Dua Arah
Oleh Herni Nuria
Di ujung desa, ada sebuah balai kecil yang tak terpakai. Bangunannya tua dan kotor, bahkan atap yang dilapisi beton itu berlumut setebal tumit, tembok yang awalnya bercat putih kini dipenuhi graffiti tak jelas bentuknya dan coreng-moreng dengan jejak bola. Balai itu berada di antara anak sungai dan lapangan yang biasa digunakan anak-anak seusia Pepep. Remaja tiga belas tahun yang sedang asik bermain layangan di tengah lapang.
Bocah berkulit gelap itu memaki temannya karena memutuskan benang, alisnya berkerut-kerut marah. Namun ia tetap menarik-ulur layangan yang nyaris menabrak awan. Yusuf berlari ke pinggir lapangan, dia menggendong tas sekolahnya yang kumal oleh debu sambil terisak-isak. Ia sakit hati karena dimarahi temannya sendiri, padahal benang itu putus bukan karena disengaja. Akhirnya ia memutuskan duduk di teras balai bobrok yang tampak sudah tak kuat lagi menahan serangan lumut.
Sambil menonton Pepep dan ketiga teman lainnya adu layangan, Yusuf merebahkan diri. Kepalanya ditumpu dengan tas berisi baju seragam sekolah, buku catatan, dan botol minum yang sudah lecet di mana-mana. Nyaman sekali ia bisa memejamkan mata di tengah hari seperti ini, balai tempat yang teduh. Ada pohon nangka yang cukup besar di sampingnya untuk menghalangi sinar matahari, itu pula yang membuat atap balai ini berlumut hingga setebal tumit.
Dari kejauhan, Yusuf bisa mendengar Pepep teriak-teriak lagi, tetapi ia memilih untuk tiduran sebentar. Angin sepoi-sepoi membuat mata Yusuf makin berat.
“Pep, cup! Kesel iki, muleh yo,” ajak Aska yang sudah berkemas sedari tadi.
Pepep mendelik tiga meter darinya, “eh, sedelok engkas. Iki loh layanganku durung medon.”
“Ya wis, gunting ae benange cek cepet,” sahut Nanda sambil terkikik geli.
Usulan Nanda membuat Pepep berang dan mendengus, “ra iso ngono ra, ndakik ya nak kalah main.”
Aska dan Nanda duduk berselonjor kaki di belakang Pepep sambil mengamati layangan temannya ini kian mendekat. Sementara Anto menggulung benang sambil bercerita.
“Ndek ingi kangaku kepetok weden bapak,” ujar Anto.
Aska menyahut, “Loh, pak amu iku ijeh urip, to.”
“Iyo, wedene podo bapak,” kata Anto sambil bergidik, “padahal bapak ng masjid sholat magrib karo aku, kangaku malah mboncekno setan seng mirip bapak tekan omah.”
Bukannya bergidik ngeri atau merasa takut, Aska dan Nanda malah terbahak-bahak.
“Gene koe kabeh kok malah guyu?”
Tidak ada yang menyahut, Aska dan Nanda masih menertawakan Kakaknya Anto yang membonceng hantu. Sementara Pepep menyeret layangan dengan lunglai ke arah mereka. Wajahnya dipenuhi peluh dan lelah, sekejap saja ia duduk di dekat Anto dan meneguk air minum yang sering dibawanya ke sekolah.
“Eh, cup! Kuwe lapo kok meneng ae? Ke temper ya?” tanya Pepep.
Yang ditanya tak merespon, ia hanya melirik Pepep tanpa minat. Pepep sendiri tak terlalu mengambil pusing sikap temannya itu.
Matahari mulai beranjak turun, yang tadinya di ubun-ubun kini mulai menyoroti wajah kelima anak remaja ini dengan sengit. Mereka kompak memayungi wajah dengan tangan, layangan, buku dan topi. Nanda lebih parah, keringat di ketiaknya mulai banjir sampai ke perut, membuat Aska meringis. Meski bau menyebar sampai ke kampung sebelah, Aska tak berkomentar apa-apa, karena dia sendiri dibanjiri keringat dipunggungnya.
Rumah-rumah mulai terlihat padat, Anto berbelok ke samping kanan karena tiba lebih dulu ke rumahnya.
“To, ojo lali ingete bapakmu ana weden ning omah,” Nanda terkikik geli mendengar ejekan Aska.
Anto hanya mencebik, ia melepas sepatu belelnya dengan menginjak bagian tumit satu per satu kemudian masuk ke rumah. Melempar tas punggungnya serampangan, ia berjalan menghampiri lemari pendingin dan menemukan Okky jelly drink, yang sudah pasti itu bukan miliknya melainkan milik adiknya.
Sementara Aska dan Nanda sudah sampai di rumah, Pepep dan Yusuf beriringan pulang. Mereka tetangga dekat yang letak rumahnya lebih jauh dari Anto, Aska dan Nanda. Pepep merasa ada yang tak biasa dengan temannya ini, Yusuf memang pendiam, tetapi tidak sediam ini. Ia jadi merasa bersalah karena sudah marah-marah padanya tadi.
“Cup, aku njaluk ngapura ya wis ngamuk-ngamuk.”
Yusuf menoleh sekilas kemudian mengangguk.
Rumah mereka sudah terlihat, hanya dibatasi dengan gang sempit dan saluran air limbah. Sejak kecil mereka sudah bertetangga, tumbuh bersama, menjalani masa-masa kecil hingga saat ini bersama-sama. Sebelum masuk ke rumah, Pepep sempat berdiri untuk mengamati temannya itu dari belakang sejenak. Kemudian mengibaskan tangannya dan menaruh layangan di rak sepatu, sepatunya ia bawa ke kamar untuk di sembunyikan dari penglihatan emak, bapak, adik, nenek dan piaraannya, si dudung.
Selepas makan, mandi dan berganti pakaian, Pepep tidur siang. Memang itu kebiasaannya, tugas-tugas sekolah tak dia pedulikan, ia memilih memenuhi hasrat kantuknya sampai tuntas dan kenyang. Tidur dari jam dua siang sampai jam lima sore, sudah tak bisa mengingat kejadian apa saja yang sudah terjadi selama tiga jam ia tidur. Rasa lelah dan kekenyangan sehabis makan tadi, membuat tidur siangnya menjadi sangat seru. Ia diberi mimpi bertemu dengan seorang anak perempuan seusianya, namun yang membuatnya terkejut sampai terbangun dari tidurnya adalah wajahnya mirip sekali dengan Yusuf. Pepep jadi bingung, dia bermimpi bertemu perempuan atau mimpi bertemu Yusuf?
Dia mengucek mata sipitnya dan melirik jam dinding, sudah setengah enam. Sebelum emak berteriak dari dapur menyuruh berangkat ngaji, Pepep bergegas berganti pakaian dan menyambar selembar sarung dari tumpukan sarung lainnya. Emak sedang momong adik Pepep yang masih batita di ruang depan, sementara si dudung tidur meringkuk di bawah kaki emak.
“Ngaji seng bener, ngrungokake mrico gurune. Aja dadi nakal,” kata Emak tanpa menengok ke arahnya.
Pepep sendiri nyelonong ke luar tanpa memedulikan omongan emaknya. Ia anggap angin lalu saja pepatah emak, toh sudah setiap hari juga emak ngomong seperti itu. Terkadang Pepep heran sendiri emak begitu hafal kalimatnya dan tidak pernah lupa.
Sembari melimbai keluar dengan sarung yang dililitkan di lehernya, Pepep berteriak sekeras-kerasnya memanggil Yusuf. Tetapi yang muncul bukan orang yang ia cari, melainkan Alexa. Kakak laki-laki Yusuf yang berpenampilan seperti preman, rambutnya jabrik sebahu, pakaiannya hitam-hitam seperti dukun santet, koko hitam dan sarung hitam, peci hitam, berkulit hitam dan giginya pun ikut-ikutan hitam. Hanya bola matanya saja yang putih, bergerak-gerak liar di sore hari.
“Ucup ngendi mas?” tanya Pepep.
Alexa mengernyit saat menyadari kehadiran Pepep, “Loh, mikineng ra karo ko lunga ne. Wis mangkat sing mau.”
“Eh, aku nembet tangi iki mas,” heran Pepep, ia garuk-garuk tengkuknya.
“Lah miki kae mlaku karo sapa?”
Tiba-tiba saja tengkuk Pepep yang tak gatal tadi meremang, “Mbokan karo Aska ndeyan mas.”
Alexa tampak tak yakin, ia berjalan melewati Pepep yang berdiri mematung di depan pilar rumah keluarga Yusuf. Tanpa berbalik atau mengucapkan salam, dia seperti berjalan sembari memikirkan apakah yang tadi dia lihat betul-betul Pepep atau Aska?
Pepep bingung, tapi ia tak suka bingung seperti itu. Jadi ia memutuskan untuk mengikuti Alexa ke surau, untuk meyakinkan dirinya sendiri kalau yang tadi dilihat Alexa bukan dirinya, melainkan Aska atau mungkin Nanda, atau bisa saja itu Anto.
Di perjalanan menuju surau, Pepep berpapasan dengan orang yang ingin ia temui. Yusuf berjalan gontai dari arah lapangan tadi, masih mengenakan kaos oblong dengan tas gendong tersampir di bahu, kedua sepatunya dikalungkan di leher, persis seperti Pepep mengalungkan sarung saat ini. Melihat ekspresi temannya itu, Pepep yakin sekali Yusuf baru bangun tidur, ia masih terlihat sangat kotor dan dekil.
“Eh, cup. Apa kuwe ora menyang surau maneh?”
“Matamu!” dengus Yusuf, “wiwit awan aku ambruk ing balai. Sampeyan ninggal aku loh.”
“Loh, miki kita balik bareng-bareng cup.”
“Apane? aku nembe balik kie. Durung adus, weteng lesu, durung maning diomeli emak.”
Habis berkata seperti itu Yusuf melanjutkan perjalanan pulangnya, meninggalkan Pepep yang lagi-lagi kebingungan sendiri. Ia berjalan tanpa alas kaki, saat terlihat oleh Emak, yusuf lantas berpura-pura merapikan sepatunya di rak. Emak belum menyadari kalau anaknya pulang dua kali dalam keadaan bau, dekil dan kelaparan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar