Dear...
Pertama kali aku melihatmu, dikelilingi banyak teman, tertawa riang... pada saat itu aku sedang sendirian. Aku merasa hidupmu sangat sempurna...
Aku tidak tahu caranya menempatkan diriku berada diposisi sepertimu saat itu, karena aku tak mau terlalu naif dalam menjalin sebuah pertemanan apalagi dengan mereka yang tampak memujamu.
Ketika aku sedang memikirkan bagaimana caranya aku menghabiskan waktuku seorang diri dikelas, kamu datang membawa secarik kertas dan pulpen siap pakai, mencondongkan badan kemudian menyorongkan kertas dan pulpen itu padaku. Sebelum aku bertanya untuk apa, kamu memberitahuku apa yang harus aku lakukan dengan kertas dan pulpen itu.
Kamu bilang, membutuhkan nomorku untuk berjaga-jaga bila kamu tak masuk sekolah atau ada kabar penting yang bisa dibagi sebagai sesama teman sekelas. Oke... aku iyakan saja.
Dan kamu kembali ke mejamu yang dipenuhi teman-teman lamamu. Semenjak hari itu, aku tak berminat berteman denganmu. Aku lebih memilih berteman dengan orang yang dulu sempat menjadi ketua barack dan dia menceritakan segelanya tentangmu, tentang masalah yang kalian hadapi tanpa kuminta.
Mungkin... Iya, aku sudah bersikap tidak adil padamu... menghakimimu dengan pemikiran-pemikiran negative yang kudapatkan dari seseorang yang membencimu. Aku melakukannya karena aku tidak tau apa-apa tentangmu...
Suatu hari, kamu dikabarkan sakit... hingga berhari-hari...
Aku merasa jijik, karena seumur-umur aku tidak pernah sakit selama itu. Aku merasa kamu terlalu mendramatisir keadaan. Diperbudak perasaan. Pokoknya, aku tidak terlalu respect padamu.
Namun, suatu hari... kamu menghubungiku dengan mengirimi sebuah pesan singkat, aku lupa apa yang kau tanyakan. Yang pasti, aku merasa sebal karena kamu banyak tanya. Kupikir, aku tidak butuh teman lagi karena aku sudah memiliki empat sahabat yang sangat aku percayai, meski mereka tak di sisiku saat itu.
Namun lama kelamaan, otakku terus menerus dicekoki cerita-cerita yang saling bertubrukan dengan cerita-cerita yang dia ceritakan padaku tentangmu, hingga aku tak tau lagi siapa yang harus aku percayai. Pada akhirnya, aku harus bersikap netral...
Mencoba agar kalian saling memahami, namun tetap gagal karena dia berkeras kamu yang salah.
Waktu itu, aku melihatmu masuk kelas dalam keadaan menangis. Aku tidak tau siapa dan apa yang bisa membuatmu menangis, aku tak berani bertanya dan aku pun tak bisa hanya diam menontoni air matamu yang terus mengalir. Bagaimanapun, aku tau rasa sakit yang seperti apa yang bisa memancing air mata itu keluar dari sudut-sudut matamu...
Banyak yang bilang dan aku sering mendengarnya tanpa sengaja, bahwa kamu berhubungan dengan seorang cowok rumit yang kerap membuatmu menangis. Rasanya aku ingin sekali menghajarnya...
Aku menjadi dekat denganmu bukan karena kamu yang meminta, bukan pula karena kita membuat perjanjian... Apa yang aku lakukan murni karena aku ingin melindungimu, entah bagaimana caranya aku tak ingin melihatmu tersakiti.
Kamu berada di posisi orang yang sangat ingin kuhindari saat itu, dan aku berada di posisi orang yang ingin kau beri penjelasan. Aku mengerti apa yang kau rasakan, tapi dia tidak....
Dan aku menjadi paham tak ada gunanya menghindari orang yang sama sekali tak kubenci. Bergelung dengan rasa sakit membuat hatiku membeku, aku tak merasakan cinta pun tak merasakan sakit. Perasaan itu membuatku merasa hampa.
Ketika kita lulus... dan tidak bertemu dalam waktu yang sangat lama, bahkan sempat lost contact tak membuat hubungan kita menjadi canggung. Aku merasa kamu memang selalu ada.
Aku berusaha keras agar aku bisa membantumu, apapun itu. Semua yang aku lakukan semata-mata adalah untuk kebaikanmu, namun aku pun tak bisa memaksa jika pada akhirnya kamu tetap berada dalam pendirianmu.
Aku belajar untuk berani darimu.
Aku belajar untuk mengasihi orang lain darimu.
Aku belajar untuk sabar darimu.
Aku belajar tentang menghargai rasa sakit darimu.
Kamu menyembunyikan kesedihanmu dengan senyum penuh cinta. Sementara aku berdiri pongah dengan menebarkan aura kebencian pada setiap orang ketika aku merasa sedih.
Bila dilihat dengan orang lain, mungkin aku tak pantas bersisian denganmu. Orang baik sepertimu, tak pantas diperlakukan semena-mena, mungkin aku sudah salah menempatkanmu disana. Aku tak tau apakah memang ini yang tuhan inginkan?
Kita tak berhak mempertanyakan keputusan_Nya kan?
Aku hanya berharap semoga yang terjadi padamu hanya sementara dan segera berakhir. Aku tak ingin terus menerus didera rasa bersalah.
Maafkan aku, membiarkanmu menjalaninya sendirian...
Pertama kali aku melihatmu, dikelilingi banyak teman, tertawa riang... pada saat itu aku sedang sendirian. Aku merasa hidupmu sangat sempurna...
Aku tidak tahu caranya menempatkan diriku berada diposisi sepertimu saat itu, karena aku tak mau terlalu naif dalam menjalin sebuah pertemanan apalagi dengan mereka yang tampak memujamu.
Ketika aku sedang memikirkan bagaimana caranya aku menghabiskan waktuku seorang diri dikelas, kamu datang membawa secarik kertas dan pulpen siap pakai, mencondongkan badan kemudian menyorongkan kertas dan pulpen itu padaku. Sebelum aku bertanya untuk apa, kamu memberitahuku apa yang harus aku lakukan dengan kertas dan pulpen itu.
Kamu bilang, membutuhkan nomorku untuk berjaga-jaga bila kamu tak masuk sekolah atau ada kabar penting yang bisa dibagi sebagai sesama teman sekelas. Oke... aku iyakan saja.
Dan kamu kembali ke mejamu yang dipenuhi teman-teman lamamu. Semenjak hari itu, aku tak berminat berteman denganmu. Aku lebih memilih berteman dengan orang yang dulu sempat menjadi ketua barack dan dia menceritakan segelanya tentangmu, tentang masalah yang kalian hadapi tanpa kuminta.
Mungkin... Iya, aku sudah bersikap tidak adil padamu... menghakimimu dengan pemikiran-pemikiran negative yang kudapatkan dari seseorang yang membencimu. Aku melakukannya karena aku tidak tau apa-apa tentangmu...
Suatu hari, kamu dikabarkan sakit... hingga berhari-hari...
Aku merasa jijik, karena seumur-umur aku tidak pernah sakit selama itu. Aku merasa kamu terlalu mendramatisir keadaan. Diperbudak perasaan. Pokoknya, aku tidak terlalu respect padamu.
Namun, suatu hari... kamu menghubungiku dengan mengirimi sebuah pesan singkat, aku lupa apa yang kau tanyakan. Yang pasti, aku merasa sebal karena kamu banyak tanya. Kupikir, aku tidak butuh teman lagi karena aku sudah memiliki empat sahabat yang sangat aku percayai, meski mereka tak di sisiku saat itu.
Namun lama kelamaan, otakku terus menerus dicekoki cerita-cerita yang saling bertubrukan dengan cerita-cerita yang dia ceritakan padaku tentangmu, hingga aku tak tau lagi siapa yang harus aku percayai. Pada akhirnya, aku harus bersikap netral...
Mencoba agar kalian saling memahami, namun tetap gagal karena dia berkeras kamu yang salah.
Waktu itu, aku melihatmu masuk kelas dalam keadaan menangis. Aku tidak tau siapa dan apa yang bisa membuatmu menangis, aku tak berani bertanya dan aku pun tak bisa hanya diam menontoni air matamu yang terus mengalir. Bagaimanapun, aku tau rasa sakit yang seperti apa yang bisa memancing air mata itu keluar dari sudut-sudut matamu...
Banyak yang bilang dan aku sering mendengarnya tanpa sengaja, bahwa kamu berhubungan dengan seorang cowok rumit yang kerap membuatmu menangis. Rasanya aku ingin sekali menghajarnya...
Aku menjadi dekat denganmu bukan karena kamu yang meminta, bukan pula karena kita membuat perjanjian... Apa yang aku lakukan murni karena aku ingin melindungimu, entah bagaimana caranya aku tak ingin melihatmu tersakiti.
Kamu berada di posisi orang yang sangat ingin kuhindari saat itu, dan aku berada di posisi orang yang ingin kau beri penjelasan. Aku mengerti apa yang kau rasakan, tapi dia tidak....
Dan aku menjadi paham tak ada gunanya menghindari orang yang sama sekali tak kubenci. Bergelung dengan rasa sakit membuat hatiku membeku, aku tak merasakan cinta pun tak merasakan sakit. Perasaan itu membuatku merasa hampa.
Ketika kita lulus... dan tidak bertemu dalam waktu yang sangat lama, bahkan sempat lost contact tak membuat hubungan kita menjadi canggung. Aku merasa kamu memang selalu ada.
Aku berusaha keras agar aku bisa membantumu, apapun itu. Semua yang aku lakukan semata-mata adalah untuk kebaikanmu, namun aku pun tak bisa memaksa jika pada akhirnya kamu tetap berada dalam pendirianmu.
Aku belajar untuk berani darimu.
Aku belajar untuk mengasihi orang lain darimu.
Aku belajar untuk sabar darimu.
Aku belajar tentang menghargai rasa sakit darimu.
Kamu menyembunyikan kesedihanmu dengan senyum penuh cinta. Sementara aku berdiri pongah dengan menebarkan aura kebencian pada setiap orang ketika aku merasa sedih.
Bila dilihat dengan orang lain, mungkin aku tak pantas bersisian denganmu. Orang baik sepertimu, tak pantas diperlakukan semena-mena, mungkin aku sudah salah menempatkanmu disana. Aku tak tau apakah memang ini yang tuhan inginkan?
Kita tak berhak mempertanyakan keputusan_Nya kan?
Aku hanya berharap semoga yang terjadi padamu hanya sementara dan segera berakhir. Aku tak ingin terus menerus didera rasa bersalah.
Maafkan aku, membiarkanmu menjalaninya sendirian...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar