who are you?

Disini daerah kekuasaanku. Kalau minat silahkan baca.. kalau nggak ..tinggal klik back aja yang tersedia di ponsel kamu. Oh iya, jangan lupa makan yak...

Selasa, 24 Mei 2022

Draft Novel karya gue


Ketika Putus Asa, dia.. 

Dia melakukan banyak hal, berusaha keras untuk baik-baik aja. Ini novel pertamaku.. Kuharap semua orang baca. Karena aku hanya pengen, karyaku dibaca.. Entah itu bagus atau nggak, berkesan atau membosankan. Mon maap, aku tidak menerima kritik dan saran 😛

 

https://drive.google.com/file/d/1rtZID7j5GkkwMitwQt2cpzfi5H9O0kC2/view?usp=drivesdk


Sepasang Kupu-kupu

Harusnya menjadi sekuel dari Novel pertama, berhubung penerbitnya keburu gulung tikar, alhasil... Naskah ini bulukan dan hampir gak bisa kutemukan. Beruntung, aku ini berotak jangka panjang.. filenya ada dimana-mana 🙃

Masih banyak yang harus di revisi. But, it's oke lah.. Masih bisa dinikmati keknya.. lagi pula novel ini abal-abal.. dibikin pas aku lagi belajar dan seneng-senengnya bercerita.

Gak tau tanda bacanya ngaler ngidul.

https://drive.google.com/file/d/1rrx4Bfc9fb4F2uTlldLJZKMPcWkionrf/view?usp=drivesdk

Jumat, 01 Oktober 2021

CERBUNG


Back

oleh Herni nuria

Semenjak kelulusan SMA hidupku tidak terlalu menyenangkan, teman-temanku yang biasanya hadir dan memberi tawa, kini entah dimana. Tuhan memang perencana yang luar biasa, meski kami setiap hari menghabiskan waktu bersama, tetap saja.. jalan kami berbeda.  Hampir lima bulan terakhir ini, waktuku cuma kuhabiskan di gudang, bangunan tinggi besar dengan beberapa kipas angin raksasa di dalamnya. Tentu saja aku tidak di sana, bisa-bisa aku mati beku bergabung dengan daging-daging sapi potong dari luar negeri itu. 


Aku duduk di balik meja, di sebuah ruangan kecil dengan dinding kaca yang sangat tebal, bisa kamu bayangkan luar biasa panas di dalam sini seandainya tidak ada Ac buluk yang menempel tepat di samping depan kiriku. Dari balik meja ini, aku bisa melihat gerbang hijau tua yang sangat lebar, serta jalan berkerikil yang menurun dan melandai hingga ke depan pintu gudang besar yang kusebutkan tadi. Lapangan di depan gudang itu luas, cukup untuk menampung empat kontainer besar dan beberapa box truk pengangkut barang beku. Di pinggir lapangan itu kandang kambing etawa menempel pada pagar beton, bersebelahan dengan mes karyawan laki-laki yang memang di sediakan oleh perusahaan. Sebetulnya kambing-kambing itu bukan untuk di potong atau di peras susunya, melainkan hanya hobby sang empunya perusahaan yang saat ini bertolak pinggang sembari mengawasi kambing-kambingnya di tengah lapang yang gersang, berkerikil bercampur tai kambing.

Kembali aku mencap faktur-faktur kosong nan tebal ini dengan hati-hati, berhubung semua alat kerjaku masih manual sering kali aku membuang beberapa faktur karena salah nomor. Mejaku berserakan, beberapa uang hasil penjualan kemarin masih dikemas oleh rekan kerjaku Thalia. Berdiri di sampingku sambil mengikat uang-uang itu menjadi satu nan tebal luar biasa. Jangan tanya berapa gajiku, aku bertahan bukan karena bergaji besar, tapi karena jam kerja yang santai meski harus menghabiskan waktu di sini selama dua belas jam sehari selama seminggu tiga bulan penuh. Tak ada libur kecuali izin yang mendesak. Karena itu pula aku merasa hal ini baik, aku jarang main atau belanja, gajiku yang minim itu jadi awet dan terkumpul.

"Pas kah duitnya?" aku bertanya, tanpa meliriknya tentu saja.

Thalia menghentakan ikatan uang itu keras-keras di meja kerjaku, "Ada lebihnya, aku masukan ke tempat biasa." 

Tempat biasa yang di maksud adalah amplop coklat lecek bekas uang gajiku, "Rrr, oke. Berapa totalnya?"

"Hmm, 532,000" mata belo Thalia tampak aneh saat aku meliriknya dari ujung mata, "kurang 200an lagi lah."

Yep. Uang ini untuk mengganti uang yang hilang entah kemana, pengeluaran yang sama sekali tidak kami ingat atau uang palsu yang tidak kami sadari. Karena itu beberapa minggu lalu, Pak Indrawan membeli Lampu biru dan di pasang di bawah mejaku. padahal sekarang aku tak memerlukannya, setiap hari menghitung uang cukup membuat hidungku peka akan kehadiran uang-uang keparat ini. Tapi tetap saja, uang lecet yang pudar karena tergerus zaman kadang-kadang tidak mau di terima bank. Jadi, mau tak mau aku harus mengeceknya meski memakan waktu lama. 

"Ya udah, simpen aja dulu." kataku akhirnya, "ngemeng-ngemeng besok jadwal libur gue, gak apa-apa kan gue tinggal?" 

Thalia mendengus, setelah mengantongi setumpuk uang dan menyimpannya dalam lemari, dia menghampiriku lagi dan menarik kursi kerja miliknya di dekatku. 

"Gak apa-apa sih, mau balik apa liburan dimana?" sahutnya pelan, "jangan lama-lama ya, aku takut sama Mas Bambang."

Thalia memang type cewek yang santun, cara bicaranya halus dan lembut, meskipun dia sedang marah sekali pun. Yaa, maksimal cuma raut wajahnya saja yang berubah, kulitnya yang seputih pualam itu berubah pink dengan bibir tebal cemberut. 

Sambil terus memutar angka di stempel dan membolak-balik kertas, aku menjawab kegundahan Thalia, "Ya tiga harian lah, gue gak pulang kampung. Mau nengok ponakan paling.." dua buku sudah selesai, aku menyingkirkannya ke samping meja. Berkumpul dengan Tallysheet dan buku hutang. 

"Emang Bambang kenapa? godain lo mulu?"

Thalia mengangguk, "Hooh malas ah. Bukannya apa, dia kan suka mabuk, liat aja tuh mata merah mulu."

Aku melihat ke luar kaca, benar saja di sana Bambang lewat dari Mes menuju gudang besar. Aku sih tidak tau apakah laki-laki yang di maksud Thalia itu benar atau salah, yang jelas dari cara dia berjalan saja aku sudah tau dia laki-laki banyak gaya yang suka nongkrong di tempat hiburan malam. Baju kemeja lusuh yang dikancing hingga ke perut, celana jeans belel yang kotor, mata merah, dan bibir hitam yang pertanda dia perokok berat, sudah pasti bukan laki-laki yang Thalia inginkan.

Aku meringis melihatnya, "Eiiiy, yaa kalo dia deketin lo jauh-jauh aja Thal," meskipun aku cukup khawatir mengingat Bambang sering kali mengikuti kami pulang.

Tapi sejauh ini, dia tidak berani macam-macam karena kami selalu pergi berdua.

Thalia hanya menatap kosong keluar kaca sana, menatap entah apa. Meja kerjanya tepat di belakang mejaku, berhadapan dengan kaca yang menempel pada dinding pagar beton, ruangan ini memang betul-betul kecil dan penuh. Di samping meja Thalia ada lemari file selebar dua meter. Sementara di depanku ada Lemari box tinggi dan meja untuk mesin Fax Dan photo copy. Diatasnya, Ac dan televisi kecil berdampingan. Benar-benar pemandangan yang tidak enak dilihat. 

Memikirkan penataan ruangan ini hanya akan membuatku capek, dan waktu berlalu begitu saja. Hari mulai gelap dan kami pulang, berjalan melewati gudang besar dan pos satpam, Hpku berdering terus menerus saat aku keluar dari gerbang hijau tua satu menit yang lalu. 

Aku mengabaikannya, lagi-lagi, untuk kesekian kalinya. Harusnya aku tidak begini, harusnya aku bicara padanya bahwa aku tak ingin ada hubungan apa-apa lagi dengannya. Tapi, aku terlalu malas untuk sekadar bicara dengannya lagi. Dia pacarku, sejujurnya, untuk beberapa bulan lalu, selama aku bersekolah. Dia baik, sangat baik. Bahkan saking baiknya dia tak pernah marah padaku, selama setahun itu dia tak pernah marah. Aku juga tak pernah marah padanya, mungkin karena itulah aku merasa hubungan kami ada yang salah. Aku merasa ini gak normal, dia adik kelasku memang, tapi dia bukan seseorang yang kuinginkan meskipun dia kekasih yang baik. Mungkin nanti ketika aku sudah punya waktu yang tepat untuk bicara, aku akan mengatakan yang kurasakan saat ini. 

Aku hanya ingin malam ini cepat berlalu, dan aku akan bangun sesiang mungkin.

Tetapi sepertinya aku salah, saat aku membuka pintu kamarku, aku malah menginjak rumput liar yang terasa dingin dan basah di kakiku. Tentu saja hal ini masalah, seingatku kamar ini berlantaikan keramik putih dan bau pengap, tapi aku justru malah merasa segar. Aku menarik kakiku kembali dan menoleh pada pintu kamar Thalia di sebelah, tertutup rapat dan lampunya mati. 

Apa aku bermimpi? 

Untuk memastikannya, aku kembali melangkah masuk dan menjejakan kakiku di rumput liar itu. Benar-benar seperti nyata. Kubuka lebar-lebar pintunya dan terbentanglah rumput liar sejauh mata memandang. Saat aku akan kembali keluar dan mencari pintu, daun pintu itu menghilang, di belakangku hanya ada sebuah pohon besar nan tinggi, cukup besar hingga aku bahkan tak bisa memeluknya. 

"Kesini, dia udah sadar!" seseorang berteriak di balik pohon itu. 

Aku mengintip. Tunggu dulu, sebenarnya ini dimana? 

Dua orang datang mendekat, mereka tampak dekil dan kotor, yang satu perempuan berambut panjang diikat satu ekor kuda, memakai kaos tanpa lengan dan celana jeans pendek, anehnya dia terlihat keren di mataku. Sementara laki-laki yang berlari di sampingnya memakai jeans robek-robek yang telah bercampur dengan tanah. Mereka sama-sama menggendong ransel besar dan bersenjata. 

Aku lantas menarik kepalaku dan sembunyi. Gila saja, apa yang terjadi? mudah-mudahan saja mereka tidak melihatku. 

"Kayaknya kita stay di sini dulu, kita kekurangan orang mas." cewek itu mengusulkan sesuatu, "lagian Kelly belom pulih." 

"Kalo kita stay di sini, kita gak punya perlengkapan lain. Kita butuh amunisi dan obat-obatan. Aku juga belum nemu Vest." satu suara yang tadi memanggil dua temannya itu sepertinya adalah yang di tuakan diantara mereka. 

Aku melongok lagi dari balik pohon dan apa yang terjadi selanjutnya adalah hal yang paling memalukan. Salah satu dari mereka tadi, laki-laki yang berjeans sobek-sobek sedang berdiri menghadap pohon dan buang air kecil di sana, dan aku melongok di depannya. Sontak saja dia menjerit dan sigap menodongkan senjatanya padaku. Aku yang juga terkejut hanya bisa diam sambil menutup wajahku dengan kedua tangan.

"Ampun-ampun! sorry sorry, gue gak bermaksud jahat." pekikku memohon. Aku mendengar mereka menghampiri.

"Musuh kah Jef?" tanya suara cempreng itu lagi.

Lelaki yang di sapa Jef itu mereload senjatanya dan mendekat ke pohon tempatku sembunyi.

"Gue bukan musuh. Gue, gue..." Aku gak tau harus ngomong apa. 

Okey, sepertinya mereka sekarang sudah ada di depanku. Aku merasakan empat senjata menodong ke arahku, Katana mengkilap di pegang cewek berkaos tanpa lengan tadi berada tepat di leherku, dan entah senjata apa lagi aku tak tau, yang jelas jika sampai mereka menembakkan senjata itu padaku sudah pasti aku akan tewas.

"Kau siapa?" tanya cewek yang baru kulihat wajahnya, sepertinya dia baru saja terluka. Wajahnya pucat dan tangannya dipenuhi perban. 

Aku menelan ludah, belum apa-apa keringatku sudah membanjiri pelipisku. 

"Gue Jill." 

"Maksudnya, kamu dari Tim mana?" Laki-laki yang kepergok buang air itu bertanya.

"Tim apaan gue gak ngerti. Gue baru balik kerja, masuk kamar kos gue dan kos gue berubah jadi hutan begini." jelasku singkat.

Cewek di sebelahku ini tampaknya bukan type cewek baik nan lembut seperti Thalia, dia menekan katana itu dileherku sembari menggeram, "Jangan bercanda kau!"

"Gue gak becanda. Gak liat apa gue masih pake setelan kerja begini?" hardikku kesal.

Mereka memerhatikan penampilanku, mulai dari atas kepala sampai ujung kaki. Memang benar, aku masih pakai kemeja bunga-bunga dengan rok span selutut, rambut sebahuku bahkan sudah berminyak, dan lagi aku tak pakai alas kaki.

"Jangan-jangan kamu salah satu tim kami yang hilang." 

Aku melihat laki-laki bermata sipit itu seksama, suaranya cempreng dan khas sekali. Pakaiannya jauh lebih dari siapa pun disini, memakai jaket kulit putih dan celana kulit senada. 

"Kenalin aku Jack, kapten tim ini." ia menyodorkan tangannya.

Ragu-ragu aku hampir menjabat tangannya, saat seseorang menepis tanganku duluan.

"Bentar dulu mas. Bagaimana kalo dia berasal dari tim lain, tadi kuliat ada tim yang pake setelan begini juga." 

Sumpah demi apa, saat ini aku hanya ingin menjambak rambut cepaknya.

"Demi Dewa dewi yunani, Gue gak ngerti gue dimana, apalagi tim lain apalah itu. Terserah kalian percaya atau nggak.." Mereka tampak bingung, "asal jangan di tembak." tambahku.

"Ya udah gini aja, dari pada di sini sendirian, mendingan kamu ikut kami. Di sini berbahaya." 

"Ayok!" ajak Jack, seraya berjalan entah kemana, yang jelas kami semua mengikuti dia. 

Aku berjalan tepat di belakangnya, saat ini yang aku percaya adalah Jack. Meskipun aku gak yakin akan di bawa kemana. Di belakangku Dua cewek itu mengawalku, dan laki-laki jangkung itu berjalan paling belakang.

"Jangan khawatir, dia baik koq." kata salah satu dari dua cewek di belakangku, "Aku Kelly."

"Dan aku Merry." sambil terus berjalan aku mendengar mereka bicara, "yang di belakang itu Jefri." 

Okay, sebetulnya aku gak butuh tau nama mereka. Peduli amat mereka siapa, tapi mengingat aku sekarang bersama mereka di antah berantah, yang kuyakini ini adalah sebuah mimpi, mau tak mau lagi aku harus bersikap baik. Mereka berempat bersenjata, sementara aku bahkan tak punya alas kaki. 

Jika ini benar-benar mimpi, sungguh sialnya aku.

"Kita ke rumah kayu sana!" Jack menunjuk sebuah bangunan kayu yang memang pantas sekali disebut rumah kayu. Tepatnya kami ternyata diatas bukit, bukan hanya rumah kayu itu saja, aku melihat beberapa bangunan yang tampak mirip satu sama lain. 

Jefri menyerobotku dari belakang, padahal yang ku tau bukit ini sangat luas, tapi dia benar-benar menyenggolku sampai oleng.

"Hei, hati-hati dong. Kalo gue jatoh gimana?" aku memekik marah sembari membenarkan langkahku kembali. 

Rupanya, Jefri tak peduli ocehanku. Dia hanya melirikku sebentar kemudian ia berbisik pada Jack. 

"Okay, kita tunggu di sini. Sementara Jefri ngecek rumahnya." ia berpaling pada kami saat Jefri menuruni bukit," awasi belakang Kell, jangan sampe kita ke bokong." Titah sang kapten pada Kelly. 

Cewek di sampingku mengangguk, senjata besar nan panjangnya tak luput dari genggaman. Sekarang aku merasa sebagai tawanan di medan perang. 

"Tenang aja, nanti kita carikan senjata buat kau." ucap Merry, yang sepertinya dari tadi dia memerhatikan gelagatku.

Aku tersenyum miris, "Eehm. Keknya gak usah. Aku gak bisa pake senjata." aku menunjuk senjata yang dipegangnya. 

"Gak apa-apa. Aku juga gak bisa, buat jaga-jaga aja.. lagian ini penting!" tambah Merry meyakinkanku, "Ah, pegang ini.. ini berguna kalo kepepet." Dia memberikan katana miliknya padaku.

"Eh!" Aku kira benda ini ringan, tapi ternyata berat luar biasa. 

"Hati-hati jangan jatoh, nanti kena kaki kau habislah kau." Merry membantuku menyarungkan katana itu dan menyampirkannya di bahuku.

"Ayok!" Jack mengintrupsi, "sudah aman."

Kami berjalan kembali menuruni bukit, tidak terlalu sulit karena aku bertelanjang kaki. Tapi bukit ini benar-benar licin, tanahnya yang keras di selimuti tanah kering yang bergeruntulan, kakiku sekuat tenaga menahan diri agar tidak terjatuh. Untungnya, Merry sigap memegangku. 

"Thanks," kataku. 

Aku tidak tau ini rumah siapa, ketika aku memasuki ruangannya, ada tangga yang menuju lantai dua, Jefri duduk di salah satu anak tangga sembari mengikat kakinya dengan perban. 

Ketika aku ingin menghampirinya, Jack memanggilku dari lantai dua, mau tak mau aku meneruskan langkahku melewati pria jangkung yang mengenaskan itu.

"Sini Jill.." Jack tengah membongkar isi ranselnya, "Kamu bawa barangku sebagian," katanya seraya mengacak-acak ransel kumal miliknya. 

"Eh, gak mau, berat!" aku menolak, apa yang kulihat ini benar-benar asing, aku bahkan tidak tau kegunaannya apa.

"Ini senjata Jill, dan ini pelurunya. Kamu bakal butuh ini, ini obat bius kalo-kalo kamu terluka." jelas Jack sabar.

Aku menggeleng kuat-kuat, "Gue gak bakal terluka dan gak butuh senjata. Gue mau pulang!" 

"Pulang kemana?" Jefri yang bertanya, "sekarang ini kamu ada di arena perang. Kalo gak bisa bertahan dan jadi pemenang, paling-paling kita semua mati di sini." penjelasan Jefri membuatku meringis ngeri. 

"Arena perang apaan, ini cuma mimpi ya tolong jangan nakut-nakutin gue." hardikku.

"Dasar kepala batu. Tunggu aja, bentar lagi kamu bakal tau juga." ketus Jefri dari anak tangga.

Jack tak memaksa, dia hanya mengambil apa yang dia perlukan dan meninggalkan apa yang sudah diberikannya ke padaku. 

Aku mengabaikan satu buah senapan laras panjang beserta pelurunya itu, aku beringsut menjauh dan duduk di atas peti kosong dekat jendela. Ketika aku melihat keluar, dua ratus meter dari tempatku ada gubuk kecil yang berdampingan dengan pom mini yang sepertinya bekas kebakaran, gosong dan berasap. Tapi, seseorang ada di sana. 

Aku melihat mereka seksama begitu juga mereka yang balik memandangku. Ternyata bukan sendirian, tapi ada dua atau tiga orang di sana. Aku melambaikan tanganku, siapa tau mereka bisa membantuku bagaimana caranya keluar dari mimpi yang tidak jelas ini. Apa aku harus tertembak agar sadar dan bangun. Tapi bagaimana jika ini bukan mimpi? aku tidak ingin mati muda.

Saat itu aku tidak menyadari, peluru nyaris membolongi kepalaku yang cantik ini. Seandainya Jack tidak menariku ke samping jendela, "Jef musuh Jef!" Dia berteriak.

Aku yang terkejut dengan letusan senjata hanya bisa terduduk di pojokan, tepat di samping peti yang kududuki tadi.

Kelly dan Merry menaiki anak tangga dan kami semua sekarang ada di lantai dua. 

"Pasang jebakan dulu, udah kah?" Jack tampak panik, dia ke sana kemari seperti orang kebelet buang air. 

"Udah, udah. Tenang aja... mereka juga gak bakal berani kesini." ujar Kelly di seberang ruangan. 

"Sebaiknya kamu ambil senjata itu, sekarang kita tidak aman. Musuh lagi ngintai kita di sana." Jack mencoba memberitahuku lagi. 

Aku merangkak beberapa meter ke tengah ruangan, mengambil senjata itu dan kembali ke pojok. 

"Gue gak tau caranya!" nada bicaraku sangat pelan dan gemetar, bahkan tanganku yang memegang senjata panjang ini pun gemetar luar biasa. 

"Sini gue bantu," Jefri mendekat, "Begini, ini peluru kamu masukin ke sini, terus tarik pelatuknya. Udah, kamu arahin terus tembak." 

"Hh.Okay." Aku mengambil senjata itu kembali dengan hati-hati, aku takut menembak salah satu dari mereka.

"Ini sniper, kamu mesti hati-hati makenya." Jefri berpesan, setelah itu dia kembali ke sisi lain jendela dan mengawasi rumah tadi.

Jack muncul dari bawah tergesa-gesa, "Sebaiknya kita jangan di sini. Aku liat mereka masih full." katanya, "kita mundur dulu sementara, ambil Shipyard sekalian cari perlengkapan buat Jill." 

Kelly dan Merry bergegas turun mengikuti Jack, sementara aku melihat pergerakan Jefri yang masih bertahan di sisi jendela bersamaku. 

"Kamu ikut di sini dulu," katanya, "Bantu aku mengawasi mereka selama teman kita mencari perlindungan baru."  

Aku tak mengiyakan atau menolak, aku diam saja sembari melihat keluar sana. 

"Coba kamu arahkan senjata itu ke rumah kayu sana!" Aku menurut, "Liat di scope nya apakah mereka masih mengintai kita atau mundur?"

"Gelap Jeff," aku menarik kepalaku, "mungkin rusak ini." 

Jefri menarik senjata itu dari tanganku, "Mana ada rusak, ini scope 8 tadi kamu liat dinding kayu ini makanya gelap. Hadeh." Jefri mendengus.

Aku mencoba lagi melihat ke arah rumah kayu tadi dengan scope, benar juga.. seperti menggunakan teropong bintang. Waw, detail rumah kayu itu bisa kulihat dengan jelas. 

Psssiu!

Jefri terlonjak begitu juga aku, "Kamu nembak apa Jill?"

"Eee, kepencet. Sumpah." ucapku terdengar panik, dari walkie talkie di saku celana Jefri terdengar suara Jack.

"Ada apa?" tanya Jack, "kalian perang?"

"Nggak, senjata Jill kepencet." Jawab Jefri.

Aku menangkap ekspresi Jefri yang panik berubah geli, "untung pake peredam. selamet-selamet." ujar Jefri sembari mengelus dada.

"Jangan gegabah Jill, kalo nembak aku gimana?" 

"Ya kan gue gak sengaja Jeff. Sensi terus perasaan," 

"Ya kamu nyebelin." sahutnya.

Aku membelalakan mataku, "Hei kita baru kenal ya, terus dimana letak nyebelinnya?"

Jefri hanya mendesah lelah. Aku bangkit dari posisiku yang kurang nyaman ini sembari membetulkan rok spanku dengan baik, kemudian menyeret senjata panjang ini dan berjalan menuruni tangga.

"Aku mau menyusul Jack, Kelly dan Merry." selorohku kesal.

Jefri tak menyahut dia hanya mengikutiku dari belakang tanpa suara. Bunyi gesekan senjata dengan tanah kering membuatku risih, tapi ini cukup menyenangkan karena aku tak perlu berjalan dengan keheningan dan rasa takut yang nyata.

"Mau kemana?" tanya Jefri setelah kami berjalan beberapa meter, "Jack bukan ke arah sana."

"Ya udah sana lo jalan duluan. Udah tau gue gak tau apa-apa," 

Aku berjalan dengan perasaan dongkol. Jefri berjalan ke kiri dan aku mengikuti, kami memasuki area parkiran, menaiki pagar karatan dan melewati kontainer-kontainer besar, pemandangan ini tampak tak asing, aku merasa berada di parkiran gudang tempatku bekerja. 

Di samping kanan ku ada gudang terbengkalai dengan beberapa peti kemas kosong berserakan, tapi tidak ada Jack di sana. Jefri terus berjalan tanpa suara, senjata sigap di depan perutnya. 

sampailah kami di ujung barisan kontainer terakhir, dan Jack melongok dari dalam kontainer.

"Senjatamu berisik kali lah, bawanya yang betul." sepertinya dia bicara padaku.

"Ini berat Jack. Kalo gue gendong, bisa-bisa gue bongkok." aku menjawab sembari melempar senjata itu serampangan. Kemudian duduk di dalam kontainer bersama Kelly. 

"Di mana Merry?" tanyaku.

"Aku di sini." bisik Merry.

Ternyata di kontainer sebelah dia sedang berbaring. Aku merasa haus dan lapar sekarang, rasanya seperti sudah seharian aku di sini.

"Apa gak ada makanan kah ini? gue lapar."

Jack membuka ranselnya, "Ini roti terakhir. Nah makanlah." 

Aku mengambil roti kering itu dan mengunyahnya dengan cepat.

"Tapi gak ada minum." tambah Jack saat aku berhasil menelan roti kering itu ke tenggorokan yang kering.

Jefri terkikik di luar kontainer sembari berselonjor kaki, "Emang enak!"

"Tega banget kalian. Gue butuh minum." aku melihat ke arah Kelly meminta bantuan, siapa tau dia punya air.

Tapi sepertinya tidak, Kelly bahkan tampak kepayahan lebih dari padaku. Luka memar dan sobekan di betisnya masih berdarah. 

"Kita semua butuh minum. Kalo mau, kamu ambil botolku dan ambil air di sungai belakang gudang itu," Merry menunjuk gudang di samping kiri kami. 

"Di balik bukit sana, ada sungai." kata Jefri menimpali.

Aku bangkit dari dudukku dan mengambil dua buah botol kosong, dan berjalan ke arah yang ditunjukan Merry padaku.

"Aku gak bisa antar, aku sangat lelah." ucap Merry lemah.

Aku tak keberatan, toh bukit itu pun tidak terlalu jauh. Jadi aku terus berjalan, dan kurasakan pandangan mereka menusuk punggungku.

Pohon kelapa berjejer di sepanjang pinggir sungai, sungai ini benar-benar jernih. Hanya saja aku tak melihat ada satu saja ikan berenang di sana. Aku membuka salah satu tutup botol itu dan mengisi air dengan cepat.

"Biar kubantu," satu suara itu mengejutkanku. Nyaris saja aku terjungkal ke air.

"Bisa gak lo bersikap kayak manusia? bikin orang jantungan aja." 

Jack terkikik, "Ya sorry, udah kebiasaan begini. Prajurit kan harus pandai."

"Pandai apanya, gue aja gak denger langkah kaki lo." aku melirik sepatu bot besarnya, "Lo gak melayang kan Jack?"

"Ya nggak lah, aku kan manusia." 

Aku menatapnya penuh selidik, "Sebenarnya gue di mana?" 

"Di arena perang." 

"Gue ini bukan tentara atau pun di zaman perang dunia dua. Lagian gue gak bercita-cita jadi polisi. Jadi jangan ngawur."

"TNI mungkin.." timpal Jack.

Ketika botol air penuh, aku membasuh wajahku. Segar sekali rasanya, kemudian terlintas di benakku sebuah ide konyol.

"Jack. Lo kan kapten," Jack mengangguk, "Gue yakin saat ini gue mimpi." 

Jack mengerutkan alisnya tampak berpikir, "Kayaknya aku tau kamu mau ngomong apa."

Sehabis berkata seperti itu dia bangkit dan memandangku sambil berdiri, "Ini bukan mimpi!" katanya.

"Dengerin gue dulu, gue gak tau dimana lo semua siapa. Gue cuma pengen pulang dan istirahat Jack."

Jack melangkah pergi, aku menyusulnya menaiki bukit, " Coba lo tembak gue. Tapi jangan sakit-sakit."

"Gila kamu ya, yang namanya di tembak itu sakit apalagi tanpa kepastian!" laki-laki sipit itu tertawa renyah.

"Gue serius lah Jack."

Dia berhenti tepat di tanah bukit yang miring, membuat langkahku seketika berhenti, "Ya udah mana yang mau kutembak?"

"Mmm, Disini!" aku menunjuk lengan kiriku.

Tapi Jack malah menodongkan pistol kecil itu di pelipisku, "Hei, lo mau bunuh gue?" sontak saja aku mundur beberapa langkah.

"Kalo di lengan situ, gak bakal kerasa efeknya. Paling kamu cuma kelojotan doang."

"Udah di sini aja." pekikku tak sabar.

Jack mendekat lagi dan menodongkan pistol di lengan kananku, "Ready?" 

Aku mengangguk, "Ready."

Suara tembakan itu melolong keras di kepalaku, sakitnya luar biasa. Aku menjerit hebat sembari menahan lenganku dari rasa sakit. 

"Gimana, sakit gak?" 

Aku membuka mataku dan melihat wajah Thalia tampak panik, "Sakit gak Jill?" 

Aku melihat sekelilingku telah berubah. Bukit landai dan sungai jernih itu telah menghilang, digantikan dinding bercat putih dan gorden ungu yang bergerak pelan mengikuti arah kipas angin.

"Tadi kamu pingsan, kecapean kayaknya." tutur Thalia, dia memberikan segelas air yang langsung kuteguk habis. 

"Masa sih?" aku menyeka keringat di dahi, "siapa yang bawa gue kesini?"

"Untung saja tadi mas Jefri udah pulang kerja. Jadi, pas kamu jatoh di gerbang masuk kos tadi, dia langsung bopoh kamu kesini."

Aku menghela nafas lega. Jefri. Nama itu seperti mimpi di telingaku. Benarkan, aku hanya mimpi. Jangan pernah mimpi konyol seperti itu lagi. 

Sepeninggal Thalia pergi, aku melanjutkan tidurku meski badanku lengket dan setelan kerjaku belum kuganti. Ada rasa takut ketika aku memejamkan mataku kembali, takut jika aku muncul di mimpi yang sama. Bagus, jika aku bertemu orang-orang seperti Jack, Jefri, Kelly dan Merry. Bagaimana jika aku bertemu orang lain?

Baru saja aku memejamkan mata, sepertinya Thalia kembali ke kamarku dan menggoyangkan bahuku. 

"Jill. Bangun!" 

Aku membuka mata, dan nyaris menghardiknya saat kulihat wajah Merry tersenyum senang, "dia kembali!" Jerit Merry senang. 


Part1 End

Jumat, 02 April 2021

CERPEN

 Nothing like me

Oleh Herni Nuria



Selain terdiam dan membisu, memangnya apalagi yang bisa Ardina lakukan? Tidak ada. Bahkan hanya untuk sekedar kesal saja sepertinya tak diperkenankan untuknya. Sering kali gadis itu menganggap hidupnya tidak adil, bagaimana mungkin ia selalu memutuskan hal-hal bodoh berkali-kali. Padahal ia menyadari bahwa keputusannya salah, selalu salah. Hingga mengeluarkan napas saja sepertinya sebuah kesalahan bagi Ardina.

Dua hari lalu, dia memutuskan untuk ikut liburan ke Villa salah satu teman kelasnya. Memang tidak ada yang memaksanya untuk ikut, hanya saja ia begitu frustasi untuk sekadar mengatakan, Tidak! Penyebabnya, tentu saja cowok jabrik yang mengenakan hody merah itu, Devara. Cowok itu diam-diam membuat Ardina mencemaskan satu hal, bagaimana jika Devara dekat-dekat lagi dengan cewek bernama Maya? Sudah cukup banyak yang membuat hatinya tak tenang, ditambah dengan pemikiran itu rasanya kepala Ardina ingin meledak. Nanti sore adalah jadwal keberangkatan mereka, hampir satu kelas ikut semua. Bayangkan saja, akan jadi apa Villa itu diserbu tiga puluh murid sedang puber tanpa pengawasan orang tua. 

Ardina duduk di antara teman-teman kelasnya, sembari mencicipi bakso mbok Narmi. Mereka sedang merencanakan hal-hal aneh yang rasanya tak mungkin bagi gadis seusia mereka, Ardina menggeleng heran mendengarnya.

“Gue ngarep banget, moga aja Tony nembak gue di sana.” harap Azizah yang duduk tepat di sebelahnya, bisa Ardina rasakan betapa gadis ini memuja teman sekelas mereka yang bernama Tony.

Kalau Ardina pikir-pikir lagi, mungkin hanya dirinya yang tak dilirik cowok-cowok. Bukan ia tak cantik, Ardina lebih dari kata menarik untuk membuat seluruh cowok di SMA Wirama jatuh cinta padanya. Hanya saja Devara membuat hampir semua cowok yang ingin dekat dengan Ardina minggat tanpa permisi. Sementara Devara sendiri nempel sana-sini sesuka hati, kalau ingat itu Ardina ingin mengobrak-abrik kelasnya sampai luluh lantah.

Kelima teman kelasnya itu terkikik-kikik centil, entah apalagi yang sedang mereka bicarakan. Kepala Ardina sudah gagal fokus untuk mengikuti arah pembeciraan, alih-alih ikut nimbrung pada obrolan ia memilih pergi setelah menghabiskan semangkok bakso sampai tandas hingga ke kuah-kuahnya. Dan sekarang ia benar-benar kekenyangan.

Devara tengah duduk di bangkunya sambil berselonjor kaki, earphone terpasang dan handphonenya miring. Ardina sudah bisa menebak apa yang sedang dia lakukan, tetapi ia memilih diam dan menghampirinya tanpa bersuara.

“Rumah L, sendirian dia.” pekik Devara, “Buruan kamvret, gue udah sekarat ini.”

Kemudian cowok itu terbahak sendiri. Ardina memutar bola matanya jengkel, “Mau sampe kapan sih lo kayak gitu terus?”

Devara tak merespon, dia masih asik melototi ponsel miringnya dengan ekspresi kesal, geli, kadang-kadang terlihat serius yang menurut Ardina menyebalkan. 

“Ah, kamvret. Mati gue cuk.”

Rasanya ingin Ardina pelintir bibir keriting itu sampai benar-benar keriting. Tetapi ia tak cukup punya keberanian untuk sekedar menjabat tangannya, bagaimana bisa ia menyentuh bibir dan memelintirnya. 

Devara menahan tawa melihat ekspresi Ardina saat ini, cewek di depannya itu benar-benar lucu. Ia sama sekali tak berniat mengabaikan kehadiran Ardina sejak tadi, tetapi tingkahnya kali ini membuat Devara bertanya-tanya, jadi ia memutuskan mengakhiri waktu bersenang-senangnya dengan mencopot earphone dan memasukan ponselnya ke dalam saku celana.

“Jadi, ada apa lo ke sini nona manis?” 

Ardina mencebik, “Lo tuh ya, kalau sama game aja lupa sama dunia. Eh, jangan dunia deh… sama perut lo aja lupa kayaknya.”

“Ya nggak lah, gue udah makan tadi.” sahut Devara, meski ia kesal tetapi nada bicaranya masih terdengar normal.

Ia menarik selembar sapu tangan dari kolong meja, “Ah ya, nih dari Fajar. Makasih katanya.”

Cewek berambut coklat sebahu itu menyambar sapu tangannya dengan raut sebal, “Kenapa bisa ada di lo?”

“Orangnya nitip ke gue lah, curigaan mulu. Buat apa coba sapu tangan begitu, idih emang gue anak bocah bawa-bawa sapu tangan?!”

Ardina tampak tak sepenuhnya percaya, pasti Devara berulah lagi, pikirnya. Akhir-akhir ini Ardina sering pulang bersama Fajar, dan setiap ada cowok yang dekat dengannya pasti langsung minggat setelah bertemu teman Ardina bernama Devara. Entah dia apakan cowok-cowok itu hingga tak mau lagi pdkt dengan Ardina.

Tak menghiraukan cowok tidak peka itu lagi, Ardina lebih memilih pergi dan menghampiri teman semejanya. Berusaha untuk tidak tegang membayangkan apa yang akan terjadi di sana nanti dengan so akrab pada teman semejanya. Cewek mungil itu tersenyum tulus meski tampak kikuk, Ardina sendiri baru menyadari bahwa dia selama beberapa bulan terakhir ini hanya menghabiskan waktunya di meja, seorang diri. 

“Lo gak ke kantin, ra?” tanya Ardina, begitu ia meletakkan pantatnya di samping Tara.

Tara menggeleng, “Gue bawa bekal dari rumah.” 

“Waw, nyokap lo perhatian banget ya.” Cewek bermimik lucu itu hanya tersenyum tipis, “Oh ya, nanti sore lo ikut, kan ?”

“Ikut, tapi gue bawa adik,” kata Tara tak yakin.

“Koq bawa adik? Kalau dia kenapa-napa gimana?”

“Dia lebih aman ikut gue, di rumah gak ada siapa-siapa.”

“Oh, orang tua lo ?”

Tara mendesah lirih, “Kami tinggal sendiri, orang tua kami tinggal di padang.”

Ardina menelan ludah merasa tak enak hati, “Sori!”

Entah apa alasannya mereka tinggal sendiri, Ardina tak ingin menanyakannya. dilirik cewek di sampingnya itu dari sudut mata, dia tampak baik-baik saja meski ekspresinya tak terbaca. Ardina tak ingin banyak bertanya lagi di saat lawan bicaranya itu tak berminat ngobrol dengannya.

Sebetulnya tak perlu menunggu waktu lama, karena satu jam setelah pulang sekolah, semua anak kelas XI. A bersiap untuk berangkat. Termasuk Ardina dan Devara, keduanya sedang mengemas koper masing-masing di rumah masing-masing. Barang-barang yang mungkin dibutuhkan selama di sana Ardina kemas dengan baik, terakhir ia masukan kotak musik berukuran kecil, diselipkannya benda itu di antara pakaian. Sementara Devara, dia hanya membawa dua set pakaian, earphone dan charger, handuk kecil dan satu set alat mandi. Selesai, pikir Devara.

Cowok jabrik itu menepuk kopernya sendiri merasa bangga, hari ini ia berniat mengutarakan perasaannya pada seseorang. Entah pada siapa, ada tiga cewek yang saat ini dekat dengannya.  Ketiganya memang sama-sama cantik, hanya saja dengan kecantikan mereka masing-masing, dan itu membuat Devara bingung. Ia tertawa geli mengingat mereka semua.

Sepanjang perjalanan Devara tak berhenti menebar senyum, di sebelahnya duduk seorang cewek berlesung pipit dengan kacamata membingkai wajah manisnya. Setiap ia tersenyum, semua orang nyaris melupakan jiwa raganya karena begitu terpana pada mahluk manis yang duduk di sebelah Devara. Ardina menelan kecewa, dugaannya memang benar. Devara lagi-lagi mendekati Maya. 

Devara sendiri menyadari tatapan jengkel Ardina di belakangnya, hanya saja ia tak terlalu peduli karena di sampingnya ada Maya. Cewek berlesung pipit yang menjadi idola cowok-cowok di kelas. Semua cowok mengagumi kecantikannya, hanya cewek-cewek saja yang tak suka pada Maya karena menurut mereka tingkahnya itu sangat tidak menyenangkan, tak mau berteman dengan mereka garis miring sangat pemilih. Memang, Maya sendiri mengakui dirinya tak pandai bergaul, ditambah sikap temen-teman sekelasnya selalu memandang tak suka padanya. Hal itu membuat Maya canggung bila berada di antara mereka, di kelas atau di mana pun. Satu-satunya teman yang lumayan akrab dengannya adalah Tara, dan Tara saat ini duduk dengan adiknya. Ia tak punya pilihan lain selain mengiyakan ajakan Devara.

Tetapi Ardina tak memahami itu, yang ia tahu Maya adalah gadis yang tidak tepat untuk didekati. Cewek itu sombong luar biasa, maksudnya dia tak bergaul dengan banyak orang selain cowok-cowok saja. Mungkin Ardina memang iri pada cewek itu, tetapi sejauh ini dia tak kalah dekat dengan semua anak-anak XI.A. Menurutnya, tak ada masalah untuk hal ini.

Jadi, pada saat mereka sampai di puncak dengan hari mulai gelap, Ardina tak keberatan sekamar dengan dua cewek biang gossip di kelasnya. Ia kebagian di kamar paling atas dekat balkon bersama Sri dan Hesky. Satu kamar bertiga, tak masalah, kamar ini cukup besar dengan kasur ekstra yang bisa memuat sepuluh orang bertumpang tindih di sana.

"Akhirnya, nyampe juga," keluh Hesky yang langsung merebahkan diri di kasur.

Sri ikut melompat ke ranjang setelah membuka sepatu ketsnya, "Gila ya, villa keluarga Rangga gede banget."

Ardina duduk di sofa yang menghadap ke luar, pemandangan yang cukup menarik. Kebun teh seluas mata memandang dan warung-warung kecil di pinggir jalan menghiasinya. Ini bagus untuk kesehatan mata, pikir Ardina. Ia tak menghiraukan ocehan kedua teman sekamarnya itu lagi dan memilih terlelap.


***


Aroma daging bakar dengan mentega menguar di halaman belakang, tiga puluh orang muda-mudi plus satu orang anak SMP tambahan berkumpul dan bercanda ria di sana. Maru, adik Tara duduk bersandar pada ayunan kayu di teras, ia tak memedulikan apa yang terjadi di sekitarnya selain bermain game online. Masa bodoh pada daging bakar dan tetek bengek makanan oon lainnya. Perutnya kenyang dengan Booyah dan kill sepuluh player di custom game tadi.

 Tetapi kakaknya peduli pada hal itu, ia membawa sepiring sosis bakar dan menghampirinya. Duduk sembari melihat ke arah halaman yang riuh dengan tawa, asap mengepul di pojok halaman, di sebelahnya ada air mancur yang dikelilingi beberapa pasang teman sekelasnya. Tara tersenyum kecut melihat mereka semua, mungkin akan terdengar sarkastik, tetapi ia tak terlalu peduli pada kebersamaan.

“Kenapa kakak gak gabung ke sana?” Maru merasa prihatin melihat kakaknya duduk sendiri, jauh dari teman-teman sekelasnya.

Tara menggeleng. Alih-alih menjawab ia malah memakan sosis bakar tadi ogah-ogahan, “Nyesel ikut ke sini.”

“Kenapa?” tanya satu suara yang familiar di telinganya, “kenapa menyesal?”

Tidak ada yang salah dengan villa dan liburan ini, yang salah itu dirinya sendiri. Tara merutuki kebodohannya saat harus memandang Fajar tepat di mata. Hatinya berdesir sakit saat mengingat bahwa ia tak mampu melupakannya.

“Bukan apa-apa, hanya—“

“Ayo gabung ke sana!” ajak Fajar, “Rangga mengundang kita gabung sama gengnya. Yuk!”

Tara menepis ajakan Fajar dengan membuang muka, “Nggak.”

Cowok bertampang manis itu menghela napas pendek. Ia mengerti Tara bersikap seperti itu sepanjang tahun ini, kekecewaannya pada Fajar sudah mendarah daging. Meminta maaf padanya sudah pernah Fajar lakukan bahkan nyaris bersujud di kakinya, hanya saja hati Tara tertutup rapat-rapat untuknya hingga kini. 

Fajar menjauh tanpa kata, ia melenggang santai dan bergabung bersama Rangga dan gengnya. Tara mendengus, ia berpikir bahwa dengan bersikap seperti itu memang pilihan yang terbaik. Lihat saja, Fajar tak benar-benar peduli pada dirinya. Fajar tak benar-benar berusaha mengambil hatinya kembali.

Bosan dengan suasana ini, Tara melimbai pergi sembari menyimpan kedongkolannya di dalam hati. Ia tak peduli dengan cibiran Maru di belakangnya dan memilih ke kolam renang, kilauan air membuat Tara merasa lebih tenang. Tetapi dia bukan satu-satunya orang di sana, ada isak tangis yang tertahan dari seberang kolam. Tara penasaran meski ia sempat berpikir negative, ini villa besar yang cukup lama tak ditinggali. Konon, rumah yang jarang di huni manusia akan di huni oleh mahluk lain. Tetapi malam ini suasananya sedang ramai, Tara yakin itu bukan mahluk yang dicurigainya. Kalau pun iya, masa bodo, cewek beramput keriting ini tidak takut.

Ia menyusuri pinggiran kolam, Tara yakin itu manusia. Bahunya naik turun seirama dengan isakannya, tangisan ini terdengar pilu dan merinding di waktu yang sama. Perlahan, Tara jongkok di dekatnya, cewek itu berdiri di dalam air tanpa busana sehelai pun. Ia menutupi wajahnya sembari terisak, tetapi dari sekian hari yang dilalui bersama Tara yakin mengenalnya.

“Astaga!” pekik Tara, “tunggu, gue ambilkan handuk,” kata Tara sebelum ia berlari pergi.

Tara begitu sangat lama, ia sudah tidak tahan lagi. Dia malu dan kedinginan, memang tidak ada siapa-siapa, hanya malu pada dirinya sendiri. Ia tak yakin mengapa dia tiba-tiba terbangun di pinggir kolam tanpa busana, untungnya hari mulai gelap. Lampu tempel di sepanjang tembok memang cukup membuatnya terlihat, tetapi ia sudah memilih sudut paling gelap yang jauh dari cahaya. Kepalanya mulai pening dan bibirnya menggigil, entah berapa lama ia berdiri di dalam air sembari menutupi wajahnya. Tadinya, ia menunggu semua orang terlelap tidur dan itu bukanlah sesuatu yang mungkin. Meski ia sangat yakin cowok-cowok akan begadang semalaman bahkan sampai pagi untuk bersenang-senang.

“Ardina?” 

Tadi dia sangat yakin bahwa yang datang itu adalah Tara, tetapi mengapa suaranya terdengar sangat menyakitkan dan membuatnya tambah malu. Ardina makin merekatkan telapak tangannya di wajah, kendati cowok itu justru malah menceburkan diri ke air. 

Ia ingin berteriak dan mengusirnya sejauh mungkin, tetapi justru Ardina malah menangis saat handuk melilit tubuhnya. Ia tersedu-sedu seperti anak kecil. Saat di permukaan, Tara jongkok di dekatnya dan membantu memakaikan kimono. Ardina bersyukur karena tidak ada yang bertanya mengapa dia bisa ada di kolam renang sendirian, sebab ia sendiri tidak tahu, meski tampak jelas Devara sangat mengkhawatirkannya. Di dalam pangkuan cowok tidak peka itu, Ardina terus menangis saking malunya. 

Di ruang tengah, teman-teman sekelasnya sedang asik bercanda, ada yang menonton tv, bermain game, makan-makan. Mereka tampak menikmati malam yang bagi Ardina sangat memalukan. Bukan saja kedinginan yang dia rasakan, harga dirinya seperti hilang begitu saja di depan Tara dan Devara tadi.

“Loh, Ardina kenapa, dev?” Azizah penasaran, ia berlari mengejar langkah Devara menaiki anak tangga.

Satu per satu cewek-cewek teman sekelas Ardina ikut berlarian mengikutinya, penasaran akan apa yang terjadi. Devara jengkel mendengar pertanyaan-pertanyaan itu, tetapi Ardina cukup senang karena merasa dipedulikan. Walau begitu, Devara tak berkomentar apa-apa, ia terus menaiki anak tangga dan meminta tolong pada Tara untuk membuka pintu kamar Ardina dengan isyarat mata.

“Lo kenapa din?” tanya Sri, begitu Devara menurunkannya di kasur ekstra.

Seandainya Ardina sedang tak sedih, dia pasti sudah menoyor kening lebar itu menjauh dari wajahnya. Tetapi ia hanya bisa menggeleng sembari merekatkan handuk di tubuh, begitu kakinya terasa beku perutnya perih sekali. Kamar besar ini mendadak terasa sangat sempit, ia tak sanggup menghitung berapa pasang mata yang menatapnya penasaran dan kasihan. Entah apa yang mereka harapkan, semoga saja mereka tidak berharap Ardina sekarat.

“Tolong yang tidak berkepentingan diharapkan keluar aja!” kata Devara, cowok itu tampak kepayahan. Dia masih berdiri sambil menatap Ardina tanpa ekspresi.

“Ehm, tapi ini kamar gue…” sela Hesky sambil melirik Sri dan Ardina bergantian.

“Kalau begitu gue minta dengan sangat, lo keluar dulu sebentar. Kalian semua keluar, gue ada urusan sama Ardina dan Tara.” ucap Devara lebih tegas.

Tanpa menunggu Devara menyuruh untuk ketiga kalinya, semua orang keluar sambil menggerutu. Kini, yang tersisa hanyalah mereka bertiga, Tara berdiri kikuk di belakangnya sambil memegangi handuk.

“Jawab pertanyaan gue dengan jujur, apa yang terjadi sama lo?” tanya Devara.

Ardina menggeleng. Ia ingin bilang bahwa ia tidak tahu sama sekali dengan apa yang terjadi padanya. Tetapi Devara tak percaya, ia terus menatap Ardina hingga cewek itu tak mampu menatap balik matanya. Cewek di depannya ini masih menggigil, bibirnya biru dan matanya yang memerah dipalingkan ke sembarang arah. Devara tahu betul sifat Ardina, ia memang bukan tipe cewek centil, bukan juga pendiam, apa lagi cewek galak. Ardina adalah Ardina, dia menyimpan semua perasaannya dalam hati dan seringkali mengelabui orang lain.

“Tara, tolong jelasin apa yang lo tahu!” Devara berpaling, cewek di belakangnya terkejut mendengar namanya disebut saat ia sedang melamun.

“Eh, gue gak tahu apa-apa. Tadi kebetulan gue memang lagi suntuk, terus pergi ke kolam renang buat menyendiri. Dan—“

Belum sempat Tara menyelesaikan ucapannya, Devara berpaling lagi pada Ardina. Tara mendengus kecewa sekaligus lega karena tak perlu menjelaskan hal-hal tak penting.

“Sekali lagi gue tanya, ada apa lagi sama lo?”

Ardina memejamkan matanya mencari kekuatan, “Nggak ada apa-apa, dev.”

Tara memandangi kedua orang di depannya ini prihatin, terlihat dengan jelas mereka peduli satu sama lain. Meski terkadang ia juga heran dengan sikap Devara pada Ardina, kadang-kadang baik, kadang-kadang brengsek. Maksud Tara, semua orang tahu Devara mengancam para cowok yang dekat dengan Ardina untuk menjauhinya, entah karena alasan apa. Anehnya, cowok-cowok itu menurut.

“Lo selalu seperti ini, lo cemburu melihat gue sama Maya?”

Ardina menghembuskan napas lelah, perih di perutnya makin menjadi. Ia lapar, sejak sore tadi belum ada satu pun makanan yang masuk. Dan juga, Ardina tak berani menatap mata cowok di sampingnya ini. Devara berdiri tegap sambil bertolak pinggang, sesekali tangan kirinya mengurut alisnya frustasi.

“Oke, kalau lo gak mau jawab. Mulai detik ini, gue gak mau ikut campur lagi urusan lo.” 

Setelah berkata seperti itu, Devara menyambar handuk di tangan Tara dan berjalan keluar sebelum membanting pintu keras-keras. Tara menelan ludah, ditatapnya Ardina yang memandang pintu kamar dengan nanar.

“Lo sengaja melakukan ini pada diri lo sendiri?” tanya Tara, memberanikan diri.

Ardina tak menjawab, ia hanya menggulingkan tubuhnya memunggungi Tara. 

“Gue melakukan ini untuk mencari tahu, apakah Devara masih peduli sama gue?”

“Tapi itu membuat lo kehilangannya.”

Ardina mendesah, “Gue memang tidak pernah memilikinya, ra.”

Tara cukup terkejut mendengar pengakuan cewek aneh ini, dia pikir selama ini alasan Devara mengancam semua cowok yang pdkt dengan Ardina itu karena ia mencintainya. Ardina memang mencintai Devara, mungkin sangat mencintainya hingga berani berbuat nekad demi mendapatkan perhatiannya. Tetapi tidak dengan Devara, cowok itu hanya menganggap Ardina sebagai seorang sahabat, tak lebih. 

Ardina terlelap dalam balutan selimut tebal, dan Tara tak berani mengusiknya lagi dengan pertanyaan lain meskipun sebenarnya ia ingin bertanya lebih banyak lagi. ia memilih berjalan ke jendela dan melihat Fajar bersama Rangga serta gengnya. Di sisi lain halaman, Devara sedang duduk memangku tangan dan Sri di sebelahnya.





Kamis, 01 April 2021

CERPEN

 Dua Arah

Oleh Herni Nuria



Di ujung desa, ada sebuah balai kecil yang tak terpakai. Bangunannya tua dan kotor, bahkan atap yang dilapisi beton itu berlumut setebal tumit, tembok yang awalnya bercat putih kini dipenuhi graffiti tak jelas bentuknya dan coreng-moreng dengan jejak bola. Balai itu berada di antara anak sungai dan lapangan yang biasa digunakan anak-anak seusia Pepep. Remaja tiga belas tahun yang sedang asik bermain layangan di tengah lapang.

Bocah berkulit gelap itu memaki temannya karena memutuskan benang, alisnya berkerut-kerut marah. Namun ia tetap menarik-ulur layangan yang nyaris menabrak awan. Yusuf berlari ke pinggir lapangan, dia menggendong tas sekolahnya yang kumal oleh debu sambil terisak-isak. Ia sakit hati karena dimarahi temannya sendiri, padahal benang itu putus bukan karena disengaja. Akhirnya ia memutuskan duduk di teras balai bobrok yang tampak sudah tak kuat lagi menahan serangan lumut.

Sambil menonton Pepep dan ketiga teman lainnya adu layangan, Yusuf merebahkan diri. Kepalanya ditumpu dengan tas berisi baju seragam sekolah, buku catatan, dan botol minum yang sudah lecet di mana-mana. Nyaman sekali ia bisa memejamkan mata di tengah hari seperti ini, balai tempat yang teduh. Ada pohon nangka yang cukup besar di sampingnya untuk menghalangi sinar matahari, itu pula yang membuat atap balai ini berlumut hingga setebal tumit. 

Dari kejauhan, Yusuf bisa mendengar Pepep teriak-teriak lagi, tetapi ia memilih untuk tiduran sebentar. Angin sepoi-sepoi membuat mata Yusuf makin berat. 

“Pep, cup! Kesel iki, muleh yo,” ajak Aska yang sudah berkemas sedari tadi.

Pepep mendelik tiga meter darinya, “eh, sedelok engkas. Iki loh layanganku durung medon.”

“Ya wis, gunting ae benange cek cepet,” sahut Nanda sambil terkikik geli.

Usulan Nanda membuat Pepep berang dan mendengus, “ra iso ngono ra, ndakik ya nak kalah main.”

Aska dan Nanda duduk berselonjor kaki di belakang Pepep sambil mengamati layangan temannya ini kian mendekat. Sementara Anto menggulung benang sambil bercerita.

“Ndek ingi kangaku kepetok weden bapak,” ujar Anto.

Aska menyahut, “Loh, pak amu iku ijeh urip, to.”

“Iyo, wedene podo bapak,” kata Anto sambil bergidik, “padahal bapak ng masjid sholat magrib karo aku, kangaku malah mboncekno setan seng mirip bapak tekan omah.”

Bukannya bergidik ngeri atau merasa takut, Aska dan Nanda malah terbahak-bahak. 

“Gene koe kabeh kok malah guyu?” 

Tidak ada yang menyahut, Aska dan Nanda masih menertawakan Kakaknya Anto yang membonceng hantu. Sementara Pepep menyeret layangan dengan lunglai ke arah mereka. Wajahnya dipenuhi peluh dan lelah, sekejap saja ia duduk di dekat Anto dan meneguk air minum yang sering dibawanya ke sekolah.

“Eh, cup! Kuwe lapo kok meneng ae? Ke temper ya?” tanya Pepep.

Yang ditanya tak merespon, ia hanya melirik Pepep tanpa minat. Pepep sendiri tak terlalu mengambil pusing sikap temannya itu.

Matahari mulai beranjak turun, yang tadinya di ubun-ubun kini mulai menyoroti wajah kelima anak remaja ini dengan sengit. Mereka kompak memayungi wajah dengan tangan, layangan, buku dan topi. Nanda lebih parah, keringat di ketiaknya mulai banjir sampai ke perut, membuat Aska meringis. Meski bau menyebar sampai ke kampung sebelah, Aska tak berkomentar apa-apa, karena dia sendiri dibanjiri keringat dipunggungnya.

Rumah-rumah mulai terlihat padat, Anto berbelok ke samping kanan karena tiba lebih dulu ke rumahnya. 

“To, ojo lali ingete bapakmu ana weden ning omah,” Nanda terkikik geli mendengar ejekan Aska.

Anto hanya mencebik, ia melepas sepatu belelnya dengan menginjak bagian tumit satu per satu kemudian masuk ke rumah. Melempar tas punggungnya serampangan, ia berjalan menghampiri lemari pendingin dan menemukan Okky jelly drink, yang sudah pasti itu bukan miliknya melainkan milik adiknya. 

Sementara Aska dan Nanda sudah sampai di rumah, Pepep dan Yusuf beriringan pulang. Mereka tetangga dekat yang letak rumahnya lebih jauh dari Anto, Aska dan Nanda. Pepep merasa ada yang tak biasa dengan temannya ini, Yusuf memang pendiam, tetapi tidak sediam ini. Ia jadi merasa bersalah karena sudah marah-marah padanya tadi.

“Cup, aku njaluk ngapura ya wis ngamuk-ngamuk.”

Yusuf menoleh sekilas kemudian mengangguk.

Rumah mereka sudah terlihat, hanya dibatasi dengan gang sempit dan saluran air limbah. Sejak kecil mereka sudah bertetangga, tumbuh bersama, menjalani masa-masa kecil hingga saat ini bersama-sama. Sebelum masuk ke rumah, Pepep sempat berdiri untuk mengamati temannya itu dari belakang sejenak. Kemudian mengibaskan tangannya dan menaruh layangan di rak sepatu, sepatunya ia bawa ke kamar untuk di sembunyikan dari penglihatan emak, bapak, adik, nenek dan piaraannya, si dudung. 

Selepas makan, mandi dan berganti pakaian, Pepep tidur siang. Memang itu kebiasaannya, tugas-tugas sekolah tak dia pedulikan, ia memilih memenuhi hasrat kantuknya sampai tuntas dan kenyang. Tidur dari jam dua siang sampai jam lima sore, sudah tak bisa mengingat kejadian apa saja yang sudah terjadi selama tiga jam ia tidur. Rasa lelah dan kekenyangan sehabis makan tadi, membuat tidur siangnya menjadi sangat seru. Ia diberi mimpi bertemu dengan seorang anak perempuan seusianya, namun yang membuatnya terkejut sampai terbangun dari tidurnya adalah wajahnya mirip sekali dengan Yusuf. Pepep jadi bingung, dia bermimpi bertemu perempuan atau mimpi bertemu Yusuf?

Dia mengucek mata sipitnya dan melirik jam dinding, sudah setengah enam. Sebelum emak berteriak dari dapur menyuruh berangkat ngaji, Pepep bergegas berganti pakaian dan menyambar selembar sarung dari tumpukan sarung lainnya. Emak sedang momong adik Pepep yang masih batita di ruang depan, sementara si dudung tidur meringkuk di bawah kaki emak.

“Ngaji seng bener, ngrungokake mrico gurune. Aja dadi nakal,” kata Emak tanpa menengok ke arahnya.

Pepep sendiri nyelonong ke luar tanpa memedulikan omongan emaknya. Ia anggap angin lalu saja pepatah emak, toh sudah setiap hari juga emak ngomong seperti itu. Terkadang Pepep heran sendiri emak begitu hafal kalimatnya dan tidak pernah lupa. 

Sembari melimbai keluar dengan sarung yang dililitkan di lehernya, Pepep berteriak sekeras-kerasnya memanggil Yusuf. Tetapi yang muncul bukan orang yang ia cari, melainkan Alexa. Kakak laki-laki Yusuf yang berpenampilan seperti preman, rambutnya jabrik sebahu, pakaiannya hitam-hitam seperti dukun santet, koko hitam dan sarung hitam, peci hitam, berkulit hitam dan giginya pun ikut-ikutan hitam.  Hanya bola matanya saja yang putih, bergerak-gerak liar di sore hari.

“Ucup  ngendi mas?” tanya Pepep.

Alexa mengernyit saat menyadari kehadiran Pepep, “Loh, mikineng ra karo ko lunga ne. Wis mangkat sing mau.”

“Eh, aku nembet tangi iki mas,” heran Pepep, ia garuk-garuk tengkuknya.

“Lah miki kae mlaku karo sapa?”

Tiba-tiba saja tengkuk Pepep yang tak gatal tadi meremang, “Mbokan karo Aska ndeyan mas.”

Alexa tampak tak yakin, ia berjalan melewati Pepep yang berdiri mematung di depan pilar rumah keluarga Yusuf. Tanpa berbalik atau mengucapkan salam, dia seperti berjalan sembari memikirkan apakah yang tadi dia lihat betul-betul Pepep atau Aska?

Pepep bingung, tapi ia tak suka bingung seperti itu. Jadi ia memutuskan untuk mengikuti Alexa ke surau, untuk meyakinkan dirinya sendiri kalau yang tadi dilihat Alexa bukan dirinya, melainkan Aska atau mungkin Nanda, atau bisa saja itu Anto. 

Di perjalanan menuju surau, Pepep berpapasan dengan orang yang ingin ia temui. Yusuf berjalan gontai dari arah lapangan tadi, masih mengenakan kaos oblong dengan tas gendong tersampir di bahu, kedua sepatunya dikalungkan di leher, persis seperti Pepep mengalungkan sarung saat ini. Melihat ekspresi temannya itu, Pepep yakin sekali Yusuf baru bangun tidur, ia masih terlihat sangat kotor dan dekil.

“Eh, cup. Apa kuwe ora menyang surau maneh?”

“Matamu!” dengus Yusuf, “wiwit awan aku ambruk ing balai. Sampeyan ninggal aku loh.”

“Loh, miki kita balik bareng-bareng cup.” 

“Apane? aku nembe balik kie. Durung adus, weteng lesu, durung maning diomeli emak.”

Habis berkata seperti itu Yusuf melanjutkan perjalanan pulangnya, meninggalkan Pepep yang lagi-lagi kebingungan sendiri. Ia berjalan tanpa alas kaki, saat terlihat oleh Emak, yusuf lantas berpura-pura merapikan sepatunya di rak. Emak belum menyadari kalau anaknya pulang dua kali dalam keadaan bau, dekil dan kelaparan.





Kamis, 12 Juli 2018

Congrat to me

Ehmmm


Aku senang, karena setelah melewati serangkaian kekecewaan ternyata aku bisa mewujudkan mimpiku selama ini. Yah, bukan sesuatu yang besar... Aku hanya bermimpi menjadi seorang Penulis. Gak banyak Penulis yang hidup dari karyanya, memang... Menjadi penulis tidak membuatku mendadak menjadi milyarder, tetapi aku bangga pada diriku sendiri.

Setelah sekian lama, akhirnya aku menyelesaikan satu buah cerita yang kini siap cetak. Tetapi, aku merasa sedih, aku merasa begitu kecil di hadapan mereka hingga tak layak mendapatkan yang seharusnya menjadi Hak-ku. Tak apa aku baik-baik saja, jika kau merasa kasihan.

Begitukah sikap seorang profesional ?

Tidak. Kupikir aku yang terlalu bodoh memercayai mereka atau mungkin aku terlalu jahat mencurigai mereka? Ingin rasanya aku menyudahi pemikiran itu di kepalaku dan mulai fokus menulis lagi, tetapi entah bagaimana caranya pikiran-pikiran jelek ini diam-diam menyusup ke dalam benakku.

Sudahlah, aku baik-baik saja, bukan? Lantas mengapa aku merasa tersisihkan, aku merasa  dibodohi. 😢 
Begini, ceritaku mungkin gak terlalu menarik.. Tetapi jika dibandingkan dengan peserta lain tulisanku yang terbaik. Tapi kenapa harus ada tulisan bayangan yang jelas2 mereka tidak ikut serta di perlombaan ini dan dijadikan pemenang?
Apa kami seburuk itu? Atau karena kalian gak ikhlas mengeluarkan hadiah untuk kami? 
Jujur saja, aku bahkan gak tertarik dengan hadiah sekecil itu... Alasan terbesarku ikut lomba ini hanya untuk mengasah sejauh mana kemampuanku di kepenulisan ini. Walau begitu, memang harus ya kami dipecundangi?
Apa harus aku membocorkan semua rahasia kalian? 
Plislah.. Kalau emang gak mampu dan gak ikhlas untuk melakukan kebaikan untuk orang lain, sebaiknya tidak usah melakukan apa pun, tidak perlu bikin perlombaan seperti ini. Kasihan mereka yang berharap lebih atas karyanya...

Aku benci drama..


Baiklah rasanya aku capek memendam perasaan kecewa seperti ini, jadi aku akan memberi sedikit bocoran tentang dari mana asalnya kisah yang kutulis dalam buku itu. Sebaiknya kau dengarkan baik-baik wahai silent readers-ku 😀 

Cerita itu aku ambil dari kehidupan persahabatanku, dimana satu persatu di antara kami memudar dari porosnya. Bukan menghilang, tetap ada namun seperti memudar perlahan-lahan. Entah berjalan cepat hingga kami tak mampu melihat dan menyusulnya atau dia melambat dan tertinggal dan kami tak menyadarinya, aku tidak tahu. Yang pasti, aku merasakan hal itu terjadi dan terjadi pula padaku.

Terkadang aku merasa tertinggal begitu jauh, namun kadang aku pun merasa terlalu cepat meninggalkan mereka. Jika kau memiliki sahabat, kelak atau mungkin pernah mengalaminya... aku yakin, aku bukan satu-satunya orang yang mengalami hal ini.

Ada yang selalu beriringan denganku, kami nyaris serupa... Namun, dia selalu mencuri cahaya dariku, hingga aku tak terlihat, bila dilihat dari dekat kami tampak seiring nanmun dari jauh hanya ada satu cahaya yang menandakan bahwa kami ada. Lagi-lagi, aku merasa tersisihkan..

Namun, bukan hanya itu... Aku menyisipkan potongan-potongan kisah yang akan aku lanjutkan di buku selanjutnya (in syaa allah), semoga kau menemukannya bila membacanya. Aku hanya berharap kau membacanya, ketahuilah, aku tak berharap hujan duit setelah buku ini dibacamu, aku hanya ingin kau tahu, persahabatan adalah cahaya ketika aku merasa terjebak di terowongan panjang dalam waktu lama. 

Aku tidak pandai membuat kata-kata romantis, tapi kalau membuat sesuatu yang terdengar aneh aku adalah jagonya. Yah, buku ini akan terdengar aneh di semua indra-mu 😆😆 






Jika kau berkenan, aku akan sangat senang jika kau mengirim email ke Penerbitebook.indonesia@gmail.com dan memesan buku-ku sebanyak-banyaknya muehehehe 

Atau hubungi aku di herninuria@gmail.com jika kamu ingin bergabung di group sharing kepenulisan.







Sabtu, 09 Juni 2018

soulmate

Dear...

Pertama kali aku melihatmu, dikelilingi banyak teman, tertawa riang... pada saat itu aku sedang sendirian. Aku merasa hidupmu sangat sempurna...
Aku tidak  tahu caranya menempatkan diriku berada diposisi sepertimu saat itu, karena aku tak mau terlalu naif dalam menjalin sebuah pertemanan apalagi dengan mereka yang tampak memujamu.

Ketika aku sedang memikirkan bagaimana caranya aku menghabiskan waktuku seorang diri dikelas, kamu datang membawa secarik kertas dan pulpen siap pakai, mencondongkan badan kemudian menyorongkan kertas dan pulpen itu padaku. Sebelum aku bertanya untuk apa, kamu memberitahuku apa yang harus aku lakukan dengan kertas dan pulpen itu.

Kamu bilang, membutuhkan nomorku untuk berjaga-jaga bila kamu tak masuk sekolah atau ada kabar penting yang bisa dibagi sebagai sesama teman sekelas. Oke... aku iyakan saja.

Dan kamu kembali ke mejamu yang dipenuhi teman-teman lamamu. Semenjak hari itu, aku tak berminat berteman denganmu. Aku lebih memilih berteman dengan orang yang dulu sempat menjadi ketua barack dan dia menceritakan segelanya tentangmu, tentang masalah yang kalian hadapi tanpa kuminta.

Mungkin... Iya, aku sudah bersikap tidak adil padamu... menghakimimu dengan pemikiran-pemikiran negative yang kudapatkan dari seseorang yang membencimu. Aku melakukannya karena aku tidak tau apa-apa tentangmu...

Suatu hari, kamu dikabarkan sakit... hingga berhari-hari...

Aku merasa jijik, karena seumur-umur aku tidak pernah sakit selama itu. Aku merasa kamu terlalu mendramatisir keadaan. Diperbudak perasaan. Pokoknya, aku tidak terlalu respect padamu.

Namun, suatu hari... kamu menghubungiku dengan mengirimi sebuah pesan singkat, aku lupa apa yang kau tanyakan. Yang pasti, aku merasa sebal karena kamu banyak tanya. Kupikir, aku tidak butuh teman lagi karena aku sudah memiliki empat sahabat yang sangat aku percayai, meski mereka tak di sisiku saat itu.

Namun lama kelamaan, otakku terus menerus dicekoki cerita-cerita yang saling bertubrukan dengan cerita-cerita yang dia ceritakan padaku tentangmu, hingga aku tak tau lagi siapa yang harus aku percayai. Pada akhirnya, aku harus bersikap netral...

Mencoba agar kalian saling memahami, namun tetap gagal karena dia berkeras kamu yang salah.

Waktu itu, aku melihatmu masuk kelas dalam keadaan menangis. Aku tidak tau siapa dan apa yang bisa membuatmu menangis, aku tak berani bertanya dan aku pun tak bisa hanya diam menontoni air matamu yang terus mengalir. Bagaimanapun, aku tau rasa sakit yang seperti apa yang bisa memancing air mata itu keluar dari sudut-sudut matamu...

Banyak yang bilang dan aku sering mendengarnya tanpa sengaja, bahwa kamu berhubungan dengan seorang cowok rumit yang kerap membuatmu menangis. Rasanya aku ingin sekali menghajarnya...

Aku menjadi dekat denganmu bukan karena kamu yang meminta, bukan pula karena kita membuat perjanjian... Apa yang aku lakukan murni karena aku ingin melindungimu, entah bagaimana caranya aku tak ingin melihatmu tersakiti.

Kamu berada di posisi orang yang sangat ingin kuhindari saat itu, dan aku berada di posisi orang yang ingin kau beri penjelasan. Aku mengerti apa yang kau rasakan, tapi dia tidak....

Dan aku menjadi paham tak ada gunanya menghindari orang yang sama sekali tak kubenci. Bergelung dengan rasa sakit membuat hatiku membeku, aku tak merasakan cinta pun tak merasakan sakit. Perasaan itu membuatku merasa hampa.

Ketika kita lulus... dan tidak bertemu dalam waktu yang sangat lama, bahkan sempat lost contact tak membuat hubungan kita menjadi canggung. Aku merasa kamu memang selalu ada.

Aku berusaha keras agar aku bisa membantumu, apapun itu. Semua yang aku lakukan semata-mata adalah untuk kebaikanmu, namun aku pun tak bisa memaksa jika pada akhirnya kamu tetap berada dalam pendirianmu.

Aku belajar untuk berani darimu.
Aku belajar untuk mengasihi orang lain darimu.
Aku belajar untuk sabar darimu.
Aku belajar tentang menghargai rasa sakit darimu.

Kamu menyembunyikan kesedihanmu dengan senyum penuh cinta. Sementara aku berdiri pongah dengan menebarkan aura kebencian pada setiap orang ketika aku merasa sedih.

Bila dilihat dengan orang lain, mungkin aku tak pantas bersisian denganmu. Orang baik sepertimu, tak pantas diperlakukan semena-mena, mungkin aku sudah salah menempatkanmu disana.  Aku tak tau apakah memang ini yang tuhan inginkan?

Kita tak berhak mempertanyakan keputusan_Nya kan?
Aku hanya berharap semoga yang terjadi padamu hanya sementara dan segera berakhir. Aku tak ingin terus menerus didera rasa bersalah.

Maafkan aku, membiarkanmu menjalaninya sendirian...






Sabtu, 24 Maret 2018

Drft

Gue percaya sih semua yang terjadi dalam hidup gue ini emang udah takdir, tapi yang gue gak mengerti, koq bisa-bisanya gue memilih jalan yang menurut takdir akan gue pilih. Atau gue emang ditakdirkan buat memilih apa yang gue pilih?

Sialan. Gue jadi pusing sendiri. 

Kalo apa yang gue pilih, apa yang gue katakan sekarang, apa yang terjadi sama gue selama ini udah ditakdirkan, berarti takdir gue udah jelas dong? cuma gue aja yang gak tau. Terus ngapain ada pilihan segala dalam hidup ini? Kalo jalan yang gue ambil aja udah ditentuin.

Men, gue bahkan gak berani menekan tombol enter di bawah telunjuk gue sekarang.

Gue mengira-ngira, takdir apa yang udah ditentuin buat gue di moment ini. Moment ketika gue mengirim formulir pendaftaran masuk perguruan tinggi teknik atau hukum? 
Di mana kedua-duanya bukan pilihan gue sama sekali.

Gue melirik Nisa di meja sebelah, dia keliatan lebih tenang ketimbang gue yang kebanyakan mikir.

"Udah, ikutin kata hati lo aja Chy." bisik Nisa sembari mengelus dadanya sendiri.

Anjir. Dia enak gak dituntut ini itu sama nyokap-bokapnya. Gue? Bisa abis kalo gue gagal dalam pilihan gue. Kalo pilihan mereka gagal, tetep gue juga yang disalahin. 

Tetep gue juga yang salah. Ya bener. Gue yang milih, gue yang gagal, gue yang salah. Gue bakal tetep salah sebelum gue lahir dari perut nyokap tiri gue. Emak-emak yang satu itu emang rada amazing, entah bagaimana ceritanya bokap gue yang nyaris gak bisa jalan itu mau menikah sama emak-emak macam dia.

"Ck, lama bener." Pak Gun tau-tau udah berdiri di samping meja komputer gue, tangan di pinggang sambil melongok ke formulir online di layar.

"Saya bingung, Pak." kata gue beneran bingung, berharap banget Pak Gun ngomong sesuatu yang bisa bikin gue nggak harus milih dua pilihan nyokap sama bokap gue.

"Gampang aja. Pilih yang menurut kamu bakal berguna dalam beberapa tahun ke depan." 

"Berguna? kan percuma juga kalo saya.."

"Ya udah, tuh kamu tau jawabannya. Ngapain nanya saya?" Habis berkata begitu Pak Gun melengos pergi sambil geleng-geleng kepala.

Gue menggerutu karena kesal, "Tau jawabannya dari mana, gue nanya juga karena gak tau. Sial."

Nisa cekikikan di meja samping, pasti abis nguping percakapan gue sama Pak Gun.

Ya udahlah, dari pada gue duduk seharian di sini dan gak dapet apa-apa, gue memutuskan buat milih Jurusan yang gue incar, Desain Grafic. Tapi telunjuk gue tiba-tiba berenti lagi satu senti di atas keyboard, kira-kira Desain Grafic berguna gak ya buat masa depan gue? Kali ini gue nanya sama diri sendiri. 

Gue cewek, Bernama Artechy Rahma, umur 18 tahun, dan gue Ansos. Maksud gue bukan Ansos banget, yah kurang lebih gak suka jadi pusat perhatian dan lebih senang menyendiri. Paling temen gue ya si Nisa itu yang udah nunggu di luar. 

Desain Grafic harusnya cocok buat gue karena gak perlu ketemu banyak orang. Yah minimal gak harus tampil depan banyak orang. Tapi kan pasti ada presentasinya Chy? 

"Bangsat. Gue harus pilih jurusan mana?" Rambut yang sedari tadi udah acak-acakan makin gak karuan. 

Padahal mudah aja buat gue milih jurusan mana, anehnya gue malah terdoktrin sama Opini Pak Gun soal berguna buat masa depan gue. Tentu, gue gak mau berakhir jadi sampah masyarakat. 

Gue pengen menikmati hidup, dengan ngelakuin banyak hal yang gue sukai. Contohnya, hangout, mendaki, camping, traveling, yang penting gue gak stay di rumah lebih dari dua jam dengan keadaan mengenaskan. Biar kata gue ansos, gue bukan tipe orang yang hobby rebahan di rumah. Mon maap, itu namanya bukan ansos, tapi apa ya.. entahlah, gue takut ada yang marah.

Tiba-tiba aja gue berpikir, kenapa gue gak ambil psikologi aja. Kan bagus, sekalian gue belajar maunya gue itu apa. Yah, hidup kan belajar yang tak pernah putus. 

Oke fix, gue ambil ilmu psikologi. Dan formulirnya sudah terkirim. Hebat bener gue, bisa-bisanya gue milih jurusan yang bahkan gak terpikir sama sekali sebelumnya. Memang, takdir selalu menang. 

Setelah gue menarik napas panjang, Nisa menarik tangan gue sambil bertanya, "Jadinya lo kemana?"

Jujurly, gue gak mau jujur sama Nisa. Dia pasti ngetawain gue.