Back
oleh Herni nuria
Semenjak kelulusan SMA hidupku tidak terlalu menyenangkan, teman-temanku yang biasanya hadir dan memberi tawa, kini entah dimana. Tuhan memang perencana yang luar biasa, meski kami setiap hari menghabiskan waktu bersama, tetap saja.. jalan kami berbeda. Hampir lima bulan terakhir ini, waktuku cuma kuhabiskan di gudang, bangunan tinggi besar dengan beberapa kipas angin raksasa di dalamnya. Tentu saja aku tidak di sana, bisa-bisa aku mati beku bergabung dengan daging-daging sapi potong dari luar negeri itu.
Aku duduk di balik meja, di sebuah ruangan kecil dengan dinding kaca yang sangat tebal, bisa kamu bayangkan luar biasa panas di dalam sini seandainya tidak ada Ac buluk yang menempel tepat di samping depan kiriku. Dari balik meja ini, aku bisa melihat gerbang hijau tua yang sangat lebar, serta jalan berkerikil yang menurun dan melandai hingga ke depan pintu gudang besar yang kusebutkan tadi. Lapangan di depan gudang itu luas, cukup untuk menampung empat kontainer besar dan beberapa box truk pengangkut barang beku. Di pinggir lapangan itu kandang kambing etawa menempel pada pagar beton, bersebelahan dengan mes karyawan laki-laki yang memang di sediakan oleh perusahaan. Sebetulnya kambing-kambing itu bukan untuk di potong atau di peras susunya, melainkan hanya hobby sang empunya perusahaan yang saat ini bertolak pinggang sembari mengawasi kambing-kambingnya di tengah lapang yang gersang, berkerikil bercampur tai kambing.
Kembali aku mencap faktur-faktur kosong nan tebal ini dengan hati-hati, berhubung semua alat kerjaku masih manual sering kali aku membuang beberapa faktur karena salah nomor. Mejaku berserakan, beberapa uang hasil penjualan kemarin masih dikemas oleh rekan kerjaku Thalia. Berdiri di sampingku sambil mengikat uang-uang itu menjadi satu nan tebal luar biasa. Jangan tanya berapa gajiku, aku bertahan bukan karena bergaji besar, tapi karena jam kerja yang santai meski harus menghabiskan waktu di sini selama dua belas jam sehari selama seminggu tiga bulan penuh. Tak ada libur kecuali izin yang mendesak. Karena itu pula aku merasa hal ini baik, aku jarang main atau belanja, gajiku yang minim itu jadi awet dan terkumpul.
"Pas kah duitnya?" aku bertanya, tanpa meliriknya tentu saja.
Thalia menghentakan ikatan uang itu keras-keras di meja kerjaku, "Ada lebihnya, aku masukan ke tempat biasa."
Tempat biasa yang di maksud adalah amplop coklat lecek bekas uang gajiku, "Rrr, oke. Berapa totalnya?"
"Hmm, 532,000" mata belo Thalia tampak aneh saat aku meliriknya dari ujung mata, "kurang 200an lagi lah."
Yep. Uang ini untuk mengganti uang yang hilang entah kemana, pengeluaran yang sama sekali tidak kami ingat atau uang palsu yang tidak kami sadari. Karena itu beberapa minggu lalu, Pak Indrawan membeli Lampu biru dan di pasang di bawah mejaku. padahal sekarang aku tak memerlukannya, setiap hari menghitung uang cukup membuat hidungku peka akan kehadiran uang-uang keparat ini. Tapi tetap saja, uang lecet yang pudar karena tergerus zaman kadang-kadang tidak mau di terima bank. Jadi, mau tak mau aku harus mengeceknya meski memakan waktu lama.
"Ya udah, simpen aja dulu." kataku akhirnya, "ngemeng-ngemeng besok jadwal libur gue, gak apa-apa kan gue tinggal?"
Thalia mendengus, setelah mengantongi setumpuk uang dan menyimpannya dalam lemari, dia menghampiriku lagi dan menarik kursi kerja miliknya di dekatku.
"Gak apa-apa sih, mau balik apa liburan dimana?" sahutnya pelan, "jangan lama-lama ya, aku takut sama Mas Bambang."
Thalia memang type cewek yang santun, cara bicaranya halus dan lembut, meskipun dia sedang marah sekali pun. Yaa, maksimal cuma raut wajahnya saja yang berubah, kulitnya yang seputih pualam itu berubah pink dengan bibir tebal cemberut.
Sambil terus memutar angka di stempel dan membolak-balik kertas, aku menjawab kegundahan Thalia, "Ya tiga harian lah, gue gak pulang kampung. Mau nengok ponakan paling.." dua buku sudah selesai, aku menyingkirkannya ke samping meja. Berkumpul dengan Tallysheet dan buku hutang.
"Emang Bambang kenapa? godain lo mulu?"
Thalia mengangguk, "Hooh malas ah. Bukannya apa, dia kan suka mabuk, liat aja tuh mata merah mulu."
Aku melihat ke luar kaca, benar saja di sana Bambang lewat dari Mes menuju gudang besar. Aku sih tidak tau apakah laki-laki yang di maksud Thalia itu benar atau salah, yang jelas dari cara dia berjalan saja aku sudah tau dia laki-laki banyak gaya yang suka nongkrong di tempat hiburan malam. Baju kemeja lusuh yang dikancing hingga ke perut, celana jeans belel yang kotor, mata merah, dan bibir hitam yang pertanda dia perokok berat, sudah pasti bukan laki-laki yang Thalia inginkan.
Aku meringis melihatnya, "Eiiiy, yaa kalo dia deketin lo jauh-jauh aja Thal," meskipun aku cukup khawatir mengingat Bambang sering kali mengikuti kami pulang.
Tapi sejauh ini, dia tidak berani macam-macam karena kami selalu pergi berdua.
Thalia hanya menatap kosong keluar kaca sana, menatap entah apa. Meja kerjanya tepat di belakang mejaku, berhadapan dengan kaca yang menempel pada dinding pagar beton, ruangan ini memang betul-betul kecil dan penuh. Di samping meja Thalia ada lemari file selebar dua meter. Sementara di depanku ada Lemari box tinggi dan meja untuk mesin Fax Dan photo copy. Diatasnya, Ac dan televisi kecil berdampingan. Benar-benar pemandangan yang tidak enak dilihat.
Memikirkan penataan ruangan ini hanya akan membuatku capek, dan waktu berlalu begitu saja. Hari mulai gelap dan kami pulang, berjalan melewati gudang besar dan pos satpam, Hpku berdering terus menerus saat aku keluar dari gerbang hijau tua satu menit yang lalu.
Aku mengabaikannya, lagi-lagi, untuk kesekian kalinya. Harusnya aku tidak begini, harusnya aku bicara padanya bahwa aku tak ingin ada hubungan apa-apa lagi dengannya. Tapi, aku terlalu malas untuk sekadar bicara dengannya lagi. Dia pacarku, sejujurnya, untuk beberapa bulan lalu, selama aku bersekolah. Dia baik, sangat baik. Bahkan saking baiknya dia tak pernah marah padaku, selama setahun itu dia tak pernah marah. Aku juga tak pernah marah padanya, mungkin karena itulah aku merasa hubungan kami ada yang salah. Aku merasa ini gak normal, dia adik kelasku memang, tapi dia bukan seseorang yang kuinginkan meskipun dia kekasih yang baik. Mungkin nanti ketika aku sudah punya waktu yang tepat untuk bicara, aku akan mengatakan yang kurasakan saat ini.
Aku hanya ingin malam ini cepat berlalu, dan aku akan bangun sesiang mungkin.
Tetapi sepertinya aku salah, saat aku membuka pintu kamarku, aku malah menginjak rumput liar yang terasa dingin dan basah di kakiku. Tentu saja hal ini masalah, seingatku kamar ini berlantaikan keramik putih dan bau pengap, tapi aku justru malah merasa segar. Aku menarik kakiku kembali dan menoleh pada pintu kamar Thalia di sebelah, tertutup rapat dan lampunya mati.
Apa aku bermimpi?
Untuk memastikannya, aku kembali melangkah masuk dan menjejakan kakiku di rumput liar itu. Benar-benar seperti nyata. Kubuka lebar-lebar pintunya dan terbentanglah rumput liar sejauh mata memandang. Saat aku akan kembali keluar dan mencari pintu, daun pintu itu menghilang, di belakangku hanya ada sebuah pohon besar nan tinggi, cukup besar hingga aku bahkan tak bisa memeluknya.
"Kesini, dia udah sadar!" seseorang berteriak di balik pohon itu.
Aku mengintip. Tunggu dulu, sebenarnya ini dimana?
Dua orang datang mendekat, mereka tampak dekil dan kotor, yang satu perempuan berambut panjang diikat satu ekor kuda, memakai kaos tanpa lengan dan celana jeans pendek, anehnya dia terlihat keren di mataku. Sementara laki-laki yang berlari di sampingnya memakai jeans robek-robek yang telah bercampur dengan tanah. Mereka sama-sama menggendong ransel besar dan bersenjata.
Aku lantas menarik kepalaku dan sembunyi. Gila saja, apa yang terjadi? mudah-mudahan saja mereka tidak melihatku.
"Kayaknya kita stay di sini dulu, kita kekurangan orang mas." cewek itu mengusulkan sesuatu, "lagian Kelly belom pulih."
"Kalo kita stay di sini, kita gak punya perlengkapan lain. Kita butuh amunisi dan obat-obatan. Aku juga belum nemu Vest." satu suara yang tadi memanggil dua temannya itu sepertinya adalah yang di tuakan diantara mereka.
Aku melongok lagi dari balik pohon dan apa yang terjadi selanjutnya adalah hal yang paling memalukan. Salah satu dari mereka tadi, laki-laki yang berjeans sobek-sobek sedang berdiri menghadap pohon dan buang air kecil di sana, dan aku melongok di depannya. Sontak saja dia menjerit dan sigap menodongkan senjatanya padaku. Aku yang juga terkejut hanya bisa diam sambil menutup wajahku dengan kedua tangan.
"Ampun-ampun! sorry sorry, gue gak bermaksud jahat." pekikku memohon. Aku mendengar mereka menghampiri.
"Musuh kah Jef?" tanya suara cempreng itu lagi.
Lelaki yang di sapa Jef itu mereload senjatanya dan mendekat ke pohon tempatku sembunyi.
"Gue bukan musuh. Gue, gue..." Aku gak tau harus ngomong apa.
Okey, sepertinya mereka sekarang sudah ada di depanku. Aku merasakan empat senjata menodong ke arahku, Katana mengkilap di pegang cewek berkaos tanpa lengan tadi berada tepat di leherku, dan entah senjata apa lagi aku tak tau, yang jelas jika sampai mereka menembakkan senjata itu padaku sudah pasti aku akan tewas.
"Kau siapa?" tanya cewek yang baru kulihat wajahnya, sepertinya dia baru saja terluka. Wajahnya pucat dan tangannya dipenuhi perban.
Aku menelan ludah, belum apa-apa keringatku sudah membanjiri pelipisku.
"Gue Jill."
"Maksudnya, kamu dari Tim mana?" Laki-laki yang kepergok buang air itu bertanya.
"Tim apaan gue gak ngerti. Gue baru balik kerja, masuk kamar kos gue dan kos gue berubah jadi hutan begini." jelasku singkat.
Cewek di sebelahku ini tampaknya bukan type cewek baik nan lembut seperti Thalia, dia menekan katana itu dileherku sembari menggeram, "Jangan bercanda kau!"
"Gue gak becanda. Gak liat apa gue masih pake setelan kerja begini?" hardikku kesal.
Mereka memerhatikan penampilanku, mulai dari atas kepala sampai ujung kaki. Memang benar, aku masih pakai kemeja bunga-bunga dengan rok span selutut, rambut sebahuku bahkan sudah berminyak, dan lagi aku tak pakai alas kaki.
"Jangan-jangan kamu salah satu tim kami yang hilang."
Aku melihat laki-laki bermata sipit itu seksama, suaranya cempreng dan khas sekali. Pakaiannya jauh lebih dari siapa pun disini, memakai jaket kulit putih dan celana kulit senada.
"Kenalin aku Jack, kapten tim ini." ia menyodorkan tangannya.
Ragu-ragu aku hampir menjabat tangannya, saat seseorang menepis tanganku duluan.
"Bentar dulu mas. Bagaimana kalo dia berasal dari tim lain, tadi kuliat ada tim yang pake setelan begini juga."
Sumpah demi apa, saat ini aku hanya ingin menjambak rambut cepaknya.
"Demi Dewa dewi yunani, Gue gak ngerti gue dimana, apalagi tim lain apalah itu. Terserah kalian percaya atau nggak.." Mereka tampak bingung, "asal jangan di tembak." tambahku.
"Ya udah gini aja, dari pada di sini sendirian, mendingan kamu ikut kami. Di sini berbahaya."
"Ayok!" ajak Jack, seraya berjalan entah kemana, yang jelas kami semua mengikuti dia.
Aku berjalan tepat di belakangnya, saat ini yang aku percaya adalah Jack. Meskipun aku gak yakin akan di bawa kemana. Di belakangku Dua cewek itu mengawalku, dan laki-laki jangkung itu berjalan paling belakang.
"Jangan khawatir, dia baik koq." kata salah satu dari dua cewek di belakangku, "Aku Kelly."
"Dan aku Merry." sambil terus berjalan aku mendengar mereka bicara, "yang di belakang itu Jefri."
Okay, sebetulnya aku gak butuh tau nama mereka. Peduli amat mereka siapa, tapi mengingat aku sekarang bersama mereka di antah berantah, yang kuyakini ini adalah sebuah mimpi, mau tak mau lagi aku harus bersikap baik. Mereka berempat bersenjata, sementara aku bahkan tak punya alas kaki.
Jika ini benar-benar mimpi, sungguh sialnya aku.
"Kita ke rumah kayu sana!" Jack menunjuk sebuah bangunan kayu yang memang pantas sekali disebut rumah kayu. Tepatnya kami ternyata diatas bukit, bukan hanya rumah kayu itu saja, aku melihat beberapa bangunan yang tampak mirip satu sama lain.
Jefri menyerobotku dari belakang, padahal yang ku tau bukit ini sangat luas, tapi dia benar-benar menyenggolku sampai oleng.
"Hei, hati-hati dong. Kalo gue jatoh gimana?" aku memekik marah sembari membenarkan langkahku kembali.
Rupanya, Jefri tak peduli ocehanku. Dia hanya melirikku sebentar kemudian ia berbisik pada Jack.
"Okay, kita tunggu di sini. Sementara Jefri ngecek rumahnya." ia berpaling pada kami saat Jefri menuruni bukit," awasi belakang Kell, jangan sampe kita ke bokong." Titah sang kapten pada Kelly.
Cewek di sampingku mengangguk, senjata besar nan panjangnya tak luput dari genggaman. Sekarang aku merasa sebagai tawanan di medan perang.
"Tenang aja, nanti kita carikan senjata buat kau." ucap Merry, yang sepertinya dari tadi dia memerhatikan gelagatku.
Aku tersenyum miris, "Eehm. Keknya gak usah. Aku gak bisa pake senjata." aku menunjuk senjata yang dipegangnya.
"Gak apa-apa. Aku juga gak bisa, buat jaga-jaga aja.. lagian ini penting!" tambah Merry meyakinkanku, "Ah, pegang ini.. ini berguna kalo kepepet." Dia memberikan katana miliknya padaku.
"Eh!" Aku kira benda ini ringan, tapi ternyata berat luar biasa.
"Hati-hati jangan jatoh, nanti kena kaki kau habislah kau." Merry membantuku menyarungkan katana itu dan menyampirkannya di bahuku.
"Ayok!" Jack mengintrupsi, "sudah aman."
Kami berjalan kembali menuruni bukit, tidak terlalu sulit karena aku bertelanjang kaki. Tapi bukit ini benar-benar licin, tanahnya yang keras di selimuti tanah kering yang bergeruntulan, kakiku sekuat tenaga menahan diri agar tidak terjatuh. Untungnya, Merry sigap memegangku.
"Thanks," kataku.
Aku tidak tau ini rumah siapa, ketika aku memasuki ruangannya, ada tangga yang menuju lantai dua, Jefri duduk di salah satu anak tangga sembari mengikat kakinya dengan perban.
Ketika aku ingin menghampirinya, Jack memanggilku dari lantai dua, mau tak mau aku meneruskan langkahku melewati pria jangkung yang mengenaskan itu.
"Sini Jill.." Jack tengah membongkar isi ranselnya, "Kamu bawa barangku sebagian," katanya seraya mengacak-acak ransel kumal miliknya.
"Eh, gak mau, berat!" aku menolak, apa yang kulihat ini benar-benar asing, aku bahkan tidak tau kegunaannya apa.
"Ini senjata Jill, dan ini pelurunya. Kamu bakal butuh ini, ini obat bius kalo-kalo kamu terluka." jelas Jack sabar.
Aku menggeleng kuat-kuat, "Gue gak bakal terluka dan gak butuh senjata. Gue mau pulang!"
"Pulang kemana?" Jefri yang bertanya, "sekarang ini kamu ada di arena perang. Kalo gak bisa bertahan dan jadi pemenang, paling-paling kita semua mati di sini." penjelasan Jefri membuatku meringis ngeri.
"Arena perang apaan, ini cuma mimpi ya tolong jangan nakut-nakutin gue." hardikku.
"Dasar kepala batu. Tunggu aja, bentar lagi kamu bakal tau juga." ketus Jefri dari anak tangga.
Jack tak memaksa, dia hanya mengambil apa yang dia perlukan dan meninggalkan apa yang sudah diberikannya ke padaku.
Aku mengabaikan satu buah senapan laras panjang beserta pelurunya itu, aku beringsut menjauh dan duduk di atas peti kosong dekat jendela. Ketika aku melihat keluar, dua ratus meter dari tempatku ada gubuk kecil yang berdampingan dengan pom mini yang sepertinya bekas kebakaran, gosong dan berasap. Tapi, seseorang ada di sana.
Aku melihat mereka seksama begitu juga mereka yang balik memandangku. Ternyata bukan sendirian, tapi ada dua atau tiga orang di sana. Aku melambaikan tanganku, siapa tau mereka bisa membantuku bagaimana caranya keluar dari mimpi yang tidak jelas ini. Apa aku harus tertembak agar sadar dan bangun. Tapi bagaimana jika ini bukan mimpi? aku tidak ingin mati muda.
Saat itu aku tidak menyadari, peluru nyaris membolongi kepalaku yang cantik ini. Seandainya Jack tidak menariku ke samping jendela, "Jef musuh Jef!" Dia berteriak.
Aku yang terkejut dengan letusan senjata hanya bisa terduduk di pojokan, tepat di samping peti yang kududuki tadi.
Kelly dan Merry menaiki anak tangga dan kami semua sekarang ada di lantai dua.
"Pasang jebakan dulu, udah kah?" Jack tampak panik, dia ke sana kemari seperti orang kebelet buang air.
"Udah, udah. Tenang aja... mereka juga gak bakal berani kesini." ujar Kelly di seberang ruangan.
"Sebaiknya kamu ambil senjata itu, sekarang kita tidak aman. Musuh lagi ngintai kita di sana." Jack mencoba memberitahuku lagi.
Aku merangkak beberapa meter ke tengah ruangan, mengambil senjata itu dan kembali ke pojok.
"Gue gak tau caranya!" nada bicaraku sangat pelan dan gemetar, bahkan tanganku yang memegang senjata panjang ini pun gemetar luar biasa.
"Sini gue bantu," Jefri mendekat, "Begini, ini peluru kamu masukin ke sini, terus tarik pelatuknya. Udah, kamu arahin terus tembak."
"Hh.Okay." Aku mengambil senjata itu kembali dengan hati-hati, aku takut menembak salah satu dari mereka.
"Ini sniper, kamu mesti hati-hati makenya." Jefri berpesan, setelah itu dia kembali ke sisi lain jendela dan mengawasi rumah tadi.
Jack muncul dari bawah tergesa-gesa, "Sebaiknya kita jangan di sini. Aku liat mereka masih full." katanya, "kita mundur dulu sementara, ambil Shipyard sekalian cari perlengkapan buat Jill."
Kelly dan Merry bergegas turun mengikuti Jack, sementara aku melihat pergerakan Jefri yang masih bertahan di sisi jendela bersamaku.
"Kamu ikut di sini dulu," katanya, "Bantu aku mengawasi mereka selama teman kita mencari perlindungan baru."
Aku tak mengiyakan atau menolak, aku diam saja sembari melihat keluar sana.
"Coba kamu arahkan senjata itu ke rumah kayu sana!" Aku menurut, "Liat di scope nya apakah mereka masih mengintai kita atau mundur?"
"Gelap Jeff," aku menarik kepalaku, "mungkin rusak ini."
Jefri menarik senjata itu dari tanganku, "Mana ada rusak, ini scope 8 tadi kamu liat dinding kayu ini makanya gelap. Hadeh." Jefri mendengus.
Aku mencoba lagi melihat ke arah rumah kayu tadi dengan scope, benar juga.. seperti menggunakan teropong bintang. Waw, detail rumah kayu itu bisa kulihat dengan jelas.
Psssiu!
Jefri terlonjak begitu juga aku, "Kamu nembak apa Jill?"
"Eee, kepencet. Sumpah." ucapku terdengar panik, dari walkie talkie di saku celana Jefri terdengar suara Jack.
"Ada apa?" tanya Jack, "kalian perang?"
"Nggak, senjata Jill kepencet." Jawab Jefri.
Aku menangkap ekspresi Jefri yang panik berubah geli, "untung pake peredam. selamet-selamet." ujar Jefri sembari mengelus dada.
"Jangan gegabah Jill, kalo nembak aku gimana?"
"Ya kan gue gak sengaja Jeff. Sensi terus perasaan,"
"Ya kamu nyebelin." sahutnya.
Aku membelalakan mataku, "Hei kita baru kenal ya, terus dimana letak nyebelinnya?"
Jefri hanya mendesah lelah. Aku bangkit dari posisiku yang kurang nyaman ini sembari membetulkan rok spanku dengan baik, kemudian menyeret senjata panjang ini dan berjalan menuruni tangga.
"Aku mau menyusul Jack, Kelly dan Merry." selorohku kesal.
Jefri tak menyahut dia hanya mengikutiku dari belakang tanpa suara. Bunyi gesekan senjata dengan tanah kering membuatku risih, tapi ini cukup menyenangkan karena aku tak perlu berjalan dengan keheningan dan rasa takut yang nyata.
"Mau kemana?" tanya Jefri setelah kami berjalan beberapa meter, "Jack bukan ke arah sana."
"Ya udah sana lo jalan duluan. Udah tau gue gak tau apa-apa,"
Aku berjalan dengan perasaan dongkol. Jefri berjalan ke kiri dan aku mengikuti, kami memasuki area parkiran, menaiki pagar karatan dan melewati kontainer-kontainer besar, pemandangan ini tampak tak asing, aku merasa berada di parkiran gudang tempatku bekerja.
Di samping kanan ku ada gudang terbengkalai dengan beberapa peti kemas kosong berserakan, tapi tidak ada Jack di sana. Jefri terus berjalan tanpa suara, senjata sigap di depan perutnya.
sampailah kami di ujung barisan kontainer terakhir, dan Jack melongok dari dalam kontainer.
"Senjatamu berisik kali lah, bawanya yang betul." sepertinya dia bicara padaku.
"Ini berat Jack. Kalo gue gendong, bisa-bisa gue bongkok." aku menjawab sembari melempar senjata itu serampangan. Kemudian duduk di dalam kontainer bersama Kelly.
"Di mana Merry?" tanyaku.
"Aku di sini." bisik Merry.
Ternyata di kontainer sebelah dia sedang berbaring. Aku merasa haus dan lapar sekarang, rasanya seperti sudah seharian aku di sini.
"Apa gak ada makanan kah ini? gue lapar."
Jack membuka ranselnya, "Ini roti terakhir. Nah makanlah."
Aku mengambil roti kering itu dan mengunyahnya dengan cepat.
"Tapi gak ada minum." tambah Jack saat aku berhasil menelan roti kering itu ke tenggorokan yang kering.
Jefri terkikik di luar kontainer sembari berselonjor kaki, "Emang enak!"
"Tega banget kalian. Gue butuh minum." aku melihat ke arah Kelly meminta bantuan, siapa tau dia punya air.
Tapi sepertinya tidak, Kelly bahkan tampak kepayahan lebih dari padaku. Luka memar dan sobekan di betisnya masih berdarah.
"Kita semua butuh minum. Kalo mau, kamu ambil botolku dan ambil air di sungai belakang gudang itu," Merry menunjuk gudang di samping kiri kami.
"Di balik bukit sana, ada sungai." kata Jefri menimpali.
Aku bangkit dari dudukku dan mengambil dua buah botol kosong, dan berjalan ke arah yang ditunjukan Merry padaku.
"Aku gak bisa antar, aku sangat lelah." ucap Merry lemah.
Aku tak keberatan, toh bukit itu pun tidak terlalu jauh. Jadi aku terus berjalan, dan kurasakan pandangan mereka menusuk punggungku.
Pohon kelapa berjejer di sepanjang pinggir sungai, sungai ini benar-benar jernih. Hanya saja aku tak melihat ada satu saja ikan berenang di sana. Aku membuka salah satu tutup botol itu dan mengisi air dengan cepat.
"Biar kubantu," satu suara itu mengejutkanku. Nyaris saja aku terjungkal ke air.
"Bisa gak lo bersikap kayak manusia? bikin orang jantungan aja."
Jack terkikik, "Ya sorry, udah kebiasaan begini. Prajurit kan harus pandai."
"Pandai apanya, gue aja gak denger langkah kaki lo." aku melirik sepatu bot besarnya, "Lo gak melayang kan Jack?"
"Ya nggak lah, aku kan manusia."
Aku menatapnya penuh selidik, "Sebenarnya gue di mana?"
"Di arena perang."
"Gue ini bukan tentara atau pun di zaman perang dunia dua. Lagian gue gak bercita-cita jadi polisi. Jadi jangan ngawur."
"TNI mungkin.." timpal Jack.
Ketika botol air penuh, aku membasuh wajahku. Segar sekali rasanya, kemudian terlintas di benakku sebuah ide konyol.
"Jack. Lo kan kapten," Jack mengangguk, "Gue yakin saat ini gue mimpi."
Jack mengerutkan alisnya tampak berpikir, "Kayaknya aku tau kamu mau ngomong apa."
Sehabis berkata seperti itu dia bangkit dan memandangku sambil berdiri, "Ini bukan mimpi!" katanya.
"Dengerin gue dulu, gue gak tau dimana lo semua siapa. Gue cuma pengen pulang dan istirahat Jack."
Jack melangkah pergi, aku menyusulnya menaiki bukit, " Coba lo tembak gue. Tapi jangan sakit-sakit."
"Gila kamu ya, yang namanya di tembak itu sakit apalagi tanpa kepastian!" laki-laki sipit itu tertawa renyah.
"Gue serius lah Jack."
Dia berhenti tepat di tanah bukit yang miring, membuat langkahku seketika berhenti, "Ya udah mana yang mau kutembak?"
"Mmm, Disini!" aku menunjuk lengan kiriku.
Tapi Jack malah menodongkan pistol kecil itu di pelipisku, "Hei, lo mau bunuh gue?" sontak saja aku mundur beberapa langkah.
"Kalo di lengan situ, gak bakal kerasa efeknya. Paling kamu cuma kelojotan doang."
"Udah di sini aja." pekikku tak sabar.
Jack mendekat lagi dan menodongkan pistol di lengan kananku, "Ready?"
Aku mengangguk, "Ready."
Suara tembakan itu melolong keras di kepalaku, sakitnya luar biasa. Aku menjerit hebat sembari menahan lenganku dari rasa sakit.
"Gimana, sakit gak?"
Aku membuka mataku dan melihat wajah Thalia tampak panik, "Sakit gak Jill?"
Aku melihat sekelilingku telah berubah. Bukit landai dan sungai jernih itu telah menghilang, digantikan dinding bercat putih dan gorden ungu yang bergerak pelan mengikuti arah kipas angin.
"Tadi kamu pingsan, kecapean kayaknya." tutur Thalia, dia memberikan segelas air yang langsung kuteguk habis.
"Masa sih?" aku menyeka keringat di dahi, "siapa yang bawa gue kesini?"
"Untung saja tadi mas Jefri udah pulang kerja. Jadi, pas kamu jatoh di gerbang masuk kos tadi, dia langsung bopoh kamu kesini."
Aku menghela nafas lega. Jefri. Nama itu seperti mimpi di telingaku. Benarkan, aku hanya mimpi. Jangan pernah mimpi konyol seperti itu lagi.
Sepeninggal Thalia pergi, aku melanjutkan tidurku meski badanku lengket dan setelan kerjaku belum kuganti. Ada rasa takut ketika aku memejamkan mataku kembali, takut jika aku muncul di mimpi yang sama. Bagus, jika aku bertemu orang-orang seperti Jack, Jefri, Kelly dan Merry. Bagaimana jika aku bertemu orang lain?
Baru saja aku memejamkan mata, sepertinya Thalia kembali ke kamarku dan menggoyangkan bahuku.
"Jill. Bangun!"
Aku membuka mata, dan nyaris menghardiknya saat kulihat wajah Merry tersenyum senang, "dia kembali!" Jerit Merry senang.
Part1 End