who are you?

Disini daerah kekuasaanku. Kalau minat silahkan baca.. kalau nggak ..tinggal klik back aja yang tersedia di ponsel kamu. Oh iya, jangan lupa makan yak...

Jumat, 02 April 2021

CERPEN

 Nothing like me

Oleh Herni Nuria



Selain terdiam dan membisu, memangnya apalagi yang bisa Ardina lakukan? Tidak ada. Bahkan hanya untuk sekedar kesal saja sepertinya tak diperkenankan untuknya. Sering kali gadis itu menganggap hidupnya tidak adil, bagaimana mungkin ia selalu memutuskan hal-hal bodoh berkali-kali. Padahal ia menyadari bahwa keputusannya salah, selalu salah. Hingga mengeluarkan napas saja sepertinya sebuah kesalahan bagi Ardina.

Dua hari lalu, dia memutuskan untuk ikut liburan ke Villa salah satu teman kelasnya. Memang tidak ada yang memaksanya untuk ikut, hanya saja ia begitu frustasi untuk sekadar mengatakan, Tidak! Penyebabnya, tentu saja cowok jabrik yang mengenakan hody merah itu, Devara. Cowok itu diam-diam membuat Ardina mencemaskan satu hal, bagaimana jika Devara dekat-dekat lagi dengan cewek bernama Maya? Sudah cukup banyak yang membuat hatinya tak tenang, ditambah dengan pemikiran itu rasanya kepala Ardina ingin meledak. Nanti sore adalah jadwal keberangkatan mereka, hampir satu kelas ikut semua. Bayangkan saja, akan jadi apa Villa itu diserbu tiga puluh murid sedang puber tanpa pengawasan orang tua. 

Ardina duduk di antara teman-teman kelasnya, sembari mencicipi bakso mbok Narmi. Mereka sedang merencanakan hal-hal aneh yang rasanya tak mungkin bagi gadis seusia mereka, Ardina menggeleng heran mendengarnya.

“Gue ngarep banget, moga aja Tony nembak gue di sana.” harap Azizah yang duduk tepat di sebelahnya, bisa Ardina rasakan betapa gadis ini memuja teman sekelas mereka yang bernama Tony.

Kalau Ardina pikir-pikir lagi, mungkin hanya dirinya yang tak dilirik cowok-cowok. Bukan ia tak cantik, Ardina lebih dari kata menarik untuk membuat seluruh cowok di SMA Wirama jatuh cinta padanya. Hanya saja Devara membuat hampir semua cowok yang ingin dekat dengan Ardina minggat tanpa permisi. Sementara Devara sendiri nempel sana-sini sesuka hati, kalau ingat itu Ardina ingin mengobrak-abrik kelasnya sampai luluh lantah.

Kelima teman kelasnya itu terkikik-kikik centil, entah apalagi yang sedang mereka bicarakan. Kepala Ardina sudah gagal fokus untuk mengikuti arah pembeciraan, alih-alih ikut nimbrung pada obrolan ia memilih pergi setelah menghabiskan semangkok bakso sampai tandas hingga ke kuah-kuahnya. Dan sekarang ia benar-benar kekenyangan.

Devara tengah duduk di bangkunya sambil berselonjor kaki, earphone terpasang dan handphonenya miring. Ardina sudah bisa menebak apa yang sedang dia lakukan, tetapi ia memilih diam dan menghampirinya tanpa bersuara.

“Rumah L, sendirian dia.” pekik Devara, “Buruan kamvret, gue udah sekarat ini.”

Kemudian cowok itu terbahak sendiri. Ardina memutar bola matanya jengkel, “Mau sampe kapan sih lo kayak gitu terus?”

Devara tak merespon, dia masih asik melototi ponsel miringnya dengan ekspresi kesal, geli, kadang-kadang terlihat serius yang menurut Ardina menyebalkan. 

“Ah, kamvret. Mati gue cuk.”

Rasanya ingin Ardina pelintir bibir keriting itu sampai benar-benar keriting. Tetapi ia tak cukup punya keberanian untuk sekedar menjabat tangannya, bagaimana bisa ia menyentuh bibir dan memelintirnya. 

Devara menahan tawa melihat ekspresi Ardina saat ini, cewek di depannya itu benar-benar lucu. Ia sama sekali tak berniat mengabaikan kehadiran Ardina sejak tadi, tetapi tingkahnya kali ini membuat Devara bertanya-tanya, jadi ia memutuskan mengakhiri waktu bersenang-senangnya dengan mencopot earphone dan memasukan ponselnya ke dalam saku celana.

“Jadi, ada apa lo ke sini nona manis?” 

Ardina mencebik, “Lo tuh ya, kalau sama game aja lupa sama dunia. Eh, jangan dunia deh… sama perut lo aja lupa kayaknya.”

“Ya nggak lah, gue udah makan tadi.” sahut Devara, meski ia kesal tetapi nada bicaranya masih terdengar normal.

Ia menarik selembar sapu tangan dari kolong meja, “Ah ya, nih dari Fajar. Makasih katanya.”

Cewek berambut coklat sebahu itu menyambar sapu tangannya dengan raut sebal, “Kenapa bisa ada di lo?”

“Orangnya nitip ke gue lah, curigaan mulu. Buat apa coba sapu tangan begitu, idih emang gue anak bocah bawa-bawa sapu tangan?!”

Ardina tampak tak sepenuhnya percaya, pasti Devara berulah lagi, pikirnya. Akhir-akhir ini Ardina sering pulang bersama Fajar, dan setiap ada cowok yang dekat dengannya pasti langsung minggat setelah bertemu teman Ardina bernama Devara. Entah dia apakan cowok-cowok itu hingga tak mau lagi pdkt dengan Ardina.

Tak menghiraukan cowok tidak peka itu lagi, Ardina lebih memilih pergi dan menghampiri teman semejanya. Berusaha untuk tidak tegang membayangkan apa yang akan terjadi di sana nanti dengan so akrab pada teman semejanya. Cewek mungil itu tersenyum tulus meski tampak kikuk, Ardina sendiri baru menyadari bahwa dia selama beberapa bulan terakhir ini hanya menghabiskan waktunya di meja, seorang diri. 

“Lo gak ke kantin, ra?” tanya Ardina, begitu ia meletakkan pantatnya di samping Tara.

Tara menggeleng, “Gue bawa bekal dari rumah.” 

“Waw, nyokap lo perhatian banget ya.” Cewek bermimik lucu itu hanya tersenyum tipis, “Oh ya, nanti sore lo ikut, kan ?”

“Ikut, tapi gue bawa adik,” kata Tara tak yakin.

“Koq bawa adik? Kalau dia kenapa-napa gimana?”

“Dia lebih aman ikut gue, di rumah gak ada siapa-siapa.”

“Oh, orang tua lo ?”

Tara mendesah lirih, “Kami tinggal sendiri, orang tua kami tinggal di padang.”

Ardina menelan ludah merasa tak enak hati, “Sori!”

Entah apa alasannya mereka tinggal sendiri, Ardina tak ingin menanyakannya. dilirik cewek di sampingnya itu dari sudut mata, dia tampak baik-baik saja meski ekspresinya tak terbaca. Ardina tak ingin banyak bertanya lagi di saat lawan bicaranya itu tak berminat ngobrol dengannya.

Sebetulnya tak perlu menunggu waktu lama, karena satu jam setelah pulang sekolah, semua anak kelas XI. A bersiap untuk berangkat. Termasuk Ardina dan Devara, keduanya sedang mengemas koper masing-masing di rumah masing-masing. Barang-barang yang mungkin dibutuhkan selama di sana Ardina kemas dengan baik, terakhir ia masukan kotak musik berukuran kecil, diselipkannya benda itu di antara pakaian. Sementara Devara, dia hanya membawa dua set pakaian, earphone dan charger, handuk kecil dan satu set alat mandi. Selesai, pikir Devara.

Cowok jabrik itu menepuk kopernya sendiri merasa bangga, hari ini ia berniat mengutarakan perasaannya pada seseorang. Entah pada siapa, ada tiga cewek yang saat ini dekat dengannya.  Ketiganya memang sama-sama cantik, hanya saja dengan kecantikan mereka masing-masing, dan itu membuat Devara bingung. Ia tertawa geli mengingat mereka semua.

Sepanjang perjalanan Devara tak berhenti menebar senyum, di sebelahnya duduk seorang cewek berlesung pipit dengan kacamata membingkai wajah manisnya. Setiap ia tersenyum, semua orang nyaris melupakan jiwa raganya karena begitu terpana pada mahluk manis yang duduk di sebelah Devara. Ardina menelan kecewa, dugaannya memang benar. Devara lagi-lagi mendekati Maya. 

Devara sendiri menyadari tatapan jengkel Ardina di belakangnya, hanya saja ia tak terlalu peduli karena di sampingnya ada Maya. Cewek berlesung pipit yang menjadi idola cowok-cowok di kelas. Semua cowok mengagumi kecantikannya, hanya cewek-cewek saja yang tak suka pada Maya karena menurut mereka tingkahnya itu sangat tidak menyenangkan, tak mau berteman dengan mereka garis miring sangat pemilih. Memang, Maya sendiri mengakui dirinya tak pandai bergaul, ditambah sikap temen-teman sekelasnya selalu memandang tak suka padanya. Hal itu membuat Maya canggung bila berada di antara mereka, di kelas atau di mana pun. Satu-satunya teman yang lumayan akrab dengannya adalah Tara, dan Tara saat ini duduk dengan adiknya. Ia tak punya pilihan lain selain mengiyakan ajakan Devara.

Tetapi Ardina tak memahami itu, yang ia tahu Maya adalah gadis yang tidak tepat untuk didekati. Cewek itu sombong luar biasa, maksudnya dia tak bergaul dengan banyak orang selain cowok-cowok saja. Mungkin Ardina memang iri pada cewek itu, tetapi sejauh ini dia tak kalah dekat dengan semua anak-anak XI.A. Menurutnya, tak ada masalah untuk hal ini.

Jadi, pada saat mereka sampai di puncak dengan hari mulai gelap, Ardina tak keberatan sekamar dengan dua cewek biang gossip di kelasnya. Ia kebagian di kamar paling atas dekat balkon bersama Sri dan Hesky. Satu kamar bertiga, tak masalah, kamar ini cukup besar dengan kasur ekstra yang bisa memuat sepuluh orang bertumpang tindih di sana.

"Akhirnya, nyampe juga," keluh Hesky yang langsung merebahkan diri di kasur.

Sri ikut melompat ke ranjang setelah membuka sepatu ketsnya, "Gila ya, villa keluarga Rangga gede banget."

Ardina duduk di sofa yang menghadap ke luar, pemandangan yang cukup menarik. Kebun teh seluas mata memandang dan warung-warung kecil di pinggir jalan menghiasinya. Ini bagus untuk kesehatan mata, pikir Ardina. Ia tak menghiraukan ocehan kedua teman sekamarnya itu lagi dan memilih terlelap.


***


Aroma daging bakar dengan mentega menguar di halaman belakang, tiga puluh orang muda-mudi plus satu orang anak SMP tambahan berkumpul dan bercanda ria di sana. Maru, adik Tara duduk bersandar pada ayunan kayu di teras, ia tak memedulikan apa yang terjadi di sekitarnya selain bermain game online. Masa bodoh pada daging bakar dan tetek bengek makanan oon lainnya. Perutnya kenyang dengan Booyah dan kill sepuluh player di custom game tadi.

 Tetapi kakaknya peduli pada hal itu, ia membawa sepiring sosis bakar dan menghampirinya. Duduk sembari melihat ke arah halaman yang riuh dengan tawa, asap mengepul di pojok halaman, di sebelahnya ada air mancur yang dikelilingi beberapa pasang teman sekelasnya. Tara tersenyum kecut melihat mereka semua, mungkin akan terdengar sarkastik, tetapi ia tak terlalu peduli pada kebersamaan.

“Kenapa kakak gak gabung ke sana?” Maru merasa prihatin melihat kakaknya duduk sendiri, jauh dari teman-teman sekelasnya.

Tara menggeleng. Alih-alih menjawab ia malah memakan sosis bakar tadi ogah-ogahan, “Nyesel ikut ke sini.”

“Kenapa?” tanya satu suara yang familiar di telinganya, “kenapa menyesal?”

Tidak ada yang salah dengan villa dan liburan ini, yang salah itu dirinya sendiri. Tara merutuki kebodohannya saat harus memandang Fajar tepat di mata. Hatinya berdesir sakit saat mengingat bahwa ia tak mampu melupakannya.

“Bukan apa-apa, hanya—“

“Ayo gabung ke sana!” ajak Fajar, “Rangga mengundang kita gabung sama gengnya. Yuk!”

Tara menepis ajakan Fajar dengan membuang muka, “Nggak.”

Cowok bertampang manis itu menghela napas pendek. Ia mengerti Tara bersikap seperti itu sepanjang tahun ini, kekecewaannya pada Fajar sudah mendarah daging. Meminta maaf padanya sudah pernah Fajar lakukan bahkan nyaris bersujud di kakinya, hanya saja hati Tara tertutup rapat-rapat untuknya hingga kini. 

Fajar menjauh tanpa kata, ia melenggang santai dan bergabung bersama Rangga dan gengnya. Tara mendengus, ia berpikir bahwa dengan bersikap seperti itu memang pilihan yang terbaik. Lihat saja, Fajar tak benar-benar peduli pada dirinya. Fajar tak benar-benar berusaha mengambil hatinya kembali.

Bosan dengan suasana ini, Tara melimbai pergi sembari menyimpan kedongkolannya di dalam hati. Ia tak peduli dengan cibiran Maru di belakangnya dan memilih ke kolam renang, kilauan air membuat Tara merasa lebih tenang. Tetapi dia bukan satu-satunya orang di sana, ada isak tangis yang tertahan dari seberang kolam. Tara penasaran meski ia sempat berpikir negative, ini villa besar yang cukup lama tak ditinggali. Konon, rumah yang jarang di huni manusia akan di huni oleh mahluk lain. Tetapi malam ini suasananya sedang ramai, Tara yakin itu bukan mahluk yang dicurigainya. Kalau pun iya, masa bodo, cewek beramput keriting ini tidak takut.

Ia menyusuri pinggiran kolam, Tara yakin itu manusia. Bahunya naik turun seirama dengan isakannya, tangisan ini terdengar pilu dan merinding di waktu yang sama. Perlahan, Tara jongkok di dekatnya, cewek itu berdiri di dalam air tanpa busana sehelai pun. Ia menutupi wajahnya sembari terisak, tetapi dari sekian hari yang dilalui bersama Tara yakin mengenalnya.

“Astaga!” pekik Tara, “tunggu, gue ambilkan handuk,” kata Tara sebelum ia berlari pergi.

Tara begitu sangat lama, ia sudah tidak tahan lagi. Dia malu dan kedinginan, memang tidak ada siapa-siapa, hanya malu pada dirinya sendiri. Ia tak yakin mengapa dia tiba-tiba terbangun di pinggir kolam tanpa busana, untungnya hari mulai gelap. Lampu tempel di sepanjang tembok memang cukup membuatnya terlihat, tetapi ia sudah memilih sudut paling gelap yang jauh dari cahaya. Kepalanya mulai pening dan bibirnya menggigil, entah berapa lama ia berdiri di dalam air sembari menutupi wajahnya. Tadinya, ia menunggu semua orang terlelap tidur dan itu bukanlah sesuatu yang mungkin. Meski ia sangat yakin cowok-cowok akan begadang semalaman bahkan sampai pagi untuk bersenang-senang.

“Ardina?” 

Tadi dia sangat yakin bahwa yang datang itu adalah Tara, tetapi mengapa suaranya terdengar sangat menyakitkan dan membuatnya tambah malu. Ardina makin merekatkan telapak tangannya di wajah, kendati cowok itu justru malah menceburkan diri ke air. 

Ia ingin berteriak dan mengusirnya sejauh mungkin, tetapi justru Ardina malah menangis saat handuk melilit tubuhnya. Ia tersedu-sedu seperti anak kecil. Saat di permukaan, Tara jongkok di dekatnya dan membantu memakaikan kimono. Ardina bersyukur karena tidak ada yang bertanya mengapa dia bisa ada di kolam renang sendirian, sebab ia sendiri tidak tahu, meski tampak jelas Devara sangat mengkhawatirkannya. Di dalam pangkuan cowok tidak peka itu, Ardina terus menangis saking malunya. 

Di ruang tengah, teman-teman sekelasnya sedang asik bercanda, ada yang menonton tv, bermain game, makan-makan. Mereka tampak menikmati malam yang bagi Ardina sangat memalukan. Bukan saja kedinginan yang dia rasakan, harga dirinya seperti hilang begitu saja di depan Tara dan Devara tadi.

“Loh, Ardina kenapa, dev?” Azizah penasaran, ia berlari mengejar langkah Devara menaiki anak tangga.

Satu per satu cewek-cewek teman sekelas Ardina ikut berlarian mengikutinya, penasaran akan apa yang terjadi. Devara jengkel mendengar pertanyaan-pertanyaan itu, tetapi Ardina cukup senang karena merasa dipedulikan. Walau begitu, Devara tak berkomentar apa-apa, ia terus menaiki anak tangga dan meminta tolong pada Tara untuk membuka pintu kamar Ardina dengan isyarat mata.

“Lo kenapa din?” tanya Sri, begitu Devara menurunkannya di kasur ekstra.

Seandainya Ardina sedang tak sedih, dia pasti sudah menoyor kening lebar itu menjauh dari wajahnya. Tetapi ia hanya bisa menggeleng sembari merekatkan handuk di tubuh, begitu kakinya terasa beku perutnya perih sekali. Kamar besar ini mendadak terasa sangat sempit, ia tak sanggup menghitung berapa pasang mata yang menatapnya penasaran dan kasihan. Entah apa yang mereka harapkan, semoga saja mereka tidak berharap Ardina sekarat.

“Tolong yang tidak berkepentingan diharapkan keluar aja!” kata Devara, cowok itu tampak kepayahan. Dia masih berdiri sambil menatap Ardina tanpa ekspresi.

“Ehm, tapi ini kamar gue…” sela Hesky sambil melirik Sri dan Ardina bergantian.

“Kalau begitu gue minta dengan sangat, lo keluar dulu sebentar. Kalian semua keluar, gue ada urusan sama Ardina dan Tara.” ucap Devara lebih tegas.

Tanpa menunggu Devara menyuruh untuk ketiga kalinya, semua orang keluar sambil menggerutu. Kini, yang tersisa hanyalah mereka bertiga, Tara berdiri kikuk di belakangnya sambil memegangi handuk.

“Jawab pertanyaan gue dengan jujur, apa yang terjadi sama lo?” tanya Devara.

Ardina menggeleng. Ia ingin bilang bahwa ia tidak tahu sama sekali dengan apa yang terjadi padanya. Tetapi Devara tak percaya, ia terus menatap Ardina hingga cewek itu tak mampu menatap balik matanya. Cewek di depannya ini masih menggigil, bibirnya biru dan matanya yang memerah dipalingkan ke sembarang arah. Devara tahu betul sifat Ardina, ia memang bukan tipe cewek centil, bukan juga pendiam, apa lagi cewek galak. Ardina adalah Ardina, dia menyimpan semua perasaannya dalam hati dan seringkali mengelabui orang lain.

“Tara, tolong jelasin apa yang lo tahu!” Devara berpaling, cewek di belakangnya terkejut mendengar namanya disebut saat ia sedang melamun.

“Eh, gue gak tahu apa-apa. Tadi kebetulan gue memang lagi suntuk, terus pergi ke kolam renang buat menyendiri. Dan—“

Belum sempat Tara menyelesaikan ucapannya, Devara berpaling lagi pada Ardina. Tara mendengus kecewa sekaligus lega karena tak perlu menjelaskan hal-hal tak penting.

“Sekali lagi gue tanya, ada apa lagi sama lo?”

Ardina memejamkan matanya mencari kekuatan, “Nggak ada apa-apa, dev.”

Tara memandangi kedua orang di depannya ini prihatin, terlihat dengan jelas mereka peduli satu sama lain. Meski terkadang ia juga heran dengan sikap Devara pada Ardina, kadang-kadang baik, kadang-kadang brengsek. Maksud Tara, semua orang tahu Devara mengancam para cowok yang dekat dengan Ardina untuk menjauhinya, entah karena alasan apa. Anehnya, cowok-cowok itu menurut.

“Lo selalu seperti ini, lo cemburu melihat gue sama Maya?”

Ardina menghembuskan napas lelah, perih di perutnya makin menjadi. Ia lapar, sejak sore tadi belum ada satu pun makanan yang masuk. Dan juga, Ardina tak berani menatap mata cowok di sampingnya ini. Devara berdiri tegap sambil bertolak pinggang, sesekali tangan kirinya mengurut alisnya frustasi.

“Oke, kalau lo gak mau jawab. Mulai detik ini, gue gak mau ikut campur lagi urusan lo.” 

Setelah berkata seperti itu, Devara menyambar handuk di tangan Tara dan berjalan keluar sebelum membanting pintu keras-keras. Tara menelan ludah, ditatapnya Ardina yang memandang pintu kamar dengan nanar.

“Lo sengaja melakukan ini pada diri lo sendiri?” tanya Tara, memberanikan diri.

Ardina tak menjawab, ia hanya menggulingkan tubuhnya memunggungi Tara. 

“Gue melakukan ini untuk mencari tahu, apakah Devara masih peduli sama gue?”

“Tapi itu membuat lo kehilangannya.”

Ardina mendesah, “Gue memang tidak pernah memilikinya, ra.”

Tara cukup terkejut mendengar pengakuan cewek aneh ini, dia pikir selama ini alasan Devara mengancam semua cowok yang pdkt dengan Ardina itu karena ia mencintainya. Ardina memang mencintai Devara, mungkin sangat mencintainya hingga berani berbuat nekad demi mendapatkan perhatiannya. Tetapi tidak dengan Devara, cowok itu hanya menganggap Ardina sebagai seorang sahabat, tak lebih. 

Ardina terlelap dalam balutan selimut tebal, dan Tara tak berani mengusiknya lagi dengan pertanyaan lain meskipun sebenarnya ia ingin bertanya lebih banyak lagi. ia memilih berjalan ke jendela dan melihat Fajar bersama Rangga serta gengnya. Di sisi lain halaman, Devara sedang duduk memangku tangan dan Sri di sebelahnya.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar