalu membalik bungkusnya..

'jadian yuk ..!'

Marina tersenyum. Lalu berlari keluar kelas, mencari sosok Dove. Lelaki itu sedang berjalan menuju kelasnya dengan tenang, Marina berlari sekuat tenaga untuk menyusulnya. 

Beberapa langkah lagi ia sampai, "Dove !!" teriaknya lantang.

Dikoridor kelas XI Ipa, teman teman sekelasnya dan teman sekelas Dove melihat ke arahnya pada mereka berdua. Yang berdiri canggung berhadapan berjarak tiga langkah.

Dove tersenyum, Marina tersenyum. Mereka berdua tersenyum...

Dengan senyuman itu, Dove mengerti jawabannya. Marina ,gadis yang ia sayang.. membuka hati untuknya.

Citra tersenyum lega melihat Marina, membalas ketulusan Dove dengan ketusan yang sama besarnya. 

Lalu, bagaimana dengan dirinya ? tak ada yang mampu melihat patahan hatinya di kedua mata citra. Hanya hembusan angin yang datang membewa serbuk debu ke dalam matanya, membuatnya menangis, Perih.

Biarlah, rasa itu dia telan bulat bulat. 







selesei.













Tidak ada komentar:

Posting Komentar